Opini

Moderasi Beragama Bukan Solusi Toleransi

Umat Islam harus menyadari pentingnya mendakwahkan dan memperjuangkan tegaknya Islam yang akan memberikan kebaikan seluruh manusia dan alam semesta.


Oleh Sarmi Julita

JURNALVIBES.COM – Pernah melihat ada orang-orang yang mengucapkan hari raya semua agama? Atau bahkan ikut serta di dalamnya dengan memakai atribut mereka ?

Related Articles

Pernah mendengar ada yang berkata, “Jangan merasa agamanya paling benar ! semua pemeluk agama berhak masuk surga!”

Satu bulan yang lalu, seorang tokoh militer berkata, “Jangan terlalu dalam mempelajari agama !” Karena menurutnya, dampak mempelajari agama terlalu dalam adalah terjadinya berbagai penyimpangan.

Terbaru, beredar surat himbauan dari Kemenag di Sul-Sel agar memasang spanduk ucapan natal dan tahun baru. Stafsus Menag mengatakan hal ini karena Kemenag bukanlah untuk satu agama, tetapi untuk semua agama.

Semua ini konon katanya demi toleransi antar umat beragama yang hari ini dibungkus dengan istilah moderasi beragama. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Bahkan, moderasi beragama telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Menag Yaqut Cholil Qoumas menyebut bahwa penguatan moderasi beragama bisa menjadi solusi atas munculnya permasalahan sosial keagamaan (Kemenag.go.id, 10/12/2021).

Menag juga mengatakan, Indonesia sebagai negara multikultural dan multi agama ditantang untuk mengelola keragaman dan permasalahan sosial keagamaan. Belakangan, ada beberapa orang yang memiliki pemikiran keagamaan yang eklusif dan ekstrem. Mereka mengklaim kebenaran hanya untuk dirinya sendiri dan menyalahkan orang lain. Hal ini menimbulkan ketegangan di masyarakat dan mengancam kerukunan intra dan antar umat beragama di Indonesia.

Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Agama mengembangkan konsep moderasi beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang yang membawa orang ke jalan tengah, jauh dari jalan yang berlebihan atau ekstrem. Dengan moderasi beragama, cara beragama masyarakat menjadi toleran, tanpa kekerasan, menghargai budaya, memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.” Papar Yaqut saat menyampaikan keynote speech secara virtual pada International Conference On Islam And Human Rights (ICIHR) di Jakarta (tagar.id, 11/12/2021).

Berbagai program dilakukan untuk mengkampanyekan moderasi beragama. Mulai dari mencetak buku moderasi beragama, meluncurkan modul moderasi beragama, melatih siswa untuk menjadi duta moderasi, kemah moderasi, tahun toleransi, dll.

Demi mensukseskan kampanye moderasi, pemerintah mengucurkan dana yang tidak sedikit yakni Rp3,2 Triliun. Hal ini, disampaikan sebagai wujud keseriusan pemerintah untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Pemerintah sering mengopinikan bahwa ekstremisme sebagai masalah bangsa yang penting. Berbagai program dirancang untuk memerangi ekstremisme. Padahal munculnya istilah ekstremisme sendiri berasal dari satu sumber saja, yaitu doktrin barat pasca peristiwa 9 September di Amerika Serikat.

Amerika Serikat melalui lembaga think tank-nya, RAND Corporation melancarkan serangan adu domba dengan cara membagi-bagi umat Islam. Dalam laporannya yang berjudul ”Building Moderate Muslim Network”, AS membagi umat Islam dalam 4 kelompok. Yakni Islam moderat atau toleran, Islam radikal atau fundamental atau ekstrem, Islam sekuler dan Islam tradisional. Alhasil, ekstremisme merupakan stigma yang diciptakan barat terhadap Islam.

Padahal, banyak permasalahan lebih besar yang dihadapi bangsa ini. Diantaranya pengelolaan sumber daya alam yang melimpah oleh asing. Pejabat membangun gurita oligarki. Kemiskinan, stunting dan anak-anak putus sekolah, resesi ekonomi, korupsi marak disemua lini. Politik uang menjadi tradisi dan moral bangsa terus terdegradasi, kualitas pendidikan tidak mumpuni, kriminalitas semakin marak dan mengerikan, angka perceraian dan kekerasan terhadap perempuan terus terjadi, dll.

Sementara tabiat moderasi adalah bersikap ramah. Ramah terhadap kafir Barat yang nyata memusuhi kaum Muslim. Termasuk ramah terhadap korporasi asing yang telah mencabut sumber daya alam di negeri ini.

