Biaya Pendidikan Sulit, Umat Kian Terjepit

Islam sangat menghargai ilmu, dulu di masa kekhilafahan tatkala para pakar termasuk mahasiswa membuat karya tulis ilmiah, maka dihargai dengan emas yang beratnya sama seberat karya tulis tersebut. Islam mendorong umat agar terus berkarya dan menghasilkan ilmu-ilmu serta penemuan yang banyak.
Oleh Lia Sholehah
(Aktivis Muslimah Muda)
JURNALVIBES.COM – Sungguh mahal biaya hidup hari ini, niat hati ingin menjalani hidup yang nyaman malah terhimpit dengan beban ekonomi. Beras, cabai, dan berbagai kebutuhan lainnya semakin hari semakin sulit dijangkau. Tidak hanya sebatas pangan, sandang, papan yang melonjak naik, namun biaya pendidikan pun kian melangit, terutama pada tingkat perguruan tinggi.
Di Banjarmasin, perlu merogoh kocek sekitar 2-4 juta rupiah per semester untuk bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Itu pun biayanya masih standar, karena besaran biaya tergantung pada program studi yang diambil oleh mahasiswa. Terlebih jika program studinya adalah di bidang kesehatan, sudah pasti lebih mahal. Meskipun masih ada beberapa kampus yang memberlakukan biaya di bawah dua juta, namun fasilitas yang didapat pun juga kurang memuaskan. (Danacita, 22/02/2023).
Kendati demikian, biaya kuliah di Kalimantan Selatan masih diklaim biaya paling murah dibandingkan pulau lainnya di Indonesia. Bisa terbayang betapa sulitnya akses pendidikan hari ini. Meski ada jalur bidikmisi atau beasiswa lainnya yang memudahkan mahasiswa untuk tetap belajar tanpa harus memikirkan biaya, namun akses “kuliah gratis” tersebut terbatas, dengan syarat-syarat yang sangat sulit, sehingga tidak semua orang bisa mendapatkannya. Tidak hanya itu, kampus juga memberi opsi dengan menyarankan mahasiswa untuk berutang di pinjaman online agar bisa membayar biaya kuliah, artinya mahasiswa tetap dibebankan dengan tingginya biaya kuliah, sehingga harus melakukan pinjaman online. (DetikNews, 30/01/2024).
Sungguh malang nasib generasi muda, berharap bisa mengejar cita-cita setinggi tingginya, namun terhalang biaya. Mungkin banyak yang ingin menjadi dokter, tetapi harus rela meninggalkan cita-cita tersebut dikarenakan tingginya biaya kuliah kedokteran. Banyak mahasiswa rela memilih program studi yang tidak diminatinya hanya karena biayanya lebih murah dibanding program studi yang sangat diinginkannya. Bahkan sampai ada mahasiswa yang terus melakukan pinjaman online demi tetap bisa melanjutkan kuliah sampai akhir.
Tidak sedikit yang bekerja banting tulang karena perekonomian keluarga belum bisa mendukung pendidikan mereka, sementara akses beasiswa terbatas. Lebih mirisnya lagi, banyak orang tua yang rela sakit-sakitan karena kerja demi pendidikan anak. Bagi mereka tidak mengapa harus bekerja siang malam mencari uang, asalkan anak bisa lulus dari perguruan tinggi.
Di tengah biaya pendidikan yang melangit hari ini, tak ayal membuat generasi muda tidak bisa fokus belajar, bahkan sampai putus di tengah jalan, atau mengurungkan niatnya untuk sama sekali tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tatkala mahasiswa menyuarakan keluh kesahnya di kampus, malah dianggap melakukan makar, padahal mereka hanya ingin didengar dan diayomi dengan baik. Tidak jarang mahasiswa yang melakukan demonstrasi di kampus berujung pada diskriminasi.
Fenomena seperti ini memang tidak mengherankan dalam sistem kapitalis. Tatkala pendidikan tolok ukurnya hanya sebatas materi, maka para kapital berusaha keras untuk menjadikan pendidikan sebagai sumber penghasilan mereka. Penguasa di sistem kapitalis tidak lagi mempedulikan apakah rakyatnya bisa menempuh pendidikan dengan mudah ataukah tidak. Bagi mereka yang terpenting bagaimana mencetak generasi sebagai penghasil uang.
