Ramadhan Tiba, Sembako Pasti Naik

Sistem Islam akan mengupayakan agar bagaimana umat bisa maksimal dalam ibadah tanpa dipusingkan dengan sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup. Islam juga akan memperhatikan bagaimana kondisi umat menjelang Ramadan agar kekhusyukan Ramadan tetap terjaga.
Oleh Daneen Mafaza
(Aktivis Muslimah Kalsel)
JURNALVIBES.COM – Layaknya sebuah tradisi, kenaikan komoditas pangan menjelang Ramadan menjadi fenomena lumrah di kalangan masyarakat Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan harga komoditas pangan akan mengalami inflasi pada bulan Ramadan mendatang. Hal ini merupakan situasi musiman seperti tahun-tahun sebelumnya. Habibullah mengatakan kenaikan harga itu disebabkan permintaan yang meningkat pada bulan Ramadan.
Adapun, beberapa komoditas yang berpotensi naik di antaranya, daging ayam, minyak goreng, dan gula pasir. Dia bilang kenaikan harga-harga komoditas tersebut akan mendorong tingkat inflasi secara umum (CNBC Indonesia, 01/03/24).
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi bulan Februari adalah beras. Harga beras dan gabah, tercatat terus melesat sejak Januari 2022, dan kini menyentuh harga tertinggi sepanjang sejarah (kumparanbisnis, 01/03/24).
Memang sangat terasa hari hari ini menjelang Ramadan tiba kenaikan beberapa komoditas. Di antaranya gula pasir, minyak goreng, serta beras yang lebih dulu melonjak harganya di pasaran. Fenomena kenaikan beberapa komoditas bahkan bahan pangan pokok ini seakan menjadi kado tahunan yang harus diterima rakyat.
Tentu bukan tanpa sebab fenomena naiknya kebutuhan pokok masyarakat. Sebagaimana yang diberitakan, salah satu alasannya adalah memasuki musim kemarau sehingga terjadi penurunan produksi terutama beras. Adapun selain itu adalah tingginya permintaan menjelang ramadhan. Lantas, apakah karena dua hal tersebut masyarakat harus menanggung tingginya harga kebutuhan pokok ?
Seharusnya pemerintah jeli dan menuntaskan fenomena tahunan ini. Karena hal ini tidak terjadi satu kali, akan tetapi hampir setiap tahun menjelang Ramadan. Tingginya permintaan komoditas bukan malah menjadi “aji mumpung” sehingga pemerintah lepas tangan untuk melakukan pengontrolan pihak yang memanfaatkan situasi tersebut.
Menuntaskan kecurangan distribusi barang dan melakukan kontrol harga harus benar benar di lakukan pemerintah sebagai upaya memudahkan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Terlebih memasuki bulan suci Ramadan.
Kenaikan harga barang sudah tentu membuat “pening” masyarakat yang pada akhirnya berimbas pada kekhusyukan ibadah di bulan suci ramadhan. Di sisi lain adanya kesalahpahaman masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan. Kebiasaan masyarakat yang konsumtif terlebih di bulan Ramadan menjadikan permintaan komoditas naik, pemerintah harusnya menanamkaan pemahaman hakikat ramadhan yaitu berlomba dalam amal dan ibadah. Bukan hanya mengosongkan perut lalu mengisinya dengan makanan berlimpah ketika berbuka.
Namun apa daya prinsip ekonomi kapitalisme yang mengadopsi prinsemakin tinggi permintaan maka semakin tinggi pula harga komoditas barang. Ini adalah slogan nyata dalam sistem hari ini yaitu sistem kapitalisme sekuler. Pada akhirnya rakyat tetap harus menerima situasi seperti ini, kalaupun ada kebijakan agar menaikan daya beli masyarakat, sifatnya hanya sementara jika sistem yang digunakan masih sistem kufur kapitalisme. Ambilah contoh Tunjangan Hari Raya (THR) misalnya. Mereka yang mendapat THR hanya kalangan tertentu. Katakanlah ASN dan karyawan perusahaan. Masyarakat bawah tetap pada keadaan tidak mendapat apa apa dan harus menelan pil pahit kesulitan ekonomi menjelang ramadhan dan Idul Fitri.
Demikianlah keadaan kita hari ini dalam sistem ini. Sudah sangat jelas menyulitkan. Kesulitan ekonomi di tambah kenaikan harga komoditas. Ketidakfahaman masyarakat tentang hakikat ramadhan karena kehidupan yang sekuler serta pengurusan pemerintah yang tidak pro rakyat menjadi satu kesatuan. Pada akhirnya menyisakan kesengsaraan.
Tentu akan berbanding terbalik dengan sistem Islam. Islam sangat memuliakan bulan suci Ramadhan. Nilai ibadah, amal serta kebaikan kebaikan didalamnya tentu harus sampai kepada umat. Hakikat ramadhan dan bagaimana menyikapi harus sampai kepada umat.
Sistem Islam akan mengupayakan agar bagaimana umat bisa maksimal dalam ibadah tanpa dipusingkan dengan sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup. Islam juga akan memperhatikan bagaimana kondisi umat menjelang Ramadan agar kekhusyukan Ramadan tetap terjaga. Memberi pemahaman tentang sikap dan bagaimana seharusnya membelanjakan harta. Agar tidak terjadi kesalahpahaman umat terhadap bulan suci ramadhan.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).
Banyak lagi hadis yang menyatakan kemuliaan dan kebaikan bulan Ramadan. Oleh itu sudah seharusnya umat Islam menyadari betapa Islam begitu memperhatikan Ramadan dan keutamaannya. Sikap kita sebagai Muslim harus mengambil apa apa yang ada dalam Islam serta mencampakkan sistem rusak kapitalisme. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by Copilot MS Edge
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