Moderasi beragama justru mengajak kita mengambil jalan tengah. Artinya beragama itu sekedarnya saja, yakni di tempat-tempat ibadah atau di ruang privat. Sementara di ruang publik tidak boleh membawa agama tetapi ikut kesepakatan. Ini sama saja mengajak kaum Muslim menjadi sekuler.

Padahal jelas Allah memerintahkan kita agar memeluk Islam itu secara kafah, tidak setengah-setengah. Dalam Q.S al-Baqarah : 208, Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian.”

Moderasi beragama pun mengajarkan, jangan merasa bahwa agamanya paling benar. Tetapi menganggap semua agama sama. Paham seperti ini disebut pluralisme.

Sementara dalam Al Quran, jelas Allah Swt. sampaikan bahwa “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (TQ.S Ali-Imran : 19)
 
Kaum Muslim diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menyeru seluruh umat manusia kepada Islam. Tetapi tentu saja dengan cara yang sesuai syariat. Islam bahkan menekankan bahwa tidak boleh ada pemaksaan untuk memeluk agama Islam.

Bahkan moderasi beragama cenderung kepada sinkretisme yakni mencampur-adukkan agama. Artinya, tidak lagi memegang teguh prinsip akidah. Padahal dalam Islam jelas bahwa dalam urusan agama, Allah Swt. memerintahkan kita,

“… Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (Q.S Al Kafirun: 6)

Jika alasan moderasi demi menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama, justru sistem hari ini yang sering membuat umat beragama menjadi gaduh.

Bahkan Barat sendiri yang mengadu-domba kaum Muslim dengan membagi mereka menjadi kelompok Islam radikal dan Islam moderat. Muslim yang taat dan memperjuangkan Islam dicap sebagai kelompok radikal. Sementara Muslim yang bisa diajak kompromi dan menerima pemikiran barat disebut kelompok Islam moderat.

Terhadap Muslim yang taat dan memperjuangkan Islam, berbagai upaya penghadangan dilakukan. Mulai dari persekusi, kriminalisasi, bahkan penangkapan dan dijebloskan dalam jeruji besi.

Sementara pada kelompok Muslim yang moderat, dipuji-puji sebagai kelompok yang ramah, toleran bahkan berbagai kucuran dana ‘bantuan’ pun disiapkan.

Berbicara tentang toleransi, sepanjang sejarah peradaban Islam dari masa kepemimpinan Rasulullah saw. di Madinah hingga runtuhnya Khilafah terakhir yakni Usmani di Turki pada tahun 1924, Islam mampu menaungi seluruh umat manusia hingga dua per tiga dunia.

Sudah pasti luasnya wilayah kepemimpinan tersebut penuh dengan keberagaman. Beragam agama, beragam suku, beragam ras/ warna kulit, beragam bahasa, beragam adat/ tradisi, dll. Tapi, Islam mampu menyatukan semuanya, hidup rukun dan damai dibawah kepemimpinan khilafah Islam.

Moderasi beragama untuk melawan ekstremisme dan radikalisme yang sering diopinikan sebagai persoalan utama kita itu sejalan dengan arahan barat yang memang tidak menyukai kebangkitan Islam.

Padahal, sejatinya permasalahan kita adalah pemberlakuan sistem sekuler ini. Sebuah sistem yang jelas-jelas telah memproduksi berbagai keburukan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sistem ini pula yang telah menuduh Islam politik dan Islam ideologis sebagai pemicu munculnya aktifitas ekstremisme dan radikalisme yang kemudian dinarasikan sebagai problem utama bangsa. Sehingga harus menjadi korban proyek moderasi beragama.

Maklum, karena hanya Islam politik dan Islam ideologis yang mampu menyodorkan solusi atas problem keterpurukan dunia. Satu-satunya yang bisa menghancurkan dominasi penjajahan kapitalisme atas dunia.

Islam politik terbukti mampu mengantarkan manusia ke puncak kemajuan dan kesejahteraan berabad-abad lamanya. Bahkan kebaikan dan keunggulan sistem Islam dirasakan orang-orang nonmuslim hingga mereka merasa lebih aman hidup di bawah naungan Islam.

Karena itu, ide moderasi beragama bukanlah solusi melainkan polusi bahkan racun bagi kaum muslimin. Racun yang menjauhkan kaum muslimin dari Islam kafah. Moderasi beragama justru mengarahkan kaum Muslim kepada sekularisme, pluralisme dan sinkretisme.

Karena itu, tidak selayaknya penguasa dan kaum Muslim turut menyuarakan moderasi. Negara pun seharusnya hadir untuk membentengi umat dari ide yang berbahaya ini.

Umat Islam pun harus menyadari, pentingnya mendakwahkan dan memperjuangkan tegaknya Islam yang akan memberikan kebaikan seluruh manusia dan alam semesta. Wallaahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button