Opini

Program Girls Take Over: Racun Mematikan bagi Perempuan

Perempuan harus bercita-cita tinggi untuk memiliki ilmu untuk kebangkitan umat dan juga memiliki cita-cita untuk menjadi kaum ibu yang akan melahirkan generasi-generasi tangguh demi kembali tegaknya peradaban Islam yang mulia.


Oleh Saffanah Nurul
(Pelajar, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)

JURNALVIBES.COM – Dalam rangka memperingati Hari Anak Perempuan Internasional 11 Oktober, Menteri BUMN, Erick Thohir menyampaikan akan ada enam perempuan milenial yang menggantikan dirinya sebagai menteri selama sehari melalui program Girls Take Over. Program ini dimaksudkan memberi kesempatan bagi anak perempuan mengambil alih tugasnnya sebagai calon pemimpin masa depan atau disebut sebagai future leadership generasi muda.

Girls Take Over sehari menjadi pimpinan adalah kampanye global yang dilakukan setiap tahun secara serentak oleh plan International dan menjadi bagian dari rangkaian kampanye global untuk mewujudkan kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan di dunia kerja. Untuk mendukung hal tersebut, Menteri BUMN memilih beberapa perempuan muda berperan sebagai pemimpin/pimpinan BUMN bergengsi. Secara simbolik menunjukkan adanya dukungan kaum perempuan bisa memiliki kesempatan yang lebih terbuka lebih luas untuk meraih kepemimpinan di sektor publik baik di bidang ekonomi maupun di bidang lainnya.

Sebenarnya kampanye ini sejalan dengan yang ditetapkan lembaga dunia terkait pemberdayaan perempuan. Hal ini bisa dilihat di situs resmi badan dunia PBB, ada yang disebut sebagai International Girls Day atau Hari Anak Perempuan Internasional, sebagai perayaan tahunan yang diakui secara internasional untuk memberdayakan anak perempuan untuk memperkuat suara mereka.

Hari anak perempuan internasional ini juga untuk mengakui pentingnya kekuatan dan potensi anak atau remaja perempuan agar mendorong terbukanya lebih banyak lagi kesempatan bagi mereka. Jadi, ini salah satu jalan untuk menghilangkan tantangan berbasis gender di seluruh dunia. Seperti pernikahan anak, kesempatan belajar yang buruk serta adanya kekerasan termasuk kekerasan seksual dan diskriminasi.

Dari bahasan di atas ada tiga poin yang bisa dikritisi yakni, apakah benar persoalan pernikahan anak, kesempatan belajar yang buruk serta kekerasan dan diskriminasi, terjadi disebabkan adanya ketimpangan gender? Apakah benar karena cara pandang laki-laki maupun perempuan di tempat-tempat tersebut memang belum menyamakan laki-laki dan perempuan sebagai manusia? Jika itu terjadi akibat pandangan lama yang diadopsi bahwa perempuan itu bukan manusia yang sempurna. Perempuan itu terus-menerus dibandingkan dengan laki-laki. Apakah benar demikian seharusnya?

Jika ditarik kesimpulan pandangan kuno mengakibatkan ketimpangan gender, maka sangat salah. Kita harus melihat secara objektif persoalan tersebut. Misalnya pernikahan. Penyebabnya kebebasan berperilaku terjadi antara pemuda dan pemudi, seperti pergaulan bebas sampai terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Akhirnya terjadilah pernikahan yang disebabkan pergaulan bebas.

Di sisi lain, akses belajar yang tidak cukup terbuka bagi kaum perempuan akibat dari penerapan ekonomi kapitalis terus menghasilkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Jumlah orang kaya sedikit, tetapi kekayaannya makin hari makin melambung tinggi. Sedangkan mayoritas penduduk yang hidup dalam kemiskinan.

Sementara itu, layanan pendidikan yang direncanakan untuk dijamin secara berkualitas lagi gratis oleh negara, faktanya tidak terjadi karena pendidikan itu sangat besar biayanya. Negara pun lepas tangan, banyak menyerahkan kepada swasta. Maka, biaya pendidikan tinggi dengan tingkat kemiskinan tinggi akibatnya banyak anak-anak perempuan yang tidak bisa menikmati kesempatan belajar sesuai usianya.

Ternyata anak laki-laki juga mengalami hal yang sama. Artinya, bukan karena faktor ketimpangan gender, melainkan penerapan sistem ekonomi kapitalis yang menghasilkan kemiskinan dan yang memformat negara tidak memberikan layanan pendidikan berkualitas dan gratis.

