Opini

Hepatitis Misterius, Virus Apa Lagi?

Cara Islam menyelesaikan pandemi tidak hanya memberikan pengobatan gratis sebagai upaya kuratif. Namun juga melakukan upaya preventif, mengecek semua masyarakat yang bergejala, memisahkan yang sakit dan yang sehat. Juga melakukan promosi dan edukasi kesehatan agar masyarakat dapat mengetahui dan menjalankan perilaku hidup sehat.


Oleh Hida Muliyana, S.K.M.
(Pemerhati Kesehatan Masyarakat)

JURNALVIBES.COM – Di Beijing, pandemi Covid-19 kembali menyusahkan Cina. Negara Tirai Bambu itu berjibaku melawan wabah Covid-19. Ibu kota Cina, Beijing, menutup puluhan stasiun metro dan rute bus pada Rabu (4/5) sebagai upaya menghentikan penyebaran Covid-19. Sekaligus menghindari nasib seperti Shanghai saat jutaan penduduk telah dikunci ketat selama lebih dari satu bulan.

Bukti baru telah muncul bahwa pertempuran tanpa kompromi Cina melawan virus Corona, yang diyakini telah muncul di pasar di kota Wuhan pada akhir 2019, merusak pertumbuhan ekonomi dan merugikan perusahaan internasional yang berinvestasi di sana. (Tribunnews, 5/5/2022)

Sementara itu, masyarakat Indonesia kini dihadapkan ancaman kesehatan baru. Pemerintah mengimbau warga Indonesia waspada terhadap penyakit hepatitis misterius yang menyerang anak-anak. Imbauan pemerintah ini diumumkan setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, meninggal dunia dalam waktu yang berbeda dengan rentang dua pekan terakhir hingga 30 April 2022. Ketiga pasien merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Adapun gejala yang ditemukan pada pasien-pasien ini adalah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran. (cbncindonesiasia, 8/5/2022)

Belum usai diterjang pandemi Covid-19, muncul lagi penyakit hepatitis misterius yang kini sudah berstatus KLB (Kejadian Luar Biasa) yang diumumkan langsung oleh WHO. Jumlah laporan kasus hepatitis terus bertambah, kabarnya ada lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara. Pemeriksaan labolatorium di luar negeri telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut.

Munculnya hepatitits misterius yang mengancam jiwa anak, serta Covid-19 yang juga belum usai hingga saat ini menunjukkan ketidakmampuan sistem kapitalisme yang diterapkan negara dalam menangani kasus kesehatan. Alasan ekonomi selalu menjadi pertimbangan setiap ada kebijakan yang diambil. Informasi ini pun cukup membuat masyarakat panik dan khawatir karena virus ini mengancam nyawa anak-anak. Ada juga yang berasumsi bahwa gejala ini mirip Covid-19. Apalagi aktivitas sosial khususnya sekolah tatap muka bagi anak sudah mulai diterapkan.

Hal ini berdampak pada tindakan sebagian masyarakat. Terutama yang antivaksin dapat mengambil kesempatan, memanfaatkan kekisruhan untuk kepentingan pribadi atau kelompok yang dapat mempengaruhi program kesehatan. Ada juga yang panik berlebihan namun tidak memiliki kemampuan untuk pergi ke dokter, akhirnya mengkonsumsi obat-obatan di luar dari resep dokter. Semua terjadi karena informasi yang didapat tidak merata, tidak utuh dan dicampur dengan info-info tidak benar.

Untuk itu penting bagi sebuah negara dalam menjaga informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Negara punya tanggung jawab untuk pengambil peran agar tidak menjadi kontra produktif. Bukan informasi yang berlebihan, namun informasi yang membawa rasa aman dan pengetahuan agar masyarakat bisa cerdas dalam mengambil sikap.

Sayangnya hal tersebut tidak terjadi dalam sistem kapitalisme, sistem kapitalisme sama sekali tidak menjadikan nyawa sebagai hal utama yang harus diselematkan. Jika dibandingkan dengan sistem Islam, sangat jauh berbeda.

Islam memandang nyawa manusia sangat berharga dan harus dijaga. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah Swt. dalam terjemahnya QS. Al Maidah ayat 32 yang artinya: “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya dan barangsiapa ya g memelihara kehidupan seorang manusia, maka dia seolah-olah telah memelihara kehidupan manusia semua…”

Ketika virus masuk dalam suatu negeri dan mengancam jiwa masyarakatnya, tentu ini adalah masalah yang yang serius. Negara dalam sistem Islam akan berupaya agar virus tidak menyebar semakin luas dengan menerapakn lock down, juga memberikan layanan kesehatan gratis, fasilitas yang lengkap dan dapat dijangkau oleh masyarakat sampai ke pelosok negeri.

Tidak hanya memberikan pengobatan gratis sebagai upaya kuratif namun juga melakukan upaya preventif, mengecek semua masyarakat yang bergejala, memisahkan yang sakit dan yang sehat. Juga melakukan promosi dan edukasi kesehatan agar masyarakat dapat mengetahui dan menjalankan perilaku hidup sehat. Selain itu, pemimpinnya pun mengajak masyatakatnya untuk bermuhasabah diri meninggalkan kemaksiatan dan bertaubat agar Allah memberikan pengampunan dan pertolongan. Menguatkan keimanan kepada masyarakat yang terdampak kasus bahwa semua penyakit datangnya dari Allah. Rida akan ketetapan Allah, dan sabar menjalani masa sakitnya.

Itulah upaya yang dilakukan dalam sistem Islam sebgaimana yang dulu pernah dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab saat negeri Islam didera wabah.

Bukankah sudah seharusnya Nikita bercermin kepada sistem pemerintahan pada masa itu? Sistem yang mampu menyelesaikan pandemi secara tuntas. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button