Mengembalikan Akal Sehat Generasi

Sebagai agama yang agung, Islam memberikan gambaran nyata dalam melahirkan generasi cemerlang. Penerapan aturan Islam dicontohkan secara langsung oleh manusia mulia, yakni Nabi Muhammad Saw.
Oleh Meilina Trijayanti, S.P.
(Muslimah Indramayu)
JURNALVIBES.COM – Semakin hari kehidupan masyarakat terasa semakin berat. Harga-harga sembako semakin melangit. Meningkatnya kriminalitas mulai dari perampokan, pencurian, pembunuhan, rudapaksa, pemerasan, pencopetan, penganiayaan, menjadi pemberitaan sehari-hari. Parahnya segudang masalah tersebut seakan tidak menjadi bahan pikir masyarakat bahkan pemerintah sekalipun. Sehingga kriminalitas acap kali berulang lalu menular. Semakin keji dan absurd.
Memasuki bulan Februari 2024, media sudah digegerkan dengan kasus pembunuhan satu keluarga disertai dengan rudapaksa para korbannya, dan pencurian. Kejahatan tersebut terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Pelakunya seorang remaja berusia 16 tahun. Aksi brutal ini diduga akibat dendam dan sakit hati berlatar asmara. (jawapos, 8/2/2024).
Suatu peristiwa di luar akal sehat, ketika seorang pelajar SMK yang semestinya fokus belajar, malah terpikir dan berani melakukan perbuatan sadis dan keji. Betapa tidak dikatakan sadis, jika anak usia tiga tahun pun dihabisi. Sudah pasti keji, karena pelaku merasa tak cukup hanya dengan membunuh, tapi diikuti pula dengan melakukan rudapaksa kepada dua jasad korban, yakni ibu dan anak perempuan tertuanya yang bersimbah darah.
Malangnya di negeri ini. Sangat jarang ditemukan remaja yang berdedikasi tinggi membangun diri dan masyarakatnya. Gaya hidup hedon, yang sarat dengan keglamoran, nakoba, dan seks bebas, justru amat lekat dengan remaja saat ini. Tontonan yang senantiasa menyajikan gairah seksual remaja plus sarana prasarana yang memudahkan mereka berperilaku bebas, mempercepat kerusakan moral mereka.
Mereka menjadi generasi yang tidak dapat diharapkan menjadi pemimpin yang amanah. Generasi lemah yang hanya berambisi meraih kesenangan dunia. Maka tak aneh, negeri kaya raya seperti Indonesia menjadi sasaran empuk para oligarki baik lokal maupun asing.
Nasib Generasi di Ujung Tanduk
Maraknya kasus keji yang melibatkan remaja menjadi potret buram sistem pendidikan yang berlaku. Sudah selayaknya proses pendidikan dimulai dari keluarga. Keberadaan orang tua sepatutnya mampu menanamkan nilai-nilai luhur dalam membentuk pribadi yang berkarakter baik. Namun keberadaan keluarga dalam sistem kapitalis ini pun tak luput dari dampak gempuran ide-ide rusak.
Sempitnya lapangan pekerjaan, minimnya gaji yang diterima, serta semakin tak terjangkaunya harga-harga kebutuhan, menjadikan tak hanya seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab mencari nafkah. Kaum hawa pun turut terseret dan berjibaku dalam mengais pundi-pundi rupiah. Diperparah dengan ide feminisme yang menjangkiti benak kaum hawa, membuat mereka tidak merasa berdosa ketika harus meninggalkan rumah dan keluarga.
Rumah terkondisikan kosong dari peran pendidik. Rumah kini tak lagi menjadi tempat yang hangat untuk menanamkan nilai-nilai agama, mencontoh tingkah laku orang tua, sopan santun, gaya bicara dan sikap disiplin bagi anak-anak.
Ditambah dengan penerapan sistem pendidikan kapitalis-sekuler di sekolah-sekolah formal. Peserta didik diarahkan hanya untuk menjadi “budak dunia”. Kepintaran dan kecerdasan sebagai hasil dari pendidikan hanya ditujukan untuk meraih kekayaan sebagai simbol dari makna kebahagiaan. Mereka dijauhkan dari nilai-nilai agama. Mereka hanya dikenalkan dengan kecerdasan yang dikendalikan oleh hawa hafsu dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Akhirnya mereka mewujud sebagai generasi angkuh, pongah dan jumawa, yang tidak merasa memiliki keterbatasan.
