
Kemuliaan dan fitrah keibuan yang melekat padanya, menjamin generasi-generasi yang terlahir darinya terjaga tumbuh kembangnya. Memastikan anak-anak sehat secara fisik, mental dan psikisnya. Menjauhkan segala hal yang akan merusak fitrah anak-anak. Ini sudah menjadi sepaket fitrah keibuan yang tidak bisa ditinggalkan, ia melekat bersama dengan ketakwaan pada Allah.
Oleh Sulastri
(Pemerhati Generasi, Perempuan, dan Keluarga)
JURNALVIBES.COM – Wanita identik dengan lemah lembut, keibuan, bahkan menjunjung tinggi rasa malu. Namun, semua itu hilang di mata wanita muda di Jambi ini. Kebejatan wanita ini justru menargetkan anak-anak di bawah umur sebagai korbannya. Bagaimana jadinya jika seorang Ibu tak lagi jadi tempat aman bagi anak-anak?
Wanita berinisial NT (25 tahun) pemilik rental PS di Jambi ini, melakukan aksi pelecehan seksual pada 11 anak di kediamannya. Dikutip dari kompas.com (4/2) pelecehan seksual dilakukan dengan berbagai cara, memaksa anak-anak perempuan menyaksikan adegan ranjangnya dengan suami. Meminta anak laki-laki untuk menyentuh pydaranya, meremas alat vital anak laki-laki, menyuruh anak-anak ini menonton video dewasa. Aksi tersebut dilakukan saat kondisi sedang sepi. Konon, aksi bejatnya ini tidak diketahui oleh suaminya.
Lucunya, ibu muda ini justru melaporkan diri sebagai korban kekerasan seksual pada pihak berwajib. Di waktu yang sama, ada 11 laporan atas dirinya sebagai pelaku pelecehan seksual pada anak. Sehingga akhirnya mencuatlah kasus ini ke permukaan. Terbaru, sekitar 17 anak sudah menjadi korbannya, 11 orang anak laki-laki dan 6 orang anak perempuan.
Sejauh ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Provinsi Jambi, sedang melakukan pendampingan terhadap kondisi kesehatan dan psikologis anak-anak dibawah umur tersebut. Tentu saja, anak-anak ini akan mengalami gangguan psikologis, traumatis, atau bahkan efek lain yang berakibat buruk karena paparan pornografi & pornoaksi.
Rusaknya Tatanan Kehidupan Sekuler-kapitalis
Paham sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) mampu membuat manusia hilang kendali atas kewarasan diri. Kesadaran akan keberadaan Allah sebagai al-Khaliq, yang selalu mengawasai setiap perbuatan hamba-Nya pun dikesampingkan. Karena, sekulerisme menganggap Allah hanya akan menghisab manusia dalam perkara ibadah saja. Sehingga, untuk urusan-urusan kehidupan lainnya, mereka cenderung mencampakkan aturan-aturan Allah.
Rusaknya tatanan kehidupan diperparah lagi dengan adanya paham liberalisme (kebebasan bertingkah laku). Jadi, individu bebas berbuat apa saja sesuai keinginannya selama tidak merugikan orang lain. Namun, kenyataannya paham ini tak hanya merugikan orang lain, justru menghancurkan kehidupan masyarakat. Paham ini pulalah yang melindungi manusia-manusia dengan penyimpangan seksual. Selama tidak ada laporan dari korban, maka tindakan “pelecehan seksual” pun dianggap sah-sah saja. Terlebih jika dilakukan atas dasar suka sama suka.
Dalam kapitalisme, terwujudnya masyarakat yang ideal bukanlah tujuan utama. Sebab, ideologi ini fokus pada sistem ekonomi. Aturan-aturan terhadap masyarakat diserahkan pada liberalisme. Semakin rusak masyarakat, tentu akan makin menguntungkan bagi ideologi ini dalam mengeruk kekayaan suatu negeri.
