Gangguan Mental, Problem Sistemik, Perlu Solusi Sistemik

Hanya sistem Islamlah yang mampu mengubah pola pikir seseorang secara otomatis tanpa tapi. Karena sistem Islam menjamin akidah dan akal sehat seluruh umat.
Oleh Fitriani S.KM.
JURNALVIBES.COM – Jauh sebelum pandemi Covid-19, angka kasus gangguan kesehatan mental telah menunjukkan tren peningkatan di level global maupun regional termasuk Indonesia. Pandemi telah membuat masalah kesehatan jiwa makin meningkat. Ini semestinya menjadi pengingat bagi mayoritas negara untuk memperkuat sistem kesehatan mental.
Pakar kesehatan masyarakat dari UGM, yaitu Amirah Ellyza Wahdi, mengungkapkan berdasarkan penelitian terbarunya bersama pakar dari Australia dan Amerika Serikat, sekitar 2,45 juta remaja di Indonesia termasuk ODGJ atau orang dengan gangguan jiwa.
Amirah menyampaikan beberapa contoh diantaranya adalah kasus bunuh diri mahasiswa di Yogyakarta akhir pekan lalu, hanya beberapa hari menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober. Hal ini menambah urgensi penanganan masalah kesehatan mental di antara anak muda Indonesia.
Data menyebutkan bahwa 1 dari 20 (sekitar 5.5%) remaja di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental, mengacu pada Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-V) keluaran American Psychological Association (APA).
Artinya, sekitar 2,45 juta remaja di seluruh Indonesia termasuk dalam kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Selain itu, bunuh diri seperti kasus mahasiswa di Yogyakarta baru-baru ini, merupakan masalah besar gangguan kesehatan mental yang perlu menjadi perhatian dan dicegah oleh banyak pihak. Secara global, bunuh diri adalah penyebab kematian keempat di antara orang berusia 15-29 tahun.
Menurut riset, berbagai potensi kondisi psikologis dan gangguan mental pada manusia memang mulai menunjukkan gejalanya pada usia kiritis remaja atau dewasa muda. Dengan populasi kelompok usia 10-19 tahun yang mencapai 44,5 juta jiwa. Kasus gangguan jiwa baik pada laki-laki maupun perempuan, temuan lainnya adalah gangguan kesehatan jiwa pada perempuan lebih tinggi dibanding pada laki-laki.
Usia muda merupakan masa yang identik dengan rasa semangat dan penuh dengan cita-cita, bahagia. Tak sedikit para remaja mencoba hal yang baru demi memuaskan rasa keingintahuannya. Para remaja pun menjadi tumpuan harapan penerus bangsa. Karena dengan segala potensi yang dimiliki mereka akan memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara. Akan sangat disayangkan jika potensi yang besar ini rusak oleh ganguan kejiwaan yang membayangi.
Faktor-Faktor Terjadinya Gangguan Mental
Gangguan kesehatan mental merupakan masalah yang kompleks dan bisa bermacam-macam bentuknya, seperti dijelaskan dalam klasifikasi penyakit internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam definisi itu, gangguan kesehatan mental mencakup banyak bentuk, termasuk depresi, kecemasan, bipolar, gangguan makan, dan skizofrenia.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor yaitu: biologi, psikologis dan sosial.
Faktor biologi antara lain adalah keturunan/genetik, masa dalam kandungan, proses persalinan, nutrisi, riwayat trauma kepala dan adanya gangguan anatomi dan fisiologi saraf.
Faktor psikologis yang berperan terhadap timbulnya gangguan jiwa antara lain adalah interaksi dengan orang lain, intelegensia, konsep diri, keterampilan, kreativitas, dan tingkat perkembangan emosional.
Faktor sosial yang berpengaruh yaitu stabilitas keluarga, pola asuh orangtua, adat dan budaya, agama, tingkat ekonomi, nilai dan kepercayaan tertentu.
Faktor yang mempengaruhi gangguan mental, baik faktor internal maupun eksternal termasuk lingkungan dan corak pembangunan yang kapitalistik.
