Opini

Berislam adalah Merdeka yang Sebenarnya

Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu memerdekaan rakyat dan bangsanya dari ketergantungan ekonomi dan politik dari bangsa-bangsa lain. Serta mampu membangun kemandirian ekonomi dalam mengelola sumber ekonomi negaranya untuk menggapai kehidupan yang mandiri, adil dan sejahtera serta bermartabat.


Oleh Zia Sholihah
(Pemerhati Kebijakan Publik)

JURNALVIBES.COM – Setiap tahunnya, tanggal 17 Agustus diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Seakan menjadi budaya, euforia dalam merayakannya dilakukan oleh setiap lini masyarakat. Sekadar mengikuti upacara kemerdekaan, pawai hingga lomba-lomba yang terkesan seru dan heboh.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti merdeka adalah bebas. Dalam arti berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, dan tidak bergantung kepada pihak tertentu.

Selain itu, merdeka juga bisa diartikan sebagai keadaan bebas tanpa kendali beberapa orang, negara atau entitas lain. Maksudnya, seseorang, bangsa, negara atau penduduk bisa menjalankan pemerintahan dan memiliki kedaulatan atas wilayahnya sendiri.

Evaluasi dan refleksi kemerdekaan mesti berfokus pada makna hakiki kemerdekaan. Arti merdeka sendiri itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta Maharddhikeka yang berarti kaya, sejahtera, dan kuat.

Kemerdekaan yang dimaksudkan pun meliputi merdeka individu, masyarakat dan juga negara.

Individu dikatakan merdeka, ketika berperilaku benar sesuai keyakinannya (dalam beragama) dan mandiri bukan karena tekanan atau sekedar membebek orang lain.

Masyarakat merdeka yang dimaksud di sini berpola pikir dan gaya hidup lepas dari kungkungan budaya lain, selain apa yang diyakininya benar.

Lalu bagaimana merdeka dalam pandangan Islam?

Kemerdekaan seharusnya juga dapat dimaknai sebagai keadaan rohani yang tidak terpaut oleh segala sesuatu yang berkenaan dengan rasa mengekang, mengancam, yang mengintimidasi, sehingga dapat mempengaruhi jiwa, pikiran dan perilaku seseorang. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana kondisi seseorang yang berada di bawah tekanan pihak lain.

Dengan kata lain, di sini kemerdekaan sejatinya adalah keadaan hati yang tenang dan tentram.

Menurut Islam, manusia adalah mahluk yang bebas/ merdeka sejak ia dilahirkan. Dalam lain paradigma, manusia adalah mahluk merdeka ketika ia berhadapan dengan sesamanya. Karena manusia diciptakan oleh-Nya, maka manusia akan menjadi hamba ketika ia berhadapan dengan Tuhannya. Dengan begitu dapat dipahami bahwa, manusia tidak bisa dan tidak boleh menjadi budak orang lain. Perbudakan antar manusia sama artinya dengan melanggar hak Tuhan.

Kemerdekaan manusia dalam Islam sudah diperoleh semenjak ia masih dalam kandungan. Kemerdekaan yang hakiki juga bermakna memberi kebebasan dan kelapangan hati, pikiran, dan perbuatan manusia untuk menyampaikan pendapat dan berkreasi dalam amal perbuatan secara terbuka tanpa ada rasa kahwatir, takut dan tertekan.

Sebagaimana firman Allah Swt yang artinya:
“Berbuatlah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan Orang-orang beriman akan melihat perbuatanmu.” (TQS. At- Taubah [9]: 105).

Selain itu, setiap orang dipersilakan untuk menjalankan syariat agamanya. Kewajiban seorang Muslim hanyalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang arif dan bijaksana.

Nabi Muhammad saw. bahkan dinasihati Allah Swt. untuk tidak memaksa orang kafir beriman, sebagaimana firman-Nya: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?.” (TQS. Yunus [10]: 99)

Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu memerdekaan rakyat dan bangsanya dari ketergantungan ekonomi dan politik dari bangsa-bangsa lain. Serta mampu membangun kemandirian ekonomi dalam mengelola sumber ekonomi negaranya untuk menggapai kehidupan yang mandiri, adil dan sejahtera serta bermartabat.

Begitupula masyarakat mudah untuk memperoleh akses penghidupan yang layak, pekerjaan, informasi, pendidikan, kesehatan, perlindungan, lapangan usaha dan jaminan sosial serta bebas menjalankan syariat agama masing-masing.

Kemerdekaan membutuhkan kepastian hidup yang mensejahterakan dengan alokasi sumber-sumber sosial dan ekonomi yang adil. Sehingga membuka tabir dan sekat-sekat sosial ekonomi masyarakat untuk hidup secara harmonis dan saling menghormati.

Selain itu bangsa yang merdeka adalah masyarkat yang merasakan adanya kepastian hukum yang tegas dan adil kepada semua pihak. Hukum menjadi payung dan panglima dalam berbangsa dan bernegara tanpa ada sedikitpun diskriminasi untuk semua rakyat dalam kaca mata hukum apapun latar belakangnya.

Akhirnya kemerdekaan yang telah diraih dengan pengorbanan pikiran, tenaga, harta, air mata dan nyawa pejuang-pejuang bangsa terdahulu dapat kita jaga, pertahankan, dan kita isi dengan memaksimalkan pengelolaan seluruh potensi alam, sumber daya manusia, untuk mencapai kesejahteraan yang merata.

Oleh karena itu diharapkan semangat, dan kebersamaan sebagai bangsa yang besar untuk bangkit melawan belenggu ketertinggalan untuk mencapai kehidupan bangsa yang mandiri, adil dan makmur yang diridai oleh Allah Swt. Mampu terwujud menjadi negara dan bangsa yang baldatun tayyibatun warabbun ghafuur. Negara yang menerapkan seluruh aturan Allah tanpa terkecuali dalam setiap lini kehidupan. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button