Tanpa Daulah, Muslim Minoritas Tertindas

Paham nasionalisme telah membuat sekat dengan sesama umat muslim. Umat muslim tidak lagi memiliki rasa satu tubuh. Merasakan ketika ada negeri muslim mengalami kezaliman, maka umat muslim di negara lain akan merasakan kezaliman itu.
Oleh Meitya Rahma
JURNALVIBES.COM – Minoritas selalu menjadi terjajah jika minoritas itu adalah umat muslim. Namun berbeda jika minoritas itu adalah nonmuslim. Tentunya mereka para pegiat moderasi, pegiat HAM selalu ada dibalik golongan minoritas ini. Seperti apa yang terjadi di India pada beberapa waktu yang lalu.
Seperti yang sudah diberitakan di media bahwa India kembali diambang konflik sosial. Hal ini terkait isu kebencian terhadap salah satu agama, bahkan ada seruan melakukan genosida umat muslim di sana oleh kelompok ekstremis Hindu (CNBC, 13/1/22)
Seruan genosida umat muslim terjadi pada satu konferensi di India bulan Desember lalu. Di mana ekstremis Hindu menggunakan pakaian khas keagamaan menyerukan untuk membunuh muslim dan ‘melindungi’ negaranya. Meski respon hampir seluruh warga di India marah besar karena seruan itu. Namun banyak yang melihat pemerintah kurang menanggapi atau melakukan aksi penangkapan atas seruan itu. Seruan itu memperburuk iklim hubungan umat Islam di negara itu.
Sejak Partai Nasionalis Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin petahana Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa, diskriminasi dan penganiayaan agama dilaporkan kerap terjadi. Di negara bagian Haryana, yang juga dikendalikan BJP, warga Hindu dilaporkan menghentikan umat Islam dari salat Jumat. Gurugram, sebuah kota satelit yang berbatasan dengan ibu kota nasional sayap kanan Hindu berulang kali melarang muslim untuk beribadah di ruang publik. Pada bulan November, kelompok garis keras Hindu membakar rumah mantan menteri luar negeri muslim, Salman Khurshid. Pasalnya, ia membandingkan jenis nasionalisme Hindu yang berkembang di bawah Modi dengan “kelompok ekstremis” seperti ISIL (ISIS) (CNBC, 13/1/22).
Mahkamah Agung India akan menyelidiki dugaan pernyataan provokatif oleh para pemimpin agama Hindu pada Desember 2021. Menurut pengaduan polisi, dalam sebuah pertemuan tertutup di Haridwar, para pemimpin agama berpakaian safron menyerukan umat Hindu agar mempersenjatai diri untuk sebuah ‘genosida’ terhadap muslim. Sementara itu, polisi Uttarakhand mengatakan mereka menginterogasi para tersangka, tetapi sejauh ini tidak ada penangkapan yang dilakukan (Republika, 13/1/22).
Tidak adanya tindakan cepat dan hukuman keras telah membuat para ekstremis Hindu semakin berani. Banyak yang menilai hal ini sebagai dukungan diam-diam oleh pemerintah. Beberapa tindakan ekstrim terhadap kaum minoritas telah membuat kaum muslim tertindas.
Jika si minoritas adalah muslim, di manapun nasibnya akan seperti ini. Padahal Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Di saat moderasi beragama deras disuarakan di negeri ini, di luar sana (India) Islam menjadi yang tertindas. Beginilah nasib Islam saat ini. Setelah daulah khilafah hancur, tiada lagi yang dapat melindungi kaum muslim.
Paham nasionalisme telah membuat sekat dengan sesama umat muslim. Umat muslim tidak lagi memiliki rasa satu tubuh. Merasakan ketika ada negeri muslim mengalami kezaliman, maka umat muslim di negara lain akan merasakan kezaliman itu. Jika para penguasa India saat ini bertindak zalim kepada kaum muslim, maka lihatlah sejarah negaranya.
Ketika Islam menjadi penguasa di wilayah bagian India. Saat itu orang Hindu dan agama lain tetap dihormati, diberikan hak-haknya. Dinasti Mughal, kerajaan Islam ini yang pernah berkuasa di wilayah India. Pada masa pemerintahan Akbar Khan, dinasti ini mengalami puncak kejayaan. Toleransi diberlakukan dengan sangat baik pada masa Akbar Khan. Semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan oleh perbedaan etnis dan agama. Maharaja Akbar memang sangat menghargai keberagaman beragama dalam kehidupan di Kesultanan Mughal. Prinsip yang dipegangnya adalah jangan mempersulit hidup rakyat, termasuk mereka yang bukan pemeluk Islam.
Tentunya kebijakan Sultan Akbar Khan juga merujuk pada tuntunan Al-Qur’an. “Lakum dinukum Waliyadin”. Inilah wujud toleransi sebenarnya dalam Islam. Ketika Islam menjadi Mayoritas tidak ada sejarah yang mencatat bahwa ada tindak kesewenang-wenangan terhadap kaum minoritas.
Dengan demikian ketika syariat Islam menjadi pedoman negara dalam mengatur hubungan sosial, peribadatan, keyakinan/agama tidak akan zalim terhadap rakyatnya. Hilangnya perisai umat selama kurang lebih satu abad ini menjadikan umat Muslim menjadi obyek kezaliman para penguasa di negerinya masing-masing.
Sekat nasionalisme membuat rasa empati kepada Muslim di negara lain menghilang. Jika ada rasa empati pun hanya bisa mengirim bantuan logistik, kesehatan, membantu infrastuktur. Hanya itu saja saat ini yang bisa dilakukan, tak ada seruan angkat senjata.
Negara Muslim tidak mengirimkan angkatan militer ke negeri muslim yang sedang diperangi. Padahal jika negeri negri muslim bersatu pastilah akan menggentarkan kaum kufur yang berbuat zalim kepada negeri muslim. Sesuatu yang dirindu oleh umat ketika negri muslim bersatu. Saling melindungi satu dengan yang lain tanpa berbuat zalim kepada umat yang lain. Di bawah daulah Islam umat Muslim akan aman sejahtera. Nonmuslim (Yahudi, Nasrani) juga dijamin hak-haknya, diberikan perlindungan.
Semoga akan segera hadir masa dimana daulah memimpin dengan menerapkan syariat Islam. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






