Opini

Sistem Kapitalisme Hasilkan Generasi Rusak

Hanya dengan Islam yang mampu melahirkan generasi yang taat pada Allah, Rasul, dan juga menghormati orang tua.


Oleh Sri Ayu Juma Ela, S.M.
(Aktivis Dakwah)

JURNALVIBES.COM – Silih berganti masalah datang mulai dari kasus L687, prostitusi, kemiskinan massal, dan masih banyak lagi yang terjadi di negara Indonesia tercinta ini. Namun, solusi yang ditawarkan masih saja tambal sulam. Memperbaiki sebagian dari masalah yang terjadi tidak tuntas sampai ke akar permasalahan saat ini. Mengapa demikian?

Kapitalisme menjadi sumber utama malapetaka yang menghilangkan rasa kasih sayang dan kepedulian anak terhadap orang tua. Demokrasi dengan kebebasan berpendapat, kebebasan bertindak, dan kebebasan beragama telah melahirkan generasi yang jauh dari Islam. Membuat anak bertindak tanpa rasa takut serta dengan alasan ekonomi yang membuat mereka tega membuang orang tua sendiri ke panti jompo.

Sistem rusak ini juga yang mengakibatkan negara abai dengan urusan rakyat karena negara seolah berlepas diri dari beban hidup yang dihadapi masyarakat. Akhirnya, berbagai kerusakan dan problematika hidup pun terjadi.

Anak tidak lagi menjadi penyejuk mata bagi orang tua. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang rusak dan tidak berbelas kasih. Ini semua karena kekurangan materi, ketidakadilan ekonomi, serta kurangnya pemahaman tentang nilai agama sehingga, hilangnya fitrah sebagai manusia.

Sistem kapitalisme merusak hubungan orang tua dan anak serta menghasilkan anak yang rusak serta durhaka kepada orang tua.

Fakta menunjukkan, tepat pada tanggal 22 Oktober 2021 seorang ibu bernama Trimah berusia 65 tahun yang merupakan warga Magelang, Jawa tengah, dititipkan ke sebuah panti jompo Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa timur. “Karena dia masih numpang sama mertua, anak empat, kondisi Covid-19 ini tidak bekerja”, kata Trimah. Anaknya baik laki-laki maupun perempuan sekarang menjadi tukang ojek. Sudah lima hari dia di sana, anaknya tidak pernah menjenguknya bahkan kontak via telepon pun tidak pernah. (Vivo.co.id, 31/11/2021)

Sementara itu, salah satu pengurus Griya Lansia Husnul Khatimah, Nur Hadi berharap tidak ada kejadian seperti ini lagi dan supaya anaknya merawat lagi orang tuanya, karena mereka sebenarnya hanya fokus pada lansia yang terlantar. (Viva.co.id, 31/10/2021)

Tak hanya itu seorang pria lanjut usia (lansia). Akhirnya meninggal di salah satu lokasi dalam wilayah Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh sekitar pukul 15.00 WIB Jumat, 3 April 2021. Keberadaan lansia yang sedang sakit ini diketahui berdasarkan laporan telepon yang diterima oleh koordinator tenaga kesejahteraan sosial (TKSK) Dinsos Aceh, Misra Yana, S.Psi., M.Si. menjelang Jumat, 3 April 2021.

“Lansia tersebut berumur kira-kira 80 tahun badan kurus, tangan bengkak, dalam keadaan nafas terengah-engah beliau masih sanggup berkomunikasi meski sangat kepayahan. Dia mengaku dibuang oleh anak-anaknya ke lokasi itu sehari sebelumnya,” kata Misra Yana, (Serambinews.com, 3/04)2021).

Dengan melihat kasus di atas kita dapat menarik benang merah. Bahwa, masalah ini terjadi karena manusia tidak mau berhukum pada hukum Allah. Hukum yang digunakan adalah hukum buatan manusia, dengan sistem kapitalisme di mana semua dilakukan atas dasar manfaat serta keutungan semata.

Mengapa sistem kapitalisme melahirkan anak-anak yang tidak menghormati orang tua? Karena sistem kapitalisme hanya mampu menghasilkan anak-anak yang berwawasan luas namun cacat moral dan bobrok perilaku. Sebab pendidikan sekuler mengedukasi nilai-nilai liberal pada anak. Nilai Hak Asasi Manusia (HAM) menjadikan generasi yang individualis serta tidak mau mendengar nasihat orang lain.

Namun berbeda jauh dengan Islam. Allah Swt. berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan  “ah”. Dan jangalah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”. (TQS. al-Isra : 23).

Kita di perintahkan untuk berbakti kepada orang tua bahkan dilarang untuk berkata “ah” bahkan dengan kata-kata kasar. 

Perjuangan orang tua terutama seorang ibu yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, dan membesarkannya. Tanpa mengeluh sedikitpun bahkan mereka rela untuk tidak tidur yang penting anaknya baik-baik saja. Seorang ayah yang berjuang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga tanpa rasa lelah dan letih agar anaknya tubuh dengan baik.

Rasulullah Saw. juga memerintahkan agar kita menghormati orang tua kita. Bahkan menghormati ibu sampai tiga kali baru keempatnya ayah. Kemudian, bagi seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tua sangatlah merugi seperti yang dijelaskan dalam hadis berikut, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk surga,” (HR Muslim).

MasyaAllah dalam Islam kita diperintahkan untuk berbakti dan menghormati orang tua. Bahkan rida Allah berada bersama rida orang tua dan murka Allah adalah murka orang tua. Dalam Islam juga pendidikan yang dihasilkan mampu membuat anak-anak yang akan menghormati orang tua.

Berbeda halnya dengan sistem Islam. Ketika Islam diterapkan secara kafah, anak-anak akan dididik menjadi anak yang berbakti. Mereka tidak akan merasa enggan merawat orang tua di usia senja, karena kehidupan mereka dijamin oleh negara. Hal itu dilakukan dengan beberapa cara.

Pertama, khilafah menetapkan bahwa setiap lelaki muslim khususnya kepala rumah tangga, bertanggung jawab, bekerja guna menafkahi keluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini didukung lapangan pekerjaan memadai yang disediakan.

Kedua, khilafah mendorong masyarakat saling tolong menolong. Jika terjadi kekurangan atau kemiskinan yang menimpa individu masyarakat. Maksudnya, keluarga dan tetangga turut membantu mereka yang dalam kondisi kekurangan dengan berbagai macam aturan Islam, seperti zakat, sedekah, dan lainya.

Ketiga, khilafah menerapkan sistem ekonomi Islam dan mengatur berbagai kepemilikan demi kemakmuran rakyat, baik kepemilikan individu, umum, dan negara. Negara juga menjamin kehidupan setiap individu masyarakat agar benar-benar mendapatkan sandang, pangan, dan papan.

Hanya dengan Islam yang mampu melahirkan generasi yang taat pada Allah, Rasul, dan juga menghormati orang tua. Ditanamkan nilai-nilai Islam sejak dini dan menghasilkan generasi yang berilmu, serta berakhlak mulia, dan berperilaku baik.

Maka sudah saat bergerak untuk menyadarkan umat agar kembali pada sistem yang benar yaitu Islam. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button