Konflik Genosida dan Krisis Pangan Muslim Dunia

Jutaan orang kelaparan di Suriah, sebagian besar karena kegagalan pemerintah untuk mengatasi krisis roti yang ditimbulkannya
Oleh Nur Rahmawati, S.H
(Penulis dan Pemerhati Politik)
JurnalVibes.Com– Konflik genosida yang dialami umat Islam dunia, membuat hati muslim terluka. Krisis pangan yang melanda di berbagai negara konflik, belum mampu terselesaikan. Harga bahan pokok cukup membuat kantong tak berdaya. Beberapa keluarga di Palestina yang mengalami kejahatan kemanusiaan sangat terdampak krisis tersebut. Tak terkecuali negara Suriah, selain mengalami kelaparan sebab krisis roti, mereka juga dihadapkan pada kecemasan sebab konflik kejahatan kemanusiaan dan genosida.
“Jutaan orang kelaparan di Suriah, sebagian besar karena kegagalan pemerintah untuk mengatasi krisis roti yang ditimbulkannya,” ujar Sara Kayyali, peneliti Suriah di Human Rights Watch. (Republika.co.id, 30/5/2021).
Kapitalisme dan Nasionalisme Tidak Menuntaskan Krisis Pangan
Krisis pangan dan kelaparan adalah kasus luar biasa melanda muslim di negeri konflik, sungguh memprihatinkan, terlebih adanya kebijakan yang diskriminatif atas distribusi roti semakin memperparah keadaan umat muslim. Adanya pembatasan ketersediaan roti bersubsidi yang bisa dibeli warga setempat, menjadikan Suriah kesulitan untuk mendapatkannya. Suriah kini menjadikan roti sebagai makanan pokok karena salahsatu sebabnya adalah kehilangan 943 ribu hektar lahan pertanian antara tahun 2010 dan 2018 (Republika.co.id, 30/5/2021).
Mengapa hal tersebut tidak dapat diatasi? Bagaimana peran PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) untuk menghentikan krisis pangan, kelaparan, hingga konflik yang melanda muslim? Sistem kapitalisme adalah biang dari segala persoalan. Pihak yang kuat atau si pemilik modal mampu menyetir keadaan, sehingga menciptakan jargon nasionalisme yang membunuh empati dan simpati, di mana pada akhirnya perasaan yang lahir bahwa urusan negara lain bukan urusan kita, akan terus bercokol dalam benak siapa saja. PBB yang merupakan organisasi Internasional yang diharap dapat menyelesaikan konflik dan krisis tak mampu juga memberikan hasil memuaskan, bahkan tak menghentikan konflik.
Padahal, kita ketahui bersama konflik yang terjadi sudah sangat lama dialami oleh muslim. Selain itu, kasus kematian juga melanda jutaan muslim Myanmar sebab konflik genosida yang merenggut banyak nyawa. Pun kelaparan ikut menambah daftar kesengsaraan muslim Myanmar. Mereka yang bertahan hidup, rata-rata tidak bekerja dan hanya sebagian yang memiliki tabungan, sehingga tidak terlalu bersusah payah menghadapi tentara keamanan untuk mendapatkan makanan, lantas bagaimana yang tidak memiliki tabungan?
Dilansir dari laman berita Lenterasultra.com, Program Pangan Dunia (WFP) mendengungkan bahwa kini jutaan warga Myanmar menghadapi ancaman krisis pangan dan kelaparan ekstrim. Menurut WFP sebanyak 3,4 juta dalam 6 bulan terakhir kelaparan telah melanda (29/5/2021).
Penderitaan yang terjadi di Suriah dan Myanmar, memang nyata mengorbankan umat Islam terutama di negeri konflik, terlebih Krisis pangan menambah berat beban hidup mereka. Diskriminasi yang terjadi tak juga mampu dihentikan. Bahan makanan yang didonasikan hanya solusi sampingan. Oleh karena itu perlu peran pemimpin muslim yang berani mengambil kebijakan untuk menghentikan penindasan.
Sederet penderitaan umat Islam di negeri konflik, harusnya menjadi perhatian khusus dunia, terutama umat Islam. Sekat nasionalisme yang lahir dari rahim kapitalisme saatnya diganti dengan sistem mulia, yaitu sistem Islam yang telah sukses berjaya hingga 14 abad lamanya yang berhasil menuntaskan kemiskinan, melahirkan kesejahteraan dan menghentikan konflik serta krisis pangan.
Inilah mengapa perlunya sistem Islam diterapkan di seluruh dunia. Dengan sistem ini penindasan benar-benar akan dihentikan hingga tuntas. Bantuan tak hanya sebatas retorika belaka. Semua akan menjadi suatu keniscayaan. Saatnya beralih ke sistem Islam yang rahmatan lilalamin, tidak hanya dirasakan oleh muslim tapi juga nonmuslim yang berada dalam naungan sistem Islam.
Wallahu alam bishawab.
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






