
Ada lima prinsip pokok yang pernah diterapkan dalam sistem Islam (sistem Khilafah) dalam ketahanan pangan yang relevan untuk diterapkan
Oleh Siti Farihatin, S.Sos
JurnalVibes- Penampakan krisis pangan semakin menjadi di berbagai belahan dunia. Akibat pandemi yang mengguncang dunia krisis ini tidak bisa dielakkan lagi. Berbagai belahan dunia mengalami krisis pangan yang cukup memprihatinkan. Kesenjangan menampakkan taringnya, hampir semilyar penduduk dunia mengalami krisis pangan dan segelintir negara kapitalis kelebihan pangan. Dengan fenomena ini nampak jelas bahwa sistem kapitalisme ini tidak bisa dijadikan sandaran umat terutama umat yang tertindas.
Daerah konflik juga tidak jauh berbeda, mengalami krisis pangan yang mencekik. Fenomena yang menyayat hati menjadi gambaran yang nyata di depan mata. Banyak daerah konflik yang rakyatnya mengalami kekurangan pangan hingga makan hanya secuil roti. Suriah menjadi salah satu yang menjadi gambaran memprihatinkan untuk daerah konfik yang mengalami krisis pangan.
Suriah mengalami krisis pangan yang belum terselesaikan hingga kini. Seorang pria dari Kota Zabadani mengatakan, keluarganya yang beranggotakan empat orang telah berhenti makan keju dan daging pada awal 2020. Kini dia hanya mengandalkan roti untuk makanan mereka. Namun, dengan kenaikan harga roti dan adanya batasan pemerintah, dia dan istrinya terpaksa hanya memakan secuil roti tiap harinya. “Kami memecah roti menjadi gigitan kecil dan mencelupkannya ke dalam teh agar tampak lebih besar,” kata orang tersebut, dalam keterangan pers Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang diterima, Ahad (30/5). (Republika.com, 01/06/2021)
Roti telah lama menjadi makanan pokok di Suriah. Sebelum 2011, negara ini mampu memproduksi cukup gandum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi roti dalam negeri. Namun, sejak perang berkecamuk di Suriah, produksi dan persedian roti pun mulai menipis. Berdasarkan laporan Human Rights Watch, konflik bersenjata selama satu dekade telah menyebabkan kekurangan gandum yang parah di Suriah akibat lahan-lahan pertanian semakin sedikit. Selain itu, banyak pula toko roti yang ikut hancur dan tidak dapat beroperasi selama konflik. Kondisi itu diperparah dengan kebijakan distribusi roti yang diskriminatif, yang mana ada pembatasan jumlah roti bersubsidi yang dapat dibeli warganya. Roti pun menjadi barang yang diperebutkan di Suriah, banyak orang yang melakukan perjalanan melalui pos pemeriksaan untuk sekadar mendapatkan roti. (Republika.com, 01/06/2021)
Kapitalisme sudah merenggut hampir semua yang menjadi hak manusia. Sistem ini tidak ubahnya sistem yang menjadi akar masalah krisis pangan yang melanda berbagai belahan negeri. Tidak selayaknya menjadikan sistem ini sebagai acuan untuk penerapan berbagai sektor termasuk dalam bidang ekonomi. Kebobrokan sistem kapitalisme ini sudah tidak bisa ditolelir lagi, karena sejatinya sistem ini tidak mampu menyelesaikan berbagai problematika umat dan tidak layak untik diterapkan.
Krisis pangan hanya akan mampu diatasi dengan penerapan sistem ekonomi Islam. Dalam sistem ekonomi jelas terkait perolehan harta dan bagaimana distribusi yang dilakukan oleh negara Islam untuk memenuhi kebutuhan umat. Perolehan harta juga jelas, ada pos-pos yang akan menjadi pemenuhan dalam setiap kebutuhan umat. Untuk memenuhi kebutuhan umat secara umum, dalam kaitannya ini ada dalam kepemilikan umum yang menjadi hak umat untuk dinikmati. Kepemilikan umum ini benar-benqr dimanfaatkan untuk kepentingan umat dan bukan diperuntukkan untuk kepentingan negara apalagi untuk dinikmati segelintir orang.
Islam menjawab segala problematika umat dan pemimpin seharusnya bisa menjadi pemimpin yang handal untuk menyelesaikan setiap problematika tersebut. Rasulullah saw. telah mengingatkan, “Imam (Khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Setidaknya ada lima prinsip pokok yang pernah diterapkan dalam sistem Islam (sistem Khilafah) dalam ketahanan pangan yang relevan untuk diterapkan. Diantaranya adalah pertama optimalisasi produksi, mengoptimalkan produksi dengan memaksimalkan lahan yang bisa memproduksi bahan pangan. Kedua, adaptasi gaya hidup. Masyarakat tidak selayaknya mengeksploitasi dengan memanfaatkan sesuatu yang berlebihan. Ketiga, Prediksi Iklim.
Negara wajib memprediksi iklim yang terjadi dan mengantisipasi apabila terjadi perubahan iklim untuk memaksimalkan ketahanan pangan. Keempat, management logistik. Hal ini penting terkait dengan distribusi yang akan disalurkan untuk umat, jangan sampai ada ktimpangan yang terjadi sehingga diatribusi yang dilakukan tidak bisa memenuhi kebutuhan. Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan.
Islam memang sistem yang sempurna, yang mampu menjawab setiap problematika umat. Dengan menerapkan Islam kaffah akan menjadikan kehidupan rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam
Pictures source by google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






