Deflasi, Harga Tak Terbeli Rakyat Gigit Jari

Dalam Islam kebutuhan pokok individu harus dipenuhi orang per orang. Caranya adalah dengan memberikan lapangan pekerjaan kepada semua kepala keluarga yang belum mempunyai pekerjaan. Harapannya dengan hasil jerih payahnya, maka anak dan istri dan seluruh keluarga besarnya bisa hidup dengan layak.
Oleh Adibah Ummu Affan
JURNALVIBES.COM – Deflasi menjadi tanda bahwa kondisi ekonomi suatu negara sedang tak baik-baik saja. Kesulitan hidup rakyat dalam sistem kapitalisme menjadi keniscayaan. Mengapa harus terus bertahan dalam sistem batil ini ? yang telah nyata membuat rakyat terus menderita ?
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan bahwa dari catatan BPS, Indonesia mengalami deflasi 0,12 % pada September 2024. Kondisi ini merupakan yang terparah dalam lima tahun terakhir pemerintahan presiden Joko Widodo. Deflasi ini adalah deflasi kelima pada tahun 2024 terjadi secara bulanan. (bbc, 4-10-24)
Apabila dalam suatu wilayah terjadi penurunan harga, kemudian jumlah uang yang beredar juga ikut berkurang yang menyebabkan daya beli masyarakat turun, maka di wilayah tersebut terjadi deflasi. (djpb.kemenkeu, 31-07-23).
Deflasi yang yang terjadi di negeri tercinta ini sudah berjalan selama lima bulan berturut-turut. Dari pengertian deflasi diatas dapat kita rasakan efek dominonya. Ketika daya beli masyarakat menurun, maka harga barang dan jasa akan menurun pula, karena sedikitnya permintaan. Dalam jangka panjang bila harga barang dan jasa terus menurun, maka produksi akan berkurang dan pada akhirnya mengakibatkan PHK massal. Pertanyaannya, mengapa daya beli masyarakat menurun ? apakah karena mereka tidak mempunyai uang untuk berbelanja? Atau ada keperluan lain yang mereka lebih pentingkan ketimbang berbelanja?
Kalau kita perhatikan saat ini masyarakat banyak mengalami kesulitan ekonomi, sebut saja penyebabnya adalah mereka menjadi korban PHK, otomatis kepala keluarga akan berupaya mencari kerja baru dan akhirnya lebih mementingkan biaya pendidikan anak-anaknya ketimbang berbelanja. Banyak keluarga akan berhemat, demi bisa bertahan hidup dan anak-anak tetap bersekolah. Apalagi ekonomi Indonesia sebagian besarnya ditopang oleh konsumsi rumah tangga (masyarakat).
Ketika lapangan kerja padat karya semakin berkurang, karena investor luar negeri mempersyaratkan mereka membawa tenaga kerja dari negerinya. Maka rumah tangga yang harusnya dapat berbelanja jadi terhenti. Hal ini juga turut menyumbang terjadinya deflasi.
Sungguh miris, negeri yang kaya sumber daya alam (SDA) tapi hari demi hari terus mengalami kesulitan ekonomi. Rakyatnya tidak dapat mengakses lapangan kerja, ujung-ujungnya yang disalahkan adalah kemampuan sumber daya manusia (SDM) nya rendah, kalah bersaing dengan pekerja luar negeri.
Seharusnya ini menjadi peringatan bagi kita semua, khususnya pemerintah yang bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya. Namun hal ini akan sulit teratasi bila sistem ekonomi yang dijalankan adalah sistem ekonomi kapitalis. Mengapa? karena sistem ini dikuasai oleh para kapital. Keuntungan besar dalam setiap bisnis menjadi hal yang utama, termasuk juga dalam urusan penggajian karyawannya. Gaji pekerja menengah ke bawah seringnya pas-pasan di tengah banyaknya kebutuhan seperti kesehatan dan pendidikan yang harus mereka penuhi. Jadi selama sistem kapitalisme ini ada, maka deflasi akan terus terjadi.
Berbeda dengan sistem Islam, di mana negara hadir sebagai ra’in yang akan menjaga rakyatnya dari berbagai kesulitan hidup. Dalam Islam kebutuhan pokok individu harus dipenuhi orang per orang. Caranya adalah dengan memberikan lapangan pekerjaan kepada semua kepala keluarga yang belum mempunyai pekerjaan. Harapannya dengan hasil jerih payahnya, maka anak dan istri dan seluruh keluarga besarnya bisa hidup dengan layak.
Selain itu Islam dengan pengaturan sistem ekonominya yang khas, akan mengambil alih pengelolaan SDA yang jumlahnya banyak agar dikelola langsung oleh negara. Dari pengelolaan SDA tersebut, maka negara mempunyai banyak dana untuk memberikan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis. Maka rakyat akan fokus hanya membiayai kebutuhan kesehariannya saja, daya beli mereka pun akan meningkat, karena pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan serta keamanan sudah tidak dibebankan kepada mereka lagi.
Sebagai manusia yang berpikir, pasti tidak ingin berlama-lama dalam sistem kapitalisme ini bukan? Saatnya kita mengambil sistem Islam yang telah terbukti 13 abad lamanya membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by freepik.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






