Opini

Konsistensi Kepemimpinan Hakiki, Bukan Sekadar Basa-Basi

Lain di awal lain di akhir. Sering membuat rakyat geleng-geleng kepala. Membuat muak rakyat akan janji-janji mereka yang seolah-olah terlihat nyata. Padahal mereka sudah diatur seperti boneka untuk tunduk pada aturan main tuannya.


Oleh: Nora Afrilia, S.Pd. (Pemerhati Kebijakan Publik)

JURNALVIBES.COM – Bagai punuk merindukan rembulan. Begitulah perumpaan nasib para petani di Indonesia di awal Maret ini. Berharap Pemerintah memberikan kegembiraan para petani beras saat panen raya kali ini, pemerintah malah berencana akan mengimpor beras sebanyak 1 juta-1,5 juta ton beras dalam waktu dekat ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan itu dilakukan demi menjaga ketersediaannya di dalam negeri supaya harganya tetap terkendali.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menambahkan, impor beras tersebut digunakan untuk iron stock alias cadangan. Ia menuturkan impor beras tersebut sudah disepakati, bahkan Kementerian Perdagangan telah mengantongi jadwal impor beras tersebut.

Tak hanya import beras, Airlangga mengatakan pemerintah juga akan menjaga ketersediaan daging dan gula. Pengadaan dilakukan baik untuk konsumsi maupun untuk industri. Terlebih lagi kita akan menghadapi lebaran. Sehingga menjadi catatan agar ketersedian dan harga betul-betul tersedia untuk masyarakat. (cnnindonesia.com/04/03/2021)

Lalu apa arti ungkapan pemerintah yang mengatakan benci produk luar negeri Jokowi bahkan meminta produk asing ditaruh di tempat yang sepi pembeli pada pembukaan Rapat Kerja Nasional Kemendag 4 Maret 2021?
Dengan tegas presiden menyatakan produk dalam negeri gaungkan, gaungkan juga benci produk-produk luar negeri, bukan hanya cinta tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri. Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal untuk produk-produk Indonesia. (kumparan.com/06/03/2021)

Sungguh pernyaatan yang membingungkan. Realitanya, pemerintah masih massif mengimpor berbagai komoditas dari berbagai negara. Komoditi pangan adalah produk yang saat ini sedang gencar diimpor secara berkelanjutan. Padahal Indonesia merupakan negara agraris yang terkenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah. Namun, mengapa dalam hal ini Indonesia masih harus mengimpor?

Ketidakkonsistenan Pemerintah Sengsarakan Rakyat

Lemahnya sikap pemerintah terhadap komoditas pangan asing yang masuk pasar domestik telah memosisikan Indonesia sebagai net-importer, khususnya untuk komoditas beras. Menurut Surya Hasibuan (2015), hal ini dimulai sejak Indonesia masuk dalam Agreement on Agriculture (AoA) World Trade Organization (WTO) pada 1995.

Seketika itu juga, sektor pertanian berada dalam cengkeraman rezim multilateral melalui kesepakatan liberalisasi pertanian. Kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam AoA tersebut, memberikan dampak negatif kepada kelangsungan hidup para petani di negara-negara berkembang, khususnya yang tidak mampu bersaing langsung dengan produk impor tanpa perlindungan dan bantuan dari pemerintah.

Ketentuannya yang cukup rumit dan bersifat “tricky” (memperdaya) lebih menguntungkan negara maju, dan di sisi lain mengancam kebijakan sektor pangan negara berkembang, termasuk di Indonesia. Dengan liberalisasi pertanian, produk impor pun semakin menguasai pertanian Indonesia dan menguntungkan para importir atas dasar mekanisme pasar.

Walhasil, bagaimana mungkin kita bisa terlepas dari persoalan produk impor? Baik impor pangan maupun produk lainnya? Mengapa gaungkan benci terhadap produk luar dilakukan jika pemerintah sudah bersepakat dengan pihak asing dalam masalah impor?

Jelas, ini adalah bentuk pencitraan dalam sistem demokrasi liberal. Basi-basi kebijakan sudah lumrah dilakukan demi simpati rakyat. Penguasa bermental tanpa malu terbentuk dalam kondisi saat ini. Karena memang sudah hilang kekuatan iman Islam dalam dirinya. Kesadaran akan kondisi umat dikesampingkan akibat sudah terikat oleh tali negara asing. Dampak dari ikatan pemerintah Indonesia dengan negara asing tersebut mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat. Serta bagi generasi muda di dalam negeri.

Beginilah watak kebijakan di era pemerintahan liberalis. Lain di awal lain di akhir. Sering membuat rakyat geleng-geleng kepala. Membuat muak rakyat akan janji-janji mereka yang seolah-olah terlihat nyata. Padahal mereka sudah diatur seperti boneka untuk tunduk pada aturan main tuannya.

Menjadi Penguasa yang Dicintai

Tentu tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Namun tentunya sudah ada potensi yang Allah tetapkan bagi setiap manusia untuk membuatnya layak menjadi pemimpin. Yakni potensi akal yang didampingi buku petunjuk keeselamatan berupa Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Islam adalah sendi utama dan sudah terbukti 13 abad berhasil mencetak generasi pemimpin yang komitmen terhadap nasib rakyat. Rasulullah adalah bukti tauladan pemimpin yang dalam dibanggakan bahkan dipuji reputasinya oleh berbagai kalangan. Termasuk manusia yang tak seaqidah dengan beliau. Hingga dijadikan orang pertama dari seluruh manusia berpengaruh di dunia. Dan akhirnya diikuti oleh manusia- manusia terpilih yang memimpin umat.

Konsistensi dalam memimpin semata-mata bukan hanya menyenangkan rakyat. Namun karena ingin menjadi manusia taqwa dihadapan Allah. Manusia unggul yang berhasil memanfaatkan potensi akal, naluri, dan kebutuhan jasmani yang Allah berikan. Sehingga berguna bagi umat dan mendapat kesenangan di akhirat kelak.

Amanah menjabat sebagai penguasa sejatinya memfokuskan pada peningkatan aqidah dan penerapan syariat secara paripurna. Maka selayaknya menjadi penguasa yang dicintai Allah dan manusia, serta alam semesta hanya dengan mengubah cara berpikir kita agar berpikir cemerlang. Mampu mengaitkan realita yang diindera lalu dihukumi dengan syariat Islam. Berujung pada tindakan penyelesaian persoalan umat yang solutif. Dan yang terpenting memimpin dengan diiringi oleh penerapan aturan Islam.

Walhasil, terbentuk lah pemimpin yang berkarakter khas. Mampu membangun negeri tanpa bergantung pada luar. Karena keyakinannya pada Allah yang telah menurunkan Islam sebagai rakyat bagi penyesesaian persoalan umat.[]


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button