Maka tak heran jika wanita yang selama ini jadi “korban”, ternyata bisa menjadi pelaku. Bahkan dalam perbuatan sebejat itu. Fitrah keibuan dalam diri wanita hilang terberangus sekularisme. Karenanya, mustahil berharap kebaikan dalam sistem ini. Sistem ini selain melahirkan manusia-manusia serakah akan harta, juga melahirkan manusia berkelainan seksual.
Maka, tindak pelecehan seksual terhadap anak akan terus menghantui hari-hari kita. Selama biang kerok sumber kerusakan moral tidak dicerabut dari akarnya.
Islam Menjaga Fitrah Keibuan
Masa-masa sebelum Islam, wanita diperlakukan bak budak belian, tak punya hak hidup, pemuas nafsu, bahkan korban kekerasan verbal maupun non verbal. Hingga kemudian Islam hadir memuliakan wanita. Mengangkat derajatnya sama dengan laki-laki dalam hal penciptaan sebagai hamba Allah. Allah karuniakan potensi kehidupan yang sama. Sehingga, laki-laki dan wanita ini memiliki kesempatan yang sama untuk meraih derajat ketakwaan di sisi Rabb-nya.
Menganugerahinya fitrah keibuan, yang dengannya akan timbul rasa mencintai terhadap anak, kasih sayang, perhatian, peduli, lemah lembut, melindungi dan mengorbankan kebahagian diri demi sang anak.
Fitrah inilah yang membuat seorang ibu berhak atas pemeliharaan anak di masa-masa pengasuhannya. Karena, di sisi seorang Ibu, anak akan tenang, nyaman bahkan aman. Karena seorang ibu tempat muara kasih sayang hakiki. Tempat kembali, tempat berteduh dari segala gundah gulana derita dunia.
Hendaknya, wanita-wanita yang kehilangan arah pandangan hidup itu kembali menoleh pada aturan agamanya. Agar mereka tak kehilangan arah. Agar mereka punya pijakan yang kokoh. Bahwa, hakikatnya sebagai hamba Allah, ia senantiasa menyetandarkan perbuatannya pada hukum-hukum Allah. Menjadikan ketakwaan kepada Allah sebagai puncak teragung yang harus diraih. Karena ketakwaan itulah yang meninggikan derajat manusia satu dengan lainnya.
Sebagaimana firman Allah azza wa jalla dalam QS. Al Hujurat : 13 yang artinya “…sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu…”
Ya, seperangkat aturan Islam bukan untuk mendiskreditkan peran wanita. Justru melindungi dan menjaga kehormatannya.
Kemuliaan dan fitrah keibuan yang melekat padanya, menjamin generasi-generasi yang terlahir darinya terjaga tumbuh kembangnya. Memastikan anak-anak sehat secara fisik, mental dan psikisnya. Menjauhkan segala hal yang akan merusak fitrah anak-anak. Ini sudah menjadi sepaket fitrah keibuan yang tidak bisa ditinggalkan, ia melekat bersama dengan ketakwaan pada Allah.
Jika wanita telah rusak, tatanan kehidupan pun rusak dengan sendirinya. Seperti apa yang terjadi hari ini. Jika dahulu mereka dijadikan budak belian, kini wanita sendirilah yang memperbudak dirinya dengan hawa nafsunya. Mengejar capaian-capaian sukses semu ala kapitalisme. Lupa pada hakikat penciptaannya. Mengabaikan peran besarnya sebagai ibu dan pengatur rumahtangga. Pendidik generasi dan penggerak peradaban.
Wanita-wanita mulia, berhari lemah lembut, lagi pemelihara anak-anak dengan pendidikan terbaik hanya akan ditemukan dalam pelukan sistem Islam. Sebuah sistem hidup yang menjadi Allah dan Rasul-Nya sebagai acuan dalam menjalani kehidupan. Wallahu a’lam bishshawab. []
Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by Canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






