Fenomena Caleg Gagal, Potret Buram Penduduk Negeri Ini

Pemilu dalam Islam adalah uslub untuk mencari pemimpin atau majelis umah dengan mekanisme sederhana, praktis, tidak berbiaya tinggi dan penuh kejujuran tanpa tipuan ataupun janji-janji. Para calon pemimpin harus punya kepribadian Islam dan hanya mengharap keridaan Allah semata.
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Banyak fenomena yang terjadi akibat caleg gagal dalam pemilu, dan ini juga berdampak pada timsesnya. Seperti yang dirilis tvonenews (18/2/ 2024), akibat kekalahan caleg pada pileg, banyak timses yang mengalami tekanan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat ada dua timses yang mengalami tekanan hebat yang kemudian mengambil kembali amplop yang sebelumnya dibagikan kepada warga.
Di Nusa Tenggara Barat rumah tim sukses caleg lawan dilempari karena diduga melakukan kecurangan. Di Banyuwangi, Jawa Timur dihebohkan dengan penarikan material paving yang dilakukan salah satu calon anggota legislatif (caleg). Paving blok tersebut ditarik kembali karena caleg itu tidak mendapatkan dukungan suara dari masyarakat di desanya. (Kompas, 19/2/2024)
Dilansir dari okezone (25/2/2024), seorang calon anggota legislatif (caleg) DPRD Kabupaten Subang, Jawa Barat, membongkar jalan yang sebelumnya ia bangun. Hal ini dilakukan karena ia mengalami kekalahan. Selain membongkar jalan, caleg tersebut juga menyalakan petasan di menara masjid di Tegalkoneng, Desa Tambakjati, Kecamatan Patokbeusi, Subang.
Ada juga seorang tim sukses yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di pohon rambutan. Hal ini dijelaskan oleh Kapolres Pelalawan Ajun Komisaris Besar (AKB) Suwinto, diduga akibat depresi lantaran caleg yang diusungnya tidak mendapatkan suara sesuai harapan atau kalah. (mediaindonesia, 19/2/2024)
Paska pemilu terdapat berbagai fenomena caleg yang gagal terpilih dan timses yang kecewa. Mulai dari yang menderita stress, bahkan bunuh diri hingga menarik kembali ‘pemberian’ pada masyarakat. Berbagai fenomena tersebut menggambarkan betapa lemahnya kondisi mental para caleg atau tim sukses yang hanya siap menang dan tidak siap kalah. Fenomena ini juga menggambarkan betapa jabatan menjadi sesuatu yang sangat diharapkan mengingat keuntungan yang akan didapatkan, sehingga rela ‘membeli suara’ rakyat dengan modal yang besar dengan pamrih mendapat suara rakyat. Di sisi lain menggambarkan betapa model pemilu ini adalah pemilu yang berbiaya tinggi dan mahal.
Sistem demokrasi rawan mengantarkan para kontestannya mengalami gangguan mental. Dikarenakan biaya nyaleg yang mahal dan harus menguras harta benda bahkan sampai meminjam uang dan mencari sponsor. Pada saat gagal mereka akan kehilangan harta bendanya dan harus mengembalikan semua hutang-hutangnya. Dan ini yang menjadikan mereka pada akhirnya kena mental karena mengalami kegagalan.
Dalam sistem demokrasi sekuler para caleg orientasinya adalah kekuasaan dan materi, yang tulus ikhlas bertujuan untuk membangun bangsa sangat sedikit. Jumlah keberadaan caleg yang ikhlas tersebut, akan terlindas oleh orang-orang yang memiliki ambisi kekuasaan dan harta. Karena dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan akan lebih mendominasi para caleg yang tidak paham agama. Akan banyak caleg yang menghalalkan segala cara untuk bisa memenangkan kontestasi yang diikutinya.
Mereka tidak peduli pada yang halal dan haram, mudarat atau maslahat bagi umat. Dan kandidat yang ikhlas akan tersingkir dengan sendirinya karena tidak mau melakukan kecurangan.
Sistem kapitalis sekuler menjadikan jabatan harus direbut karena, dengan jabatan akan menaikkan derajat dan harga diri atau prestise. Dengan jabatan akan mudah mendapatkan materi yang bisa memenuhi fasilitas kehidupan. Akan tetapi bagi kandidat yang lemah imannya, apabila mengalami kekalahan ia akan mengalami depresi karena tidak tahu tujuan hidup yang hakiki.
Sistem demokrasi yang berslogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat hanyalah sebuah ilusi yang tidak pernah terealisasi. Karena pada saat pemilu dalam demokrasi para pemenang tidak sama sekali menjadi representasi rakyat. Kebijakan atau undang-undang yang dibuat hanya untuk kepentingan oligarki. Rakyat tidak merasakan kesejahteraan dan keadilan karena memang pesta demokrasi hanya sebagai alat untuk mengukuhkan kekuasaan para oligarki. Seolah-olah rakyat ikut andil dalam menentukan penguasa, padahal semua sudah diatur pemenangnya adalah yang tunduk pada pengusaha. Ketentuan inilah yang menyebabkan caleg mengalami depresi akibat kecurangan dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Berbeda dengan Islam yang memandang jabatan adalah amanah yang akan dipertanggung jawabkan kepada Allah Swt. Rasulullah saw. Bersabda, “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Islam menetapkan cara-cara yang ditempuh harus sesuai dengan hukum syara.
Jabatan adalah amanah dan harus benar-benar bisa menjalankan amanah dalam jabatannya. Karena pemimpin atau jabatan yang tidak amanah akan dimasukkan neraka oleh Allah Swt. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).
Pemilu dalam Islam adalah uslub untuk mencari pemimpin atau majelis umah dengan mekanisme sederhana, praktis, tidak berbiaya tinggi dan penuh kejujuran tanpa tipuan ataupun janji-janji. Para calon pemimpin harus punya kepribadian Islam dan hanya mengharap keridaan Allah semata. Uslub pemilu didalam Islam itu bisa digunakan dan bisa juga tidak digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Metode yang baku didalam Islam untuk mendapatkan kekuasaan adalah dengan thalab an-nushrah dan metode baku untuk mengangkat khalifah atau pemimpin adalah dengan bai’’at. Thalab an-nushrah dilakukan dengan melalui dakwah dan perlu adanya jamaah partai politik Islam ideologis.
Semua itu hanya bisa diaplikasikan dengan penerapan Islam kafah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






