Seruan Genosida Muslim India, Tantangan Penguasa Muslim untuk Membela

Penghapusan nama muslim di kampung halamannya merupakan langkah untuk menghapus sejarah keluarganya, identitasnya, hingga pada akhirnya menghapus hak kewarganegaraan warga muslim India.
Oleh Amaliyah Krizna Waty
(Pengajar, Pegiat Opini)
JURNALVIBES.COM – Betapa pedih dan mencekamnya kehidupan umat Islam di India. Teror demi teror menghantui mereka. Mulai penghancuran masjid hingga seruan pembunuhan besar-besaran atau genosida. Merilis cnnindonesia.com (19/01/2022) tokoh ekstremis Hindu di India telah menyerukan genosida kepada umat Islam, dalam sebuah konferensi di Haridwar, negara bagian Uttarakhand.
“Jika seratus dari kita menjadi tentara dan bersiap untuk membunuh dua juta (umat muslim), maka kita akan menang, melindungi India, dan membuatnya menjadi negara Hindu,” demikian seruan provokatif Pooja Shakun Pandey yang juga merupakan anggota partai sayap kanan Hindu Mahasabha.
Konferensi yang disebut “Dharam Sansad” atau “Parlemen Agama” itu diorganisir oleh biksu Hindu, Yati Narsinghanand Giri. Berlangsung selama tiga hari, namun pidato kebencian anti-muslim dan serangan terhadap muslim telah lama ada dan turut meningkat selama beberapa tahun terakhir (international.sindonews.com, 19/01/2022).
Biksu Giri sendiri oleh perwira senior, Swatantra Kumar, digambarkan sebagai “pelanggaran yang berulang kali”. Apalagi sejak Partai Bharatiya Janata (BJP), partai nasionalis Hindu pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi memerintah negara bagian Uttarakhand serangan terhadap muslim meningkat.
Menurut penilaian beberapa analis meski BJP tidak berhubungan langsung dengan kelompok Mahasabha, namun mereka kerap memperoleh dukungan diam-diam. Kelompok ini menjadi lebih berani karena pemerintah tampak kurang dalam merespon narasi teror mereka. Padahal kondisi tersebut menurut analis membahayakan kelompok minoritas, terutama muslim di India.
“Itu yang membuat Hindu Mahasabha berbahaya” ungkap Gilles Verniers, asisten profesor ilmu politik Universitas Ashoka (cnnindonesia.com, 19/01/2022).
Seruan genosida merupakan puncak fobia kafir durjana terhadap muslim di sana. Sejak Narendra Modi berkuasa ia telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang diduga mengarah pada penghapusan jejak-jejak Islam. Selama lima tahun terakhir masa pemerintahan Modi, para politisi nasionalis Hindu dari BJP telah mengganti nama kota, jalan, bandara, dan salah satu stasiun kereta api terbesar di India.
Nama-nama yang mencerminkan warisan muslim diubah menjadi bernuansa Hindu. Di antaranya ialah mengganti nama stasiun kereta api Mughalsarai menjadi Deen Dayal Upadhyaya. Kemudian mengganti nama wilayah Allahabad menjadi Prayagraj. Nama sebelumnya merupakan warisan penguasa muslim India pada abad-16 yakni Sultan Mughal Akbar. Begitu tampak kebencian mereka terhadap Islam. Bahkan setelah pengubahan nama itu seorang pejabat BJP berkata, “Hari ini, pemerintah BJP telah memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh Akbar” (m.republika.co.id, 24/04/2019).
Perubahan nama yang begitu dipaksakan ini telah berdampak pada kebingungan birokrasi. Ada yang turut akan mengubah nama lembaganya, semisal kantor pos. Namun instansi berpengaruh lainnya memutuskan untuk tetap mempertahankan nama lama seperti Pengadilan Tinggi Allahabad dan Universitas Allahabad. Meski membuat kebingungan birokrasi, Modi bersama BJP tetap saja pada ambisi buruknya. Melalui kebijakan ini bermakna mereka merevisi peta India dan menulis ulang sejarah mereka.
“Dengan mengubah nama kota, pada dasarnya budaya dan warisan kami yang dihilangkan” kata Ashraf Ahmed, pemilik bisnis IT Muslim di Allahabad (m.republika.co.id, 08/08/2020).
Ahmed menyampaikan kekhawatirannya bahwa penghapusan nama muslim di kampung halamannya merupakan langkah untuk menghapus sejarah keluarganya, identitasnya, hingga pada akhirnya menghapus hak kewarganegaraan warga muslim India.
Nyatanya itu bukan sekadar kehkhawatiran biasa, sejarawan Heramb Chaturvedi juga mengungkapkan hal senada. “Berusaha untuk mempolarisasi. Ini sangat berbahaya bagi integritas dan persatuan nasional India” ungkap politisi BJP. Ia menentang perubahan nama kota karena ia percaya bahwa pendirian Kota Allahabad oleh Sultan Mughal abad ke-16 justru pantas mendapatkan pujian. Ia juga mengatakan seharusnya sebagai negara demokrasi, harus melestarikan sejarahnya yang beragam. Namun, kebijakan diskriminatif terus ada hingga akhirnya muncul seruan genosida terhadap muslim India.
