Mengenal Gangguan Kepribadian Avoidant Personality Disorder (AVPD)

Sistem yang mampu membentuk generasi masyarakat yang berpola pikir dan pola sikap islami ada dalam naungan khilafah. Sejarah membuktikan kehebatan sistem ini dalam bentuk generasi-generasi gemilang pembangun peradaban.
Oleh Hindun Camelia
JURNALVIBES.COM – Secara harfiah gangguan kepribadian adalah salah satu jenis penyakit mental. Kondisi ini menyebabkan penderitanya mempunyai pola pikir dan perilaku yang tidak normal dan sulit diubah (Alodokter.com). Salah satu gangguan mental yang kini muncul ke permukaan publik yakni Avoidant Personality Disorder (menghindar dari interaksi sosial). Berbeda dengan introvert yang memiliki makna salah satu tipe kepribadian yang lebih fokus pada pikiran, suasana hati, dan perasaan secara internal (Katadata.co.id).
Sementara Avoidant personality disorder (AVPD) merupakan sebuah pola perilaku yang bertahan lama terkait dengan hambatan sosial, rasa ketidakmampuan dan sensitivitas terhadap penolakan. AVPD termasuk salah satu gangguan kepribadian yang umum. Orang dengan AVPD biasanya cenderung menghindari interaksi sosial. Seseorang dengan gangguan ini adalah orang dengan tingkat percaya diri yang rendah (sehatqu.com).
Ciri-ciri orang dengan AVPD di antaranya,
- Enggan berinteraksi dengan orang lain kecuali yakin akan disukai.
- Takut mengambil resiko dan mencoba hal baru.
- Merasa dirinya tak mampu, tak menarik, dan lebih rendah dari orang lain.
- Sulit menerima kritik dan penolakan. (Sumber: Alodokter.com)
Hal ini terjadi karena terlalu memikirkan penilaian orang lain. Akhirnya terjadi banyak kekhawatiran seperti penolakan, rasa takut dibenci, merasa tidak menarik dan rendah diri. Jika midset itu bisa dihilangkan maka orang tersebut akan menjadi orang yang percaya diri dengan penilaian orang lain. Sayang, generasi kapitalis saat ini sangat mengagungkan penilaian manusia. Wajar kasus ini kian muncul ke permukaan, karena berinteraksi dengan orang lain akan ada banyak hal yang ditakutkan. Maka banyaklah yang menghindari interaksi sosial atau yg disebut AVPD.
Tak lepas dari paham kapitalisme. Dari sini lahir generasi yang menghindari interaksi sosial, dan mengagungkan penilaian manusia. Kapitalisme sendiri adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa hidup ini adalah tempat untuk mendapatkan kebahagiaan materi sebesar-besarnya. Termasuk salah satunya adalah penilaian manusia.
Adanya gharizah baqa (naluri eksistensi) diri yang mereka punya, manusia cenderung senang dipuji. Sebaliknya tidak suka akan penolakan, diremehkan atau sesuatu yang mengancam eksistensi dirinya. Akibatnya memilih aman dengan menjauhi pergaulan. Merasa lebih baik sendiri, karena takut jika berinteraksi menimbulkan potensi sakit hati.
Mindset seperti ini dibiarkan oleh negara sekuler. Karena kurikulum pendidikannya berbasis sekuler yakni memisahkan agama dari kehidupan. Maka generasi tak paham bagaimana bersikap di dunia dan tak paham tujuan hidupnya. Maka mereka menjadi tak punya pola pikir islami. Agar kita terbebas dari mindset demikian kita perlu belajar islam secara kafah. Agar pola pikir dan pola sikap yang islami terbentuk. Mengkaji islam bersama guru yang sanggup membina kita menjadi seorang yang berpola pikir dan berpola sikap islami. Dengan begitu kita akan sadar penuh bahwa hidup di dunia ini adalah untuk beribadah pada Allah Swt.
Sikap mengasingkan diri (uzlah) tidaklah mencerminkan sikap seorang muslim. Karena setiap Muslim memiliki kewajiban berdakwah maka harus berinteraksi dengan umat. Jika berinteraksi dengan orang lain adalah sebuah tuntutan karena bisa mengantarkan kita pada kewajiban sebagai seorang Muslim, maka kita tidak akan takut melakukannya. Karena landasannya adalah rida Allah Swt, AVPD bisa dihindari. Maka tidak akan ada lagi kecemasan dan ketakutan untuk berinteraksi dengan orang lain semata-mata karena Allah. Karena penilaian di tengah masyarakat bukan lagi penilaian manusia.
Sistem yang mampu membentuk generasi masyarakat yang berpola pikir dan pola sikap islami ada dalam naungan khilafah. Sejarah membuktikan kehebatan sistem ini dalam bentuk generasi-generasi gemilang pembangun peradaban. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com


