Sri Lanka: Potret Kebangkrutan Dunia Ketiga dalam Jerat Kapitalisme

Sistem ekonomi Islam telah terbukti mampu mengatur semua sumber kekayaan yang ada dengan baik. Kepemilikan individu dan umum dipisah sehingga tidak tumpang tindih.
Oleh Hani
JURNALVIBES.COM – Dilansir dari ngopibareng.id (10/07) krisis berkepanjangan terjadi di Sri Langka sehingga negara ini disebut bangkrut. Rakyatnya harus mengantre berhari-hari untuk mendapat bahan bakar. Berita terbaru, perdana menteri dan presidennya berjanji akan mundur dari posisi mereka. Krisis di Sri Lanka ini sangat serius. Negara tetangga India itu memiliki utang sebesar USD51 miliar dan tak mampu membayar bunga dari pinjamannya yang sebagian besar dikucurkan oleh IMF.
Kini negara itu tak memiliki cukup uang untuk mengimpor bahan bakar minyak, susu, gas LPG, hingga kertas toilet. Belum lagi masalah korupsi yang semakin membuat rumit masalah ekonomi. Mereka memperkaya diri sendiri dan justru memperburuk perekonomian. Krisis makin parah sehingga rakyat tak mampu lagi menahan beban, akhirnya untuk meluapkan emosi, massa yang jumlahnya ribuan menyerbu kediaman presiden.
Inilah satu negara ketika pejabatnya banyak korupsi dan mismanajemen dalam pengelolaan anggaran yang dimilikinya. Pendapatan sedikit tetapi salah kelola, salah alokasi, yang pada akhirnya negara itu mengalami kekurangan. Bukan hanya bahan bakar tetapi minyak, pangan dan listrik juga hancur-hancuran. Hal ini juga merupakan peringatan bagi negara-negara yang salah kelola dengan menaikkan harga barang-barang ditengah pendapatan rakyatnya yang sangat tidak memadai.
Inilah potret buruk kapitalisme. Sistem yang bobrok menghasilkan tatanan hidup yang bobrok. Persoalan ini sejatinya diciptakan oleh sistem demokrasi kapitalis. Kapitalisme lah yang menciptakan penjajahan ekonomi dan politik di berbagai negeri. Negara-negara yang bangkrut dan jatuh miskin sejatinya bukan karena tidak memiliki SDA, tetapi lantaran SDA-nya dikuasai negara kapitalis dengan jalan intervensi, investasi, dan eksploitasi. Begitulah cara kerja kapitalisme menjerat negara hingga membuatnya sekarat.
Jika persoalannya adalah sistem dan ideologi kapitalisme maka Islam sebagai sistem kehidupan juga memiliki solusi sistemis dalam menghadapi krisis. Yaitu pembagian kepemilikan secara benar. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga, yaitu: kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.
Pembagian ini sangat penting agar tidak terjadi dominasi ekonomi, yakni hegemoni pihak yang kuat menindas yang lemah. Dominasi itu terjadi karena penguasaan sektor kepemilikan umum yang tidak semestinya dimiliki perseorangan atau perusahaan swasta.
Lalu pengaturan pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar? yaitu pengelolaan yang bertumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil, bukan nonriil. Dengan begitu, krisis ekonomi tidak akan terulang lagi.
Yang terakhir adalah distribusi harta kekayaan oleh individu, masyarakat, dan negara.
Sistem ekonomi Islam akan menjamin bahwa seluruh rakyat Indonesia akan terpenuhi semua kebutuhan asasinya (primer). Sistem ekonomi Islam juga menjamin bagi seluruh rakyatnya untuk dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder maupun tersiernya.
Sistem ekonomi Islam telah terbukti mampu mengatur semua sumber kekayaan yang ada dengan baik. Kepemilikan individu dan umum dipisah sehingga tidak tumpang tindih. Sumber daya milik umum dikelola negara dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk jaminan kesehatan, kebutuhan pokok (ekonomi) yang diberikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Dengan begitu Kesejahteraan akan terwujud di tengah masyarakat tanpa terkecuali. Negara juga akan mandiri tidak bergantung kepada utang luar negeri, sehingga bisa menjadi negara yang berdaulat. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






