Sihir Potter, MCU, Potter War

Beredarnya film-film Barat dengan berbagai genre yang dengan mudah merusak pemikiran generasi muda tentu tidak bisa kita hentikan sendiri, butuh adanya tiga pilar yang mampu menghentikan hal itu, yakni adanya individu yang bertakwa, masyarakat yang peduli dan negara yang menerapkan sistem Islam. Sebab Islamlah solusi atas semua permasalahan hari ini.
Oleh Anindita Ekaning Saputri
(Alumnus UHAMKA)
JURNALVOBES.COM – Media sosial dan generasi muda hari ini dihebohkan dengan maraknya film-film yang datang dari Barat dan juga dari negara lain. Menonton film seolah-olah menjadi kebutuhan, bahkan akan menjadi stres dan merasa tertinggal jika tidak menonton film yang sedang hype di tengah masyarakat. Banyaknya stigma yang muncul menjadikan orang yang tidak begitu suka menonton seakan dipaksa untuk menonton, khawatir dibilang tidak gaul, tidak trendi, tidak update, dan lain sebagainya.
Alhasil, orang yang mulanya menonton film hanya untuk hiburan bahkan sekadar ikut-ikutan, saat ini justru berubah menjadi kebutuhan yang berakhir menjadi gaya hidup di tengah masyarakat. Tidak jarang juga kita temui bahkan teman-teman kita rela mengeluarkan berapa pun biayanya yang penting bisa menonton tokoh idolanya atau hanya sekadar antusias karena alur ceritanya. Punya uang atau tidak punya uang pokoknya harus menonton film, begitulah pemikiran generasi saat ini. Seolah terhipnotis dengan sesuatu yang dikira nyata padahal hanya cerita yang dibuat-buat.
Dilansir dalam kompas.com, (1/1/ 2022), telah rilis film Harry Potter: Return to Hogwarts, dan tentu dinanti-nanti oleh para penggemar Harry Potter, apalagi film ini dibuat sebagai perayaan 20 tahun sejak dirilisnya film Harry Potter seri pertama. Selain itu, MCU (Marvel Cinematic Universe) juga baru merilis film baru yang cukup menghebohkan dan masuk trending di Twitter yakni Spiderman No Way Home. Film ini dibuat juga dengan latar yang menghubungkan beberapa seri Spiderman sebelumnya, hal inilah yang justru menarik perhatian para penggemarnya.
Tidak akan mungkin suatu film bisa disukai banyak orang dari penjuru dunia jika yang disajikan hanya kisah yang biasa saja. Harry Potter bisa dikenal banyak orang sebab diawali dengan kesumpekkan yang dialami Jk. Rowling sebagai penulis dari novel Harry Potter. Ide cerita yang menyuguhkan tentang sihir ini mampu menarik banyak kalangan, tidak hanya remaja namun semua kalangan bisa menikmati tanpa batasan usia. Kisah yang disajikan, alur tempat, alur waktu, properti, karakter, semua yang ada mampu menghipnotis semua penonton dan pembaca dari film dan novel bertajuk Harry Potter ini.
Hal ini menyebabkan Harry Potter ini sukses mendunia, tidak pernah membuat penikmatnya merasa bosan dengan kisah yang dihadirkan. Justru para penikmatnya meniru, mengaplikasikan bahkan membawa kisahnya dalam mimpi atau dunia nyata: mulai dari memakai pakaian sihir, tongkat sihir, mantra, dan lainnya. Semua diburu oleh para penggemarnya.
Di samping itu MCU pun tak kalah, terinspirasi dari tempat asal ia diciptakan, yakni Amerika Serikat, dengan tingginya kasus kriminalitas dan kejahatan di Amerika membuat mereka menciptakan karakter-karakter fiksi pahlawan yang mampu melindungi manusia untuk menyelamatkan ketika ada kejahatan dan lain sebagainya. Contohnya Spiderman, diadaptasi pertama dari komik dengan judul serupa pada 2002, kisah yang bagi kita luar biasa, keren dan cenderung tidak real ini membuat penggemarnya berdecak kagum sehingga menyukainya.
Dari hal ini lah digeneralisasi bahwa tidak hanya Amerika yang butuh Hero namun dunia juga butuh Superhero seperti itu.