Regulasi hukum ala kapitalis, turut andil dalam menambah jumlah kasus kejahatan setiap menitnya. Ini membuktikan bahwa penerapan hukum warisan penjajah tidak efektif untuk menyelesaikan masalah kriminal. Bentuk hukuman yang tidak membuat jera para pelaku tindak kejahatan, menjadikan orang lain tidak tercegah untuk melakukan perbuatan yang sama. Pada akhirnya nyawa tak lagi berharga. Harta mudah sekali terampas. Begitu pun kehormatan, sangat mudah terenggut.
Langkah Islam Mewujudkan Generasi Cemerlang
Sebagai agama yang agung, Islam memberikan gambaran nyata dalam melahirkan generasi cemerlang. Penerapan aturan Islam dicontohkan secara langsung oleh manusia mulia, yakni Nabi Muhammad saw.
Dimulai dari penataan ekonomi negara, Rasulullah membuktikan kesejahteraan dan kenyamanan hidup mampu diwujudkan. Selama 13 abad, Islam menjadi mercusuar dunia. Di mana keluhuran beradaban dan ketinggian ilmu pengetahuan menjadi magnet bangsa asing untuk mempelajarinya.
Negara berperan langsung dalam mengatur, mengelola dan mendistribusikan kekayaan. SDA sebagai rahmat Sang Pencipta akan dikelola sepenuhnya oleh negara. Keuntungan yang diperoleh akan disampaikan kepada seluh warga negara dalam bentuk penyediaan berbagai fasilitas kehidupan.
Para penanggung jawab nafkah tidak akan dibuat kepayahan dalam memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Kebutuhan sandang, papan, pangan, dipenuhi melalui mekanisme ekonomi yang solid, mulai dari individu, keluarga, sampai negara. Kebutuhan yang bersifat kolektif dalam pemenuhannya seperti pendidikan, kesehatan, keamanan serta ketersediaan listrik dan air bersih, diadakan oleh negara dengan biaya yang tidak membebani, bahkan bisa sampai digratiskan.
Bermula dari sini hak dan kewajiban yang diamanahkan kepada orang tua akan tertunaikan tanpa tumpang tindih. Seorang ayah terkondisikan untuk fokus dalam menjaga keluarga dan mencari nafkah. Seorang ibu pun akan terkondisikan fokus di dalam rumah untuk menanamkan adab serta nilai-nilai luhur agama, termasuk di dalamnya menanamkan akidah yang mengenalkan akan adanya hari penghisaban.
Sistem pendidikan formal yang diselenggarakan negara juga sefrekuensi dengan pola didik dalam keluarga. Akidah Islam yang mendasi pondasinya. Pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk kebaikan umat, negara, dan agama. Generasi cerdas, jujur dan amanah niscaya dapat terlahir dari pola pendidikan ukhrawi
Di sisi lain, negara akan meregulasi aturan mengenai peredaran informasi baik media daring atau pun luring. Dengan tujuan untuk mencegah kerusakan dalam masyarakat, negara hanya mengijinkan informasi-informasi yang bermanfaat berupa wawasan, ilmu, dan teknologi. Negara akan menertibkan tayangan-tayangan hiburan yang dapat melalaikan dan menyia-nyiakan waktu. Negara juga akan mencegah beredarnya barang-barang haram yang dapat merusak kewarasan akal seperti khamr dan narkoba.
Selanjutnya adalah penerapan sistem sanksi. Negara menerapkan sistem sanksi sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunah. Kedua sumber hukum inilah yang akan menjadi standar baik-buruk, benar-salah. Kepentingan dan hawa nafsu manusia tidak diberi peluang untuk mengintervensi hukum.
Dengan semua langkah ini, akan terwujud generasi baru dengan ketinggian pemikiran. Tidak sumbu pendek, dan paham resiko. Jangankan melakukan kekejian, terbersit pun tidak. Karena sibuk dengan karya dan perlombaan mempersembahkan yang terbaik di hadapan Allah. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