Sistem kehidupan saat ini ialah sistem kapitalis -sekuler sebab kebahagiaan manusia diukur dari materi. Berlomba-lomba memperkaya diri, menyibukkan diri untuk mencari materi dan sudah menjadi mindset tujuan hidup masyarakat jika tidak ada materi tidak terpandang dimata orang lain. Tidak heran jika ODGJ semakin meningkat.
Di zaman saat ini, materi sudah menjadi Tuhan yang senantiasa dikejar. Sehingga lupa dengan yang menciptakan dan untuk apa tujuan hidup kita diciptakan. Tingkah laku dan pemahaman masyarakat pun juga dominan pada dunia. Tidak sempat belajar Islam, bahkan untuk membuka Al-Qur’an kapan terakhir dilakukan.
Manusia sibuk mengikuti akun media sosial hedonis, liberalis, tik-tok, fashion, gaya, food and fun. Hal ini menyebabkan masyarakat akan bertindak sesuai dengan apa yang ia lihat.
Dalam era kapitalis dan gempuran aturan yang muncul dari akal manusia, menekan masyarakat untuk bertahan hidup. Bahkan ada yang bukan hanya sekadar hidup tetapi penampilan dan hedonis menjadi kebutuhan dikarenakan ingin menyaingi lingkungan sekitar dan dianggap ada kehadirannya.
Pengaruh lingkungan menjadi fokus pada gangguan mental seseorang. Seperti bullying, ada yang karena miskin, tidak memiliki apa-apa, penampilan tidak oke dan lahir dari keturunan yang biasa-biasa saja. Ini pun menjadi polemik remaja yang takut sekolah dan tidak fokus belajar karena kondisi lingkungannya. Sehingga langkah akhir yang diambil adalah bunuh diri.
Indutri perfilman yang makin hari makin panas, tidak mengenal lagi batas usia, mempertontonkan film yang belum layak untuk usia dini. Apa yang dilihat akan menjadi maklumat (informasi yang didapat) yang mereka lihat akan terbentuk pada tindakan. Seperti pelukan, sibuk dengan percintaan, putus hubungan, tentang perjuangan mendapatkan kekasih dll. Iniah yang menyebabkan bertambah lemahnya hati dan iman seseorang. Karena negara membebaskan film demikian di sebarkan, mulai dari stasiun TV hingga bioskop. Tidak ada lagi pembatas ruang agar generasi muda sibuk belajar.
Solusi Sitemik Kembali Pada Aturan Islam
Dr. Jalaluddin dalam buku psikologis agama menyebutkan kesehatan mental merupakan kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram. Berupaya untuk menemukan ketenangan batin yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Islam adalah agama yang sempurna (kafah), mengatur seluruh aspek kehidupan seperti tercantum dalam firman Allah Al-Baqarah ayat 208 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
Mulai dari bangun tidur hingga membangun negara, Islam lengkap mengaturnya. Sebab Islam tidak hanya mengurusi perihal ibadah spiritual saja tetapi kehidupan dan aktivitas manusia sudah seharusnya melibatkan aturan Islam.
Kaum Muslim yang memisahkan agama dari kehidupannya berarti ia terkena virus sekularisme, yang merupakan akar dari liberalisme. Sekularisme adalah sistem yang membuat manusia merubah perilaku
sesuai paham yang ia ambil dari akalnya sendiri. Akal manusia itu lemah, maka sudah sepatutnya hanya aturan dari Allah yang selayaknya digunakan di kehidupan.
Gangguan mental terjadi karena sistem kehidupan mengubah pola pikir seseorang. Sehingga menyebabkan mentalnya terganggu karena rapuhnya hubungan ia dengan Sang Pencipta. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 38 :
قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Artinya : “Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Maka hanya dengan petunjuk Allah lah manusia akan hilang kesedihannya di tengah gempuran hedonis, liberal bahkan kapitalis-sekuler yang membuat seseorang cinta dunia. Maka sistem Islamlah yang mampu mengubah pola pikir seseorang secara otomatis tanpa tapi. Karena sistem Islam menjamin akidah dan akal sehat seluruh umat. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






