Syiar Islam Melalui Film Horor, yang Benar Saja!

Gabungan kekuatan sistem dengan ketakwaan pemimpinnya maka menghasilkan aksi yang luar biasa. Hal ini harus menjadi fokus utama sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah swt, agar penistaan agama tidak terjadiberulang kali.
Oleh Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)
JURNALVIBES.COM – Indonesia gudangnya film horor sepertinya bukan isapan jempol. Saat ini, malah yang sedang tren film horor lokal yang mengeksploitasi kegiatan ibadah umat Muslim. Pada 2023, ada film Makmum, Waktu Maghrib, Sijjin, dan Khanzab. Pada tahun ini, ada film Munkar dan terakhir Kiblat yang sudah menuai pro kontra sebelum dirilis.
Pimpinan YPI Baitul Hikmah Ustaz Hilmi Firdausi menyoroti banyaknya film horor yang mengeksploitasi simbol Islam secara negatif. Salah satu yang disorot saat ini adalah promosi film Kiblat yang menunjukkan seseorang yang sedang rukuk namun dalam posisi terbalik (kayang). Ia mengatakan bahwa kita sudah banyak termakan oleh stigma bahwa malam Jumat itu horor, kain kafan itu seram, padahal itu hal-hal mulia dalam Islam. (republika, 25/3/2024).
Karena itu ia meminta produser film tidak lagi menghororisasi simbol-simbol Islam. Jangan sampai karena film tersebut orang-orang justru enggan beribadah karena takut.
Berbeda dengan Ketua Humas Persatuan Artis Film IndonesiaI (Parfi) yang juga Direktur Rumah Film Indonesia, Evry Joe, ia mengatakan film yang membawa unsur agama tentu tidak masalah asalkan itu dibungkus dengan edukasi. Ada pendidikan moralnya, ada pesan moralnya, sebagaimana film yang ia buat tahun 2014 berjudul “Sarang Hantu Jakarta” (republika, 26/3/2024).
Ia pun merasa tidak masalah, karena film ada berbagai genre, ada action, drama, sosial percintaan, horor, selagi drama horor itu membawa bingkai Islam tapi dibungkus dengan pendidikan informal, tapi tidak menyesatkan, tidak mengandung SARA.
Sementara menurut Sutradara Indonesia Joko Anwar, sebenarnya membawa unsur agama dalam sebuah film itu wajar. Sebab masyarakat Indonesia memang lekat dengan agama di dalam kesehariannya. Tapi jangan mengeksploitasi agama, harus respect karena agama yang dijunjung tinggi dan dihargai masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang beragama (Republika, 26/3/2024).
Memang pada akhirnya, Leo Pictures selaku rumah produksi film Kiblat mendatangi Majelis Ulama Indonesia untuk meminta maaf. Hal itu karena Cholil Nafis, Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang Dakwah dan Ukhuwah yang melarang film Kiblat ditayangkan, karena dari posternya saja sudah dinilai sensitif.
Leo Pictures diwakilkan oleh Agung Saputra, Layla, Eko, Ika dan lainnya. Mereka juga didampingi oleh Ustad Syakir. Pada pertemuan itu, Cholil menyarankan untuk mengganti poster dan judul film. Cholil menyebut poster dan judul film itu bisa membuat penonton tidak nyaman. Terlebih film ini mengangkat isu agama Islam.
Cholil juga meminta untuk sensor dilakukan dengan teliti oleh Lembaga Sensor Film, supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam penerimaan pesan dalam film tersebut. Pihak Leo Pictures menerima usul itu dan berjanji mengganti poster dan judul. Sedangkan sensor juga akan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga pesan dalam film itu dapat tersampaikan pada penonton.
Sementara Wakil Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Ervan Ismail menjelaskan film Kiblat masih dalam tahap peninjauan, dan belum lolos sensor. Namun karena kegaduhan ini, LSF akan kembali melakukan sensor pada beberapa bagian. Ada beberapa poin yang memang perlu untuk diperbaiki atau disesuaikan. Misalnya seperti CGI sebenarnya belum utuh sebagai sebuah film jadi masih perlu diperbaiki. (Timesindonesia, 29/3/2024)
Upaya Kapitalisme Keruk Cuan Atas Nama Agama, Mengapa Harus Islam?
Inilah bukti betapa kejamnya kapitalisme meraih keuntungan dari masyarakat ketika berbisnis. Tidak peduli dampak yang ditimbulkan ketika sebuah film yang diproduksi bakal menggeser akidah umat, terlebih saat ini taraf berpikir umat sedang dalam keadaan rendah serendah-rendahnya.