Program-program akses pendidikan gratis seperti beasiswa atau “kartu pendidikan” mereka kucurkan untuk menjadi bukti bahwa mereka juga peduli terhadap nasib pendidikan generasi. Padahal faktanya mereka berusaha menutupi ketidakmampuan mereka untuk menjamin pendidikan bangsa. Mereka berlepas tangan dari tanggung jawab terhadap pendidikan rakyat.
Andaikan mereka benar-benar serius menangani dunia pendidikan, maka bukanlah beasiswa yang mereka keluarkan, tetapi jaminan akses pendidikan mudah yang mereka sebarluaskan. Lagi pula program “kartu pendidikan” ala penguasa kapitalis penuh dengan syarat yang sangat menyulitkan, hanya orang-orang yang mereka anggap miskin saja yang bisa mendapatkannya, padahal masih banyak orang-orang miskin yang tidak didata oleh mereka dengan anggapan tidak terkategori miskin, sungguh mereka memakai standar kemiskinan yang tidak jelas.
Kapitalisasi pendidikan ini hanya akan membuat rakyat semakin menderita. Para penguasa menjadikan pendidikan sebagai komoditas bernilai jual tinggi, tidak hanya terjadi di perguruan tinggi swasta, perguruan tinggi negeri pun biayanya tidak kalah hebat. Padahal sejatinya hak pendidikan rakyat adalah kewajiban yang harus dijalankan oleh penguasa. Sudah selayaknya rakyat bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan dijamin oleh negara. Namun sistem kapitalisme hanya fokus pada cara mendapat untung sebanyak-banyaknya, bukan tentang menjamin kesejahteraan rakyat.
Ini berbeda jauh dengan sistem Islam tatkala diterapkan oleh sebuah negara. Islam menjamin enam kebutuhan rakyat, yakni pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Islam tidak menjadikan pendidikan sebagai komoditas, karena tolok ukurnya bukanlah materi. Tetapi Islam menjadikan pendidikan sebagai penyokong peradaban, karena tanpa pendidikan maka tidak akan lahir pemimpin-pemimpin unggul, tidak akan berkembang pemikiran masyarakat, akan mudah dibodoh-bodohi oleh penjajah, dan pastinya menjadi sulit bangkit karena jumudnya pemikiran. Maka dari itu Islam berusaha menjadikan akses pendidikan sangat mudah untuk dijangkau.
Islam sangat menghargai ilmu, dulu di masa kekhilafahan tatkala para pakar termasuk mahasiswa membuat karya tulis ilmiah, maka dihargai dengan emas yang beratnya sama seberat karya tulis tersebut. Islam mendorong umat agar terus berkarya dan menghasilkan ilmu-ilmu serta penemuan yang banyak, sementara negara lah yang akan menanggung beban biaya yang mereka keluarkan demi karya-karya tersebut.
Khilafah Abbasiyah contohnya, betapa banyak karya-karya yang tumbuh kembang di sana. Mulai dari kedokteran, astronomi, matematika dan lain sebagainya. Ilmuwan hebat pada masa itu menjadikan karya tersebut untuk kemaslahatan umat dan agama, bukan menjadi ajang kompetisi meraih gelar atau profesi tertentu kemudian ilmunya dilupakan begitu saja. Negara memfasilitasi perguruan tinggi dengan perpustakaan terbaik, hingga menyediakan klinik atau rumah sakit di lingkungan kampus. Bagi mahasiswa yang merantau, tidak perlu pusing mencari rumah sewaan, karena negara akan memfasilitasi asrama gratis untuk mahasiswa.
Semua itu hanya terwujud di dalam negara yang menerapkan sistem Islam, sistem yang tidak mengukur semuanya berdasarkan materi, tapi mengukur berdasarkan syariat. Jika sistem seperti ini diberlakukan, maka sudah pasti para pembelajar bisa lebih fokus menimba ilmu, orang tua bisa lebih fokus mengayomi anak-anak mereka, tidak lagai harus banting tulang demi pendidikan. Kesejahteraan hanya akan didapat di dalam sistem Islam, maka dari itu haruslah segera kita campakkan sistem fasad hari ini, diganti dengan sistem yang bersumber dari wahyu Sang Pencipta. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






