Bunuh Diri Pelajar, Kegagalan Pendidikan Karakter Sekuler

Dalam sistem Islam, membangun kepribadian Islam merupakan inti dari sistem pendidikannya. Sistem Islam menjamin akses pendidikan untuk semua warga negara dan menghasilkan masyarakat yang kokoh sejahtera.
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Baru-baru ini ramai di media sosial twitter mengenai curhatan seorang kakak yang kebingungan karena adiknya telah menghilang. Ternyata adiknya telah melakukan bunuh diri karena tidak diterima di PTN. Sebelumnya sang adik mengatakan bahwa telah bernazar, kalau diterima PTN ia akan memberikan santunan kepada anak yatim, dan apabila tidak diterima ia akan melakukan bunuh diri. (hops.id, 13/7/2022)
Di tahun 2020 juga ada kasus serupa, ada seorang mahasiswa melakukan gantung diri dikarenakan tidak lulus-lulus kuliah selama tujuh tahun. Mahasiswa tersebut telah mengajukan skripsi dan ditolak terus menerus oleh dosen pembimbingnya sehingga mahasiswa tersebut stres dan akhirnya melakukan bunuh diri. (regional.kompas.com, 15/7/2020)
Kasus bunuh diri cukup sering dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa di negara ini. Hal ini dilakukan karena berbagai macam sebab, ada yang karena tidak diterima di PTN, tidak lulus kuliah, ditolak pacar, bahkan sampai pada beban pendidikan dan ekonomi. Banyaknya kasus bunuh diri pada pelajar menjadi bukti bahwa sistem pendidikan sekuler telah gagal membangun kepribadian yang kuat pada diri pelajar.
Sistem pendidikan sekuler telah menjadi pintu masuk bagi kapitalisasi pendidikan yang semakin menyuburkan lahirnya kaum pragmatis yang materialistik. Sistem kapitalis yang menghamba pada uang meniscayakan kehidupan yang berstandar materi. Bagi yang tidak mampu meraih materi, menjadikan poros kebahagiaannya hanya dipusatkan pada capaian nominal dan apabila tidak tercapai maka cepat atau lambat akan mengalami depresi dan putus harapan.
Menurut National Comorbidity Survey (NCS) remaja usia 15 sampai 18 tahun rentan terkena depresi dan 20% remaja akan mengalaminya pada usia 18 tahun. Depresi yang berat akan mengalami kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri (self harm) hingga melakukan bunuh diri. Sebesar 80 – 90% kasus bunuh diri merupakan akibat dari depresi dan kecemasan. Kasus bunuh diri di Indonesia bisa mencapai 10.000 per tahun atau setara dengan setiap satu jam terdapat kasus bunuh diri. Menurut ahli suciodologist, sebanyak 4,2% pelajar di Indonesia pernah berpikir bunuh diri. Pada kalangan mahasiswa sebesar 6,9% mempunyai niatan untuk bunuh diri sedangkan 3% lainnya pernah melakukan percobaan bunuh diri.
Depresi pada remaja bisa diakibatkan oleh beberapa hal seperti tekanan dalam bidang akademik, perundungan (bullying), faktor keluarga, dan permasalahan ekonomi.
Sistem pendidikan sekuler memiliki konsep pendidikan karakter, namun hal tersebut sulit membentuk insan yang berakhlak dan mulia, yang mengerti sopan santun serta punya tanggung jawab dan budi pekerti yang luhur. Karena pendidikan sekuler yang diberikan tidak mampu melahirkan sumber daya manusia yang mulia dan bermartabat.
Pendidikan yang diberikan dengan memisahkan agama dari kehidupan menjadikan generasi rapuh dan gampang terkoyak dalam menghadapi problematika kehidupan. Tujuan hidupnya di dunia hanya untuk bersenang-senang dan menikmati kenyamanan. Apabila menghadapi permasalahan, maka mudah menjadikannya depresi, putus asa dan akhirnya terpikir untuk bunuh diri.
Sistem pendidikan sekuler juga melahirkan generasi yang rusak dan tidak punya moral, seperti pergaulan bebas, narkoba, L967Q, inses, praktik aborsi, pornografi-pornoaksi, dan budaya kekerasan.
Pendidikan sekular telah gagal membawa nilai-nilai kebaikan dan hanya mampu mengasah skill dan kecerdasan. Pendidikan dalam sistem sekuler juga telah gagal mengasah keluhuran adab dan ketinggian moral. Oleh karenanya umat harus waspada, karena dengan gencarnya arus sekularisasi pendidikan, generasi masa depan akan semakin kehilangan pegangan dan semakin jauh dari Islam yang menjadikan kunci kebangkitan.
Perjuangan generasi Muslim hari ini sungguh berat, karena harus berjuang membangun kepribadian Islam di sekolah-sekolah yang berisikan nilai-nilai sekuler. Saat ini tidak akan mudah mencetak generasi Islam dalam habitat peradaban sekuler.
Hanya sistem Islam yang akan bisa melahirkan karakter agung, yang dikenal dengan istilah kepribadian Islam atau syakhshiyah Islam.
Kepribadian Islam ini nampak dari pola pikir dan pola sikap yang selalu bersandar pada akidah Islam sebagai akidah yang sahih, yang sesuai dengan fitrah, memuaskan akal, dan menenteramkan hati sekaligus melahirkan tata aturan kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan manusia.
Dalam sistem Islam, membangun kepribadian Islam merupakan inti dari sistem pendidikannya. Sistem Islam menjamin akses pendidikan untuk semua warga negara dan menghasilkan masyarakat yang kokoh sejahtera. Sistem Islam menjamin pendidikan generasi dan bertanggung jawab memberikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan rakyatnya bahkan menggratiskan seluruh fasilitas pendidikan karena pengelolaan keuangan dan pendapatan negara yang amanah.
Sistem Islam akan menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, dan buku-buku pelajaran. Seperti pada masa kepemimpinan Khalifah al-Muntashir Billah, telah berdiri Madrasah al-Muntashiriah di kota Baghdad. Setiap siswa mendapatkan beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas) dan kehidupan keseharian para siswa dijamin penuh oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, bahkan pemandian. Masya Allah.
Hanya di dalam Islam generasinya akan mempunyai kepribadian Islam, generasi yang tangguh dalam menjalani kehidupan dan mampu memecahkan problematika kehidupan. Ini hanya bisa didapat apabila Islam diterapkan secara keseluruhan dalam kehidupan dengan bingkai Khilafah. Karena hanya Khilafah yang mampu menjadikan dan mewujudkan masa depan generasi gemilang dan cemerlang. Insya Allah. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuhal; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