Menurut Gregory Stanton, Direktur Genocide Watch, pembunuhan besar-besaran terhadap muslim di India dapat terjadi. Tanda dan proses awal genosida di negara bagian Assam, India, dan Kashmir di India sudah mulai muncul. “Kami memperingatkan bahwa genosida bisa saja terjadi di India,” ungkapnya (dunia.tempo.co, 18/01/2022).
Stanton menjelaskan bahwa genosida bukan peristiwa melainkan proses kebijakan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Pola kebijakan diskriminatif yang sama sebagaimana Pemerintah Myanmar lakukan kepada muslim Rohingya pada tahun 2017. Modi telah menjalankan proses itu, di antaranya ialah dicabutnya status otonomi khusus Kashmir yang dikelola India pada 2019. Kemudian di tahun yang sama juga ditetapkan Undang-undang Amandemen Kewarganegaraan yang memberikan kewarganegaraan kepada minoritas agama dan mengecualikan umat Islam. Apa yang dialami oleh muslim Rohingya saat ini, di mana mereka terlunta-lunta dan terlantar berawal dari pernyataan bahwa secara hukum mereka bukan warga negara Myanmar. Mereka pun diusir dengan kekerasan yang sadis dan genosida.
Lalu menjadi pertanyaan besar bagi kaum muslimin, apakah kita rela dan akan diam saja jika kejadian yang sama yakni genosida terjadi pada saudara-saudara kita di India? Cukuplah hadis Rasulullah sebagai pengingat. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Tantangan Bagi Penguasa Muslim untuk Memberikan Perlindungan
Saat ini pemegang peradaban memanglah kafir Barat dengan sistem demokasi sekuler yang menyangga kebobrokannya. Namun kondisi ini sebenarnya tidak membuat umat Islam sepenuhnya lemah. Justru umat Islam menampakkan kekuatannya masih mampu bertahan di tengah gempuran pemahaman barat yang merusak, di tengah fitnah yang merebak. Kekuatan yang tentunya muncul dari akidah. Umat Islam juga memiliki penguasa-penguasa muslim. Kondisi terpuruk ini menjadi tantangan bagi para penguasa muslim, mampukah memberi perlindungan?
Tentu saja perlindungan yang dimaksud tidak sebatas pada retorika tanpa aksi nyata. Bukan pula melalui kecaman, karena rakyat kecil tanpa kuasa juga mampu melakukan. Bukan pula dengan seminar-seminar dan pertemuan-pertemuan dengan diskusi panjang yang menjenuhkan. Perlindungan itu harus berkaca pada penguasa pada masa ketika Islam diterapkan. Seperti yang dilakukan oleh Khalifah Mu’tasim Billah yang mengutus ribuan pasukan untuk membela kehormatan seorang muslimah yang dilecehkan. Seperti Sultan Abdul Hamid II yang dengan lantang menolak segala kompromi yang dapat mengganggu keamanan Umat Islam di Palestina. Mereka mampu bertindak dengan cepat dan tanpa intervensi, justru disegani dan ditakuti oleh penguasa-penguasa kafir durjana di seluruh dunia.
Apa kiranya yang membuat mereka memiliki kekuatan dan kemampuan memberikan perlindungan? Tentu saja adalah penerapan sistem Islam sebagai landasan dalam menjalankan pemerintahan (khilafah). Maka jika penguasa muslim ingin melindungi umat Islam di India dan seluruh dunia bukan dengan demokrasi, karena demokrasi menjadikan nation state (nasionalisme) sebagai bentuk persatuan, yang tentu saja ini bertentangan dengan hadis Rasulullah tentang konsep kesatuan tanpa sekat dan akan melemahkan penguasa untuk menyelamatkan saudaranya karena terhalang sekat wilayah.
Bukan dengan demokrasi, karena genosida di Myanmar pun terjadi atas nama hukum dalam demokrasi dan dunia tidak mampu berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka yang kini terlunta. Amat tidak pantas pula bagi penguasa muslim untuk diam sebab ia memegang kekuasaan, kecuali jika memang memilih menjadi pecundang. Tentu saja kelak mereka akan mendapat balasan yang pedih Allah sebab mendiamkan kezaliman berarti membiarkan dan secara tidak langsung mendukung kezaliman itu. Allah Swt. berfirman:
إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS Asy-Syura: 42)
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ
“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi)
Umat Islam seluruhnya bertanggung jawab atas umat Islam yang lain. Tidak boleh abai, apalagi dengan kondisi yang menyangkut nyawa seperti ancaman genosida yang dialami oleh saudara kita muslim India. Teruslah mendakwahkan dan menyerukan penerapan Islam kafah dalam naungan khilafah.
Hanya khilafah yang mampu menghadirkan penguasa yang menjadi junnah (perisai) bagi umat Islam. Bukan saja umat Islam India yang tengah di ambang bayang-bayang kematian, tetapi juga muslim Rohingya, Xinjiang, Suriah, Palestina, dan yang lainnya yang telah mengalami diskriminasi, penyiksaan, dan kekerasan sejak lama.
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll). Wallahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