Mereka bertindak hanya berdasarkan tren pasar, bahwa film horor lebih disukai. Yang mereka lihat hanya rupiah yang bakal mengalir menggantikan biaya produksi mereka, sementara siapa yang bertanggungjawab mengganti akidah dan keimanan yang teracuni cerita kurufat (bohong), tahayul, hingga menistakan agama?
Mengapa juga harus Islam yang dijadikan sumber inspirasi, bukan semata karena Islam adalah agama mayoritas di negeri ini bukan? Sebuah film ibarat karya tulis atau novel yang juga menyiratkan pesan. Entah itu moral, pendidikan, sosial dan lain sebagainya tak layak menyandingkannya dengan nuansa horor.
Masyarakat harus dihindarkan dari tontonan semacam ini, terlebih yang berisi penghinaan terhadap Islam. Karena kiblat atau pun simbol-simbol lain dalam agama Islam adalah salah satu istilah Islam, tetapi diambil oleh produsen film demi melariskan dagangan filmnya. Kapitalisme memang selalu menghalalkan segala cara.
Pertanyaan yang harus kita lontarkan, syiar Islam melalui film horor dimana letak edukasinya? Memang sempat viral di media sosial, pengakuan seorang waria yang ingin insaf setelah menonton film Siksa Neraka di bioskop.
Waria asal Indramayu, Jawa Barat tersebut rupanya menepati janjinya. Bisa dilihat dari video unggahan akun TikTok @organizerluvisa pada Rabu (28/12/2023). Tampak si waria berpenampilan sangat berbeda dari saat menonton film Siksa Neraka. Alih-alih pakaian perempuan, dia kini mengenakan baju koko dan sarung lengkap dengan pecinya (suara, 28/12/2023).
Namun berapa banyak yang lebih memilih tidak lebih mendekat kepada agamanya? Alias setengah-setengah dalam mengambil ajaran agamanya, padahal sebelumnya bisa jadi sudah sekuler. Memisahkan agama dari kehidupan. Dalam kapitalisme, ini adalah sebuah keniscayaan bahwa agama hanya diamalkan di ruang-ruang privat sebatas ajaran ritual, seperti salat, puasa, zakat, dan sebagainya. Sedangkan di area publik, masyarakat bebas melakukan apa pun tanpa ada batasan agama, termasuk saat berekspresi di dunia seni.
Film diproduksi hanya untuk meraih keuntungan materi. Semacam mesin algoritma yang berjalan, dimana tren permintaan disitu meningkat penawaran. Umat suka horor, dibuatlah film horor. Masyarakat suka dengan hal-hal yang romantis, dibuatlah film-film percintaan.
Umat Islam Harus Tegakkan Amar Makruf
Allah Swt. mensifati kaum Muslim sebagai umat yang terbaik, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS Ali-Imran:104).
Harus ada pihak yang peduli agar bencana ini tidak terus bergulir, memenuhi pemikiran dan benak generasi. Entah itu para sineas film, pemangku kekuasaan atau bahkan dari rakyat sendiri. Hal yang jika sistem Islam diterapkan secara sempurna tidak mungkin akan terjadi.
Bagaimana Khalifah Abdul Hamid II dahulu pernah melarang sebuah teater yang akan digelar di Perancis dan Inggris, Voltaire (1694-1778) seorang seniman berkebangsaan Perancis, menulis naskah drama berjudul Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète, atau Fanatisme pada Nabi Muhammad. Saat itu Khalifah Abdul Hamid II menyatakan akan menyerang Prancis dan Inggris, ketika dua negara benar-benar akan menggelar pentas drama itu.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan sistem digabung dengan ketakwaan pemimpinnya menghasilkan aksi yang luar biasa. Apalagi jika itu ditujukan untuk kemuliaan Islam, dalam kasus ini semestinya negara mampu menyelesaikan secara tuntas perkara seni yang mengatasnamakan agama padahal jadinya malah menistakan, apalagi pemimpin negeri ini memiliki penduduk mayoritas beragama Islam.
Rasulullah saw. Riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad, “Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” Karakter pemimpin yang demikian menjaga ketaatan rakyatnya hanya kepada Allah Swt. tidak mungkin terlahir dari sistem demokrasi yang melanggengkan kapitalisme.
Maka, harus menjadi fokus utama umat Islam hari ini untuk mengadakannya, sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah swt. Agar penistaan agama berulang kali. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






