Sadar Bahaya, Segera Kenalkan Ananda dengan Agama

Pemikiran Islam yang diajarkan kepada anak-anak akan membentuk mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Apalagi jika anak tersebut laki-laki. Mereka akan terdidik dan tumbuh menjadi manusia kekar yang senang melindungi, mengayomi, dan tipe pemimpin yang pandai dalam mengambil keputusan.
Oleh Shafayasmin Salsabila
(Revowriter Indramayu)
JURNALVIBES.COM – Indramayu gempar. Tersiar kabar, seorang siswi kelas 6 Sekolah Dasar di Kedokanbunder Wetan, menjadi korban kekerasan seksual pada sabtu malam (2/11), di sebuah rumah kosong. Tak tanggung-tanggung, pelakunya lebih dari empat orang. Dikabarkan mereka adalah sekumpulan anak jalanan, kenalan korban, yang berasal dari tetangga desa. Terlebih dahulu, korban dicekoki minuman keras (tribuncirebon, 11/12/2023).
Susah payah orang tua, apalagi ibu, tak terkira dalam membesarkan anak. Sembilan bulan dalam kandungan, melalui proses melahirkan yang menyakitkan, berlanjut selama dua tahun menyusui, dan seterusnya. Berawal dari bayi, lalu tumbuh berkembang sampai bersekolah. Dari hitungan hari, menuju bulan, dan tahun. Lalu sekejap mata, ananda tercinta yang seragam sekolahnya saja masih merah putih, sudah direnggut paksa kehormatannya. Orang tua mana yang tak terluka. Warganet mana yang tidak geram membaca beritanya.
Terlepas dari detail kejadiannya seperti apa, ada hal lain yang perlu dipikirkan bersama. Kekejian yang menimpa siswi berusia 13 tahun ini, dilakukan oleh empat bahkan setelah ditelusuri ada 11 anak lelaki. Para pelakunya pun rata-rata di bawah usia 20 tahun. Baik korban dan pelaku, sama-sama masih menyandang gelar “anak”. Jika boleh dikatakan, masa depan korban dan pelaku, sebenarnya hancur bersamaan, tanpa terkecuali. Korban akan merasakan trauma mendalam, dan pelakunya akan menghabiskan masa muda di balik jeruji besi. Hanya karena apa yang diduga oleh mereka sebagai kesenangan sesaat, dengan berbuat jahat.
Jika sedikit menyoroti dari sisi para pelakunya. Mereka pun anak-anak lelaki yang pastinya memiliki keluarga juga. Tak mungkin hadir ke dunia begitu saja. Tak ada orang tua, terutama seorang ibu, yang terlintas di benaknya, untuk mengandung calon pelaku tindak kriminal. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dipenuhi kebaikan dan membawa kebahagian bagi keluarga, bangsa, dan agama.
Tapi keinginan sekadar keinginan. Tak jarang orang tua yang terpaksa lenyap dari netra anak-anaknya. Keluarga utuh, seperti mimpi di siang bolong bagi anak-anak broken home. Dengan beragam sebab, hubungan anak-orang tua, rantas. Tak ada asap bila tak ada api. Anak-anak yang mengklaim dirinya sebagai anak punk, atau anak-anak lain yang akrab dengan jalanan, jarang pulang ke rumah, atau bahkan tak lagi memiliki rumah tempat pulang, sejatinya mereka tidak tercipta begitu saja.
Lingkungan tempat hidup, tidak berpihak pada mereka. Sehingga mereka berkumpul mencari kawan sefrekuensi yang sama-sama diabaikan, dan kering dari perhatian. Akhirnya mengakrabi satu maksiat menuju maksiat berikutnya. Apakah lantas serta merta telunjuk diarahkan kepada ayah-ibunya? Belum tentu juga, sebab kalau pun kedua orang tua berpisah, atau salah satunya harus pergi jauh untuk mencari nafkah, semata dalam rangka pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang terus meroket, serba naik harganya.
Lalu, seumpama keluarganya masih utuh, ada ayah dan ibu, PR berikutnya adalah sejauh mana pemahaman agama ditanamkan kepada ananda. Karena serentetan kasus-kasus kenakalan remaja, atau bahkan sampai tindak kriminal, pada umumnya, berangkat dari kekosongan pemahaman agama pada diri anak, sehingga terjebak pada pelanggaran hukum syara’.
Padahal sejak dini, anak-anak punya kebutuhan untuk ditanamkan konsep-konsep Islam, sebagai cahaya kelak dalam perjalanan hidupnya. Cahaya membuat mata tidak kehilangan fungsinya. Sehingga mampu mengindera sekitar. Melihat lika-liku jalan, duri, bebatuan, bahkan jurang. Dengan cahaya semuanya menjadi nampak jelas. Sebaliknya, tanpanya, bergerak dan berjalan penuh keragu-raguan, kegamangan, ketidakjelasan, dan bisa berujung pada kebahayaan.
Cahaya itu datang dari Allah lewat ajaran agama Islam. Terkandung di dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah Pelindung orang-orang yang beriman dan Allah jua lah yang mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sehingga untuk mendidik dan mengarahkan anak pada petunjuk agama, dimulai dari akidah sebagai fondasinya. Dan berlanjut kepada konsekuensi logis berupa syariat, atau aturan dari Allah seputar perbuatan seorang hamba.
Maka pemikiran-pemikiran Islam yang diajarkan kepada anak-anak akan membentuk mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Apalagi jika anak tersebut laki-laki. Mereka akan terdidik dan tumbuh menjadi manusia kekar yang senang melindungi, mengayomi, dan tipe pemimpin yang pandai dalam mengambil keputusan.
Ditambah lagi jika anak-anak telah diinput program muraqabahnya. Sehingga dalam segala kondisi, tempat, dan waktu, dia senantiasa merasa diawasi Allah. Takut bermaksiat, karena akan datang hari ketika semua perbuatan dihisab. Akidah Islam akan mengarahkan mereka kepada pengayaan diri, produktivitas waktu muda, dengan meraih sebanyak-banyaknya karya, guna mengunduh pahala. Bukan malah banyak menganggur, dan berpikir ngawur.
Untuk itu, jauh-jauh hari sebelum siapa pun memutuskan untuk menjadi orang tua, pelajarilah terlebih dahulu tsaqafah Islam. Dekatilah kajian-kajian. Bekal untuk mendidik anak-anak supaya mereka mengenal Islam dan menjalani kehidupan dengan cahaya dari Allah. Supaya tidak tersesat, rusak atau pun merusak orang lain, dan menjadi binasa.
Bersama dengan itu, turut juga menciptakan lingkungan yang kondusif, supaya anak tidak tercemar dengan pengaruh buruk teman, juga gawai tentunya. Memang tugas yang amat berat. Jika saja ada dukungan dari negara dalam bentuk kebijakan yang ber-khidmat pada syariat, niscaya akan terjadi harmonisasi. Akan tercipta suatu generasi luhur, bercita surga. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