Selain itu, banyak kasus kekerasan termasuk kekerasan seksual kepada anak-anak perempuan bukan hanya dipicu oleh pandangan salah bahwa kaum perempuan berbeda dengan kaum laki-laki yang selalu dijadikan objek seksual. Namun memang sistem sekuler ini memproduksi berbagai aspek yang menempatkan perempuan sebagai objek seksual untuk menghasilkan uang dengan mengeksploitasi mereka.

Misal, saat perempuan di industri media massa dan perdagangan, mereka ditempatkan di garda depan untuk mengiklankan sebuah produk agar menarik perhatian orang yang mau membelinya. Pembeli membeli bukan karena faktor kualitas dari barang tersebut, tetapi kepada daya tarik dari sensualitas atau hasrat seksual dari iklan.

Tentunya sistem sekuler liberal mendorong kaum perempuan membuka aurat di depan publik dan mendorong laki-laki untuk terus memproduksi dan mengkonsumsi tayangan-tayangan porno. Menikmati, melihat aurat, dan bahkan industri serta bidang ekonomi menempatkan perempuan sebagai alat untuk menghasilkan keuntungan.

Maka, solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan perempuan dengan pemberdayaan perempuan yang melibatkan lebih banyak lagi perempuan di dunia kerja, tenyata tidak bisa menyelesaikan masalah perempuan. Buktinya, jika perempuan mandiri secara ekonomi atau memiliki jabatan tinggi di tempat-tempat kerja. Kemudian, mereka akan lebih punya kemandirian untuk bersikap tidak tergantung kepada laki-laki. Nah, ini akan membuat laki-laki juga memiliki hambatan untuk memperlakukan kekerasan pada kaum perempuan. Benarkah demikan?

Sebenarya, fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Ketika anak perempuan didorong dengan program pemberdayaan perempuan, maka akan terus mengulang dan mereproduksi  lebih banyak  eksploitasi. Jadi, bukan pemberdayaan, tetapi eksploitasi atau women exploitation.

Pada hakikatnya, anak perempuan mestinya belajar untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk dirinya dan masyarakat. Ilmu itu akan menghantarkan dirinya untuk mendapat rida Allah Swt. Anak perempuan secara fitrah mempunyai naluri keibuan yang mestinya diberikan ilmu agar mereka menyiapkan bekal kelak untuk putra-putrinya nanti. Inilah merupakan sebuah posisi yang sangat bergengsi. Akan tetapi, hari ini mereka juga diracuni dengan orientasi perempuan bisa lebih berharga, lebih berkontribusi apabila memiliki karier yang tinggi. Bahkan hari ini, sebagai ibu rumah tangga itu dianggap hal memalukan yang menunjukkan ketidakpercayaan atau kelemahan.

Oleh karena itu, sebagai Muslimah harus mengambil Islam dalam semua aspek kehidupannya. Peran kaum perempuan telah ditetapkan oleh Allah Swt. Perempuan berkiprah di bidang politik bukan menjadi pemimpin lembaga politik, pemimpin daerah, dan lainnya, tetapi mendidik putra-putrinya memiliki kemampuan yang tajam menganalisa dan kesadaran politik. Nantinya putra-putrinya menjadi generasi yang bisa memimpin masyarakat. Keterlibatan perempuan di bidang politik dengan menasihati penguasa agar taat kepada Allah Swt. dan memperhatikan aspirasi rakyat.

Selain itu, Islam melarang perempuan menjadi pemimpin dalam urusan kekuasaan. Rasulullah Saw. bersabda “Tidak akan beruntung suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita.” (HR Bukhari no 4225).

Dengan demikian, program Girls Over Day yang merupakan bagian dari pemberdayaan perempuan hanya menjadi racun mematikan bagi umat Islam. Seharusnya racun ini tidak boleh disebarluaskan dan harus dibuang. Perempuan harus bercita-cita tinggi untuk memiliki ilmu untuk kebangkitan umat dan juga memiliki cita-cita untuk menjadi kaum ibu yang akan melahirkan generasi-generasi tangguh demi kembali tegaknya peradaban Islam yang mulia.

Dahulu, ketika Islam masih diterapkan secara kafah di dalam sebuah sistem khilafah Islamiyah, tentu anak perempuan akan mendapatkan pendidikan terbaik, dengan kurikulum terbaik dan fasilitas sekolah terbaik. Sehingga mereka memang benar bisa memberdayakan diri mereka untuk kebaikan umat dan keluarganya. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button