Opini

Peran Guru Belum Optimal di Sistem Kapitalisme

Dalam Islam, guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga sebagai pendidik generasi Islam. Corak peradaban Islam ditentukan oleh para guru. Karenanya, para guru haruslah orang-orang yang bertakwa, berakhlak mulia, memiliki ilmu pengetahuan, disiplin, profesional, dan memiliki kemampuan mendidik.


Oleh Annisa Al Maghfirah
(Freelance Writer)

JURNALVIBES.COM – Tiap tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Guru Sedunia. Tahun ini, tema HGS adalah “Valuing teacher voices: towards a new social contract for education (menghargai suara guru: menuju kontrak sosial baru untuk pendidikan)”.

Tema ini diangkat untuk menyampaikan pentingnya suara seorang guru. Karena suara para guru sangat diperlukan agar dapat memberikan pembinaan dan memanfaatkan potensi terbaik dari setiap muridnya.

Guru memiliki peran yang mulia. Sebab pendidikan merupakan hal fundamental setiap manusia. Sedemikian penting peran guru, jadi sudah seharusnya dalam momen hari guru merefleksikan kembali peran dan kondisi guru khususnya di Indonesia.

Problem Guru

Fakta hari ini, nasib guru sangat memprihatikan. Sebagian pendidik yang seharusnya menjadi orang yang digugu dan ditiru malah melakukan kekerasan seksual kepada anak didiknya sendiri.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendata bahwa kasus kekerasan di satuan pendidikan selama Januari-September 2024 terjadi 36 kasus. Dalam periode sama, telah ada tujuh siswa yang meninggal. Kekerasan yang terjadi diantaranya kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis, dan kebijakan yang mengandung kekerasan. Tercatat pada September 2024, terjadi lonjakan 12 kasus kekerasan di satuan pendidikan, terdiri dari enam kasus kekerasan seksual, lima kasus kekerasan fisik, dan satu kasus kekerasan psikis (tirto.id, 2/10/2024)

Masih banyak guru yang tidak sejahtera. Gaji guru di Indonesia sangat rendah. Berdasarkan data Jobstreet, rata-rata gaji guru di Indonesia adalah Rp2,4 juta per bulan, terendah dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Singapura yang mencapai Rp11,9 juta per bulan. Guru honorer di Indonesia gajinya lebih tidak manusiawi, sebagian hanya memperoleh gaji Rp250.000 per bulan. Padahal tekanan hidup yang dialami para guru justru sangat tinggi.

Guru pun terbebani kebijakan administrasi yang banyak dan rumit terkait dengan sertifikasi atau pengisian administrasi di platform merdeka belajar ataupun harus mengikuti seminar-seminar sehingga menguras waktu dan perhatian. Belum lagi kurikulum yang sering berganti.

Akibat Penerapan Sistem Kapitalisme

Penerapan sistem ekonomi kapitalisme oleh negara lah yang menjadi akar dari masalah pendidikan hari ini. Sistem ini tidak bisa menyejahterakan guru dan menjadikannya sebagai pendidik yang berperan optimal mendidik generasi penerus bangsa. Para guru tidak fokus untuk mengajar sebab kebutuhan hidup yang tinggi berbanding terbalik dengan gaji yang rendah.

Tata kehidupan sekuler dalam sistem kapitalisme juga memengaruhi jati diri guru sehingga kehilangan profil diri pendidik. Mereka bergaya hidup sekuler dan liberal. Hingga ada guru yang tega melakukan tindakan kekerasan fisik maupun seksual ke muridnya sendiri hingga memakan korban jiwa.

Tampak bahwa problem pada guru bersifat sistemis, bukan hanya kasus personal individual. Oleh karena itu, kita butuh solusi sistemis untuk menyelesaikan problem yang guru hadapi secara tuntas hingga terwujud guru serta pendidikan yang berkualitas. Selanjutnya dapat menghasilkan generasi cerdas dan bertakwa. Bukan hanya sebagai generasi pekerja. Menjadi generasi emas bukan generasi yang mencemaskan.

Guru Sejahtera dalam Sistem Islam

Dalam Islam, guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga sebagai pendidik generasi Islam. Corak peradaban Islam ditentukan oleh para guru. Karenanya, para guru haruslah orang-orang yang bertakwa, berakhlak mulia, memiliki ilmu pengetahuan, disiplin, profesional, dan memiliki kemampuan mendidik. Negara bahkan akan menguji para calon guru sebelum mereka dinyatakan layak mengajar.

Rasulullah saw. bersabda tentang guru, “Jadilah pendidik yang penyantun, ahli fikih, dan ulama. Disebut pendidik apabila seseorang mendidik manusia dengan memberikan ilmu sedikit-sedikit yang lama-lama menjadi banyak.” (HR Bukhari).

Negara juga menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam yang bertujuan mencetak output orang-orang yang berkepribadian Islam. Yakni orang-orang yang bertakwa, sekaligus memiliki kualitas keilmuan yang tinggi, baik dalam tsaqafah Islam maupun sains teknologi. Guru pun akan digaji tinggi dengan penerapan perekonomian islam yang menjadikan kebutuhan hidup terpenuhi tidak semahal di sistem kapitalisme hari ini.

Guru akan sejahtera dan generasi yang dihasilkan menjadi generasi emas jika kembali kepada sistem Islam. Bahkan di dalam kitab An-Nafaqat wa Idaratuha fid Daulatil Abbasiyyah, Dr. Rudhaifullah Yahya Az-Zahrani menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid, gaji tahunan rata-rata untuk pendidik umum mencapai 2.000 dinar. Sedangkan gaji untuk periwayat hadis dan ahli fikih mencapai 4.000 dinar. Jika dirupiahkan sekitar Rp.12,75 miliar per tahun dan Rp.25,5 miliar per tahun.

Generasi yang dihasilkan dalam sistem Islam pun terbukti adalah generasi emas yang memiliki sumbangsih pada peradaban melalui keilmuwanannya. Diantaranya, Ibnu Sina (bapak kedokteran), Al Khawrizmi (penemu aljabar) dan masih banyak lagi. Sudah seharusnya kita berjuang mengembalikan sistem Islam agar pendidik dan umat sejahtera, generasi yang dihasilkan pun adalah generasi hebat. Wallahu a’lam bishawab.

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button