Dari satu film inilah akhirnya Marvel mengeluarkan Superhero lainnya. Boom, semuanya pun booming, dan yang paling menggetarkan ketika Avanger And Game dirilis, dari sana Marvel mendapat keuntungan lebih besar dengan nilai mencapai 39 triliun rupiah, sungguh bukan angka yang sedikit.
Di sisi lain, masih melekat pula dalam diri kita pada 2000-2001, Harry Potter sukes dengan kisah yang menarik antusias semua kalangan. Tidak hanya di Indonsia, tapi dunia, semua menanti tayangannya. Padahal tahun itu, sosial media tidak seramai saat ini, sejumlah fans yang memiliki akses ke internet menghimpun diri mereka dan membuat website khusus untuk idola mereka.
Di sinilah terjadi WAR yang dikenal dengan julukan Potter War, hal ini terjadi antara penggemar dengan perusahaan warner bros, sebuah perusahaan besar yang sudah menghasilkan film-film besar.
Warner bros ini merasa dirugikan dan tidak dapat keuntungan juga merasa dimonopoli hingga Warner Bros membuat surat ancaman karena dianggap menimbulkan kebingungan karena ada lebih dari satu web untuk promosi film.
Di Amerika sendiri ada modal produksi dan modal distribusi, distribusi itu yang utama. Pada distribusi ini ada terjadi akumulasi kapital dan kekuasaan. Di situlah komersial dan kapitalisasi terjadi dan akhirnya membentuk cara pandang atau imperialisasi. Tak hanya itu permasalahan berbuntut panjang, hingga pada hak cipta dan juga copy right.
Jelas sekali dari fakta yang kita dapat bahwasannya film bagi kapitalis hanya digunakan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan nilai agama.
Berbeda dengan Islam, industri perfilman harus mengarahkan umat untuk mengenal Islam lebih dalam, termasuk digunakan untuk dakwah dan hal lain semacamnya.
Sebab melalui tontonanlah pola pikir, gaya hidup dan pemikiran seseorang berubah. Mungkin kita mulanya hanya menonton untuk hiburan tapi lama-lama menonton jadi kebutuhan sampai terbesit dibenak kita jika tidak nonton film rasanya tidak hidup, padahal itu bentuk atau cara Barat mempengaruhi kita agar skala prioritas kita diubah, yang harusnya kita produktif untuk agama Allah justru sebaliknya.
Dari hal ini jelas, bahwa Islam dan politik tidak dapat dipisahkan. Inilah sihir, tipu daya Barat dengan memainkan dunia perfilman. Saat kita lelah, butuh refresing, dan bosan, muncullah pemikiran untuk nonton film. Padahal ini justru menjauhkan kita dari kewajiban yang sebenarnya.
Padahal itu bukan jadi penilaian positif di hadapan Allah, pun itu tidak menambah amal kebaikan kita. Dari sinilah kita harus berhati-hati pada apa yang kita tonton.
Kita lihat anak sekecil Sayyidina Ali yang baru berusia tujuh tahun tapi sudah memutuskan dirinya untuk masuk Islam, pun kita lihat sahabat Nabi yang masuk Islam ketika sudah dewasa. Hal itu harusnya menjadikan kita semangat dan beralih untuk mengaji dan mengenal Islam, menolong agama Allah, juga menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah turunkan pada kita.
Mulailah mengkaji Islam, karena ketika sudah mengaji, maka perkara seperti itu sudah seharusnya tidak menjadi hal yang pokok bahkan penting untuk kita. Skala prioritas kita pasti akan bergeser dan berubah sebab kita sudah tahu mana yang penting untuk kehidupan setelahnya dan tidak. Bentuklah karakter kita menjadi karakter-karakter para sahabat dan shahabiyah dan menyenangi kisah-kisah para sahabat dan kisah-kisah orang solih bukan justru sebaliknya.
Beredarnya film-film Barat dengan berbagai genre yang dengan mudah merusak pemikiran generasi muda tentu tidak bisa kita hentikan sendiri, butuh adanya tiga pilar yang mampu menghentikan hal itu, yakni adanya individu yang bertakwa, masyarakat yang peduli dan negara yang menerapkan sistem Islam. Sebab Islamlah solusi atas semua permasalahan hari ini. Karena Islam rahmatan lil alamin, rahmat untuk seluruh alam, tidak hanya manusia, namun semua yang ada di muka bumi ini. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com





