Pasien Meninggal saat Isoman, Periayahan Penguasa Kembali Dipertanyakan

Negara hadir memberikan layanan maksimal dan optimal. Sebagaimana yang tergambar pada kepemimpinan Khalifah Umar bin Al-Khattab. Dimana pada saat terjadi wabah beliau melakukan penguncian terhadap wilayah wabah.
Oleh Siti Komariah
(Pemerhati Masalah Umat)
JURNALVIBES.COM – Sesak rasa hati, mendengar berbagai problem negeri ini yang tak kunjung teratasi. Salah satunya Covid-19, kurang lebih 1,5 tahun telah menyelimuti negeri ini. Mengguncang negeri dengan berbagai masalah tanpa henti. Bahkan, ribuan nyawa rakyat harus melayang dengan berbagai macam kondisi, misalnya saat isolasi mandiri. Akibat kebijakan pemerintah yang setengah hati.
Saat ini Koalisi warga untuk LaporCovid-19 mencatat jumlah pasien infeksi virus Corona yang meninggal saat isolasi mandiri (isoman) atau meninggal di luar rumah sakit (RS) sampai dengan Kamis 22 Juli 2021 jumlahnya mencapai 2.313 orang.
“Angka kematian di luar RS dan isoman sejauh ini ada 2.313,” kata Ketua Bidang Data LaporCovid-19, Said Fariz Hibban, saat jumpa pers daring, Kamis (23/7/2021) lalu.
Said menjelaskan 2.313 itu merupakan angka total hasil rekap pendataan yang dilakukan oleh LaporCovid-19 sebanyak 740, kemudian Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) yang melakukan pendataan di 100 puskesmas di Jawa Barat hasilnya ada 412 kematian.
Data terbaru berasal dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 1.161 kematian dari awal Juni sampai 21 Juli 2021. Dengan sejumlah tambahan data tersebut maka hingga saat ini kata Said sudah ada 16 provinsi terlacak sebagai penyumbang kasus kematian pasien Covid-19 saat isoman atau di luar RS (tirto.id, 22/07/2021).
Sungguh miris bukan? Ya, lagi-lagi pe-riayah-an penguasa terhadap rakyatnya kembali dipertanyakan. Mengapa rakyat harus isoman? Bukankah isoman cukup mengkhawatirkan untuk mereka yang sudah parah? Lalu jika rakyat meninggal, siapa yang patut bertangung jawab?
Dalam hal ini membuat Pemerhati Kesehatan, Iskandar Sitorus, angkat bicara terhadap pemerintah yang membiarkan rakyat menjalani isoman di rumah. Rakyat yang terkena wabah seharusnya menjadi tanggung jawab negara, tetapi pemerintah tidak menjalankan kewajibannya sehingga harus isoman di rumah.
Ia berkata, berdasarkan pantauannya di seluruh Indonesia, saat ini tidak ada perbedaan antara pasien Covid-19 bergejala ringan, sedang, hingga berat yang isoman di rumah masing-masing. Sehingga tidak jarang menyebabkan pasien meninggal dunia.
“Mereka (pemerintah) itu melimpahkan kewajibannya kepada rakyat. Orang yang sakit kena wabah itu tanggung jawab negara,” ucap Iskandar (republika.co.id, 14/07/2021).
Ya, memang benar adanya jika penguasa merupakan satu-satunya elemen yang harus bertangung jawab. Sebab, mereka adalah para pemimpin bagi rakyatnya dan mereka harus bertangung jawab terhadap apa yang terjadi kepada rakyatnya.
Sebagaimana, sabda Rasulullah Saw. yang artinya, “Imam /Khalifah adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia akan dimintai pertangungjawab atas pengurusan rakyatnya.” ( HR. Bukhari).
Namun jika ditelisik, fakta semakin banyaknya pasien isoman yang meninggal menunjukkan kegagalan pemerintah sebagai pe-riayah dan pelindung nyawa rakyatnya. Hal ini juga semakin membuktikan kegagalan penguasa dalam memfasilitasi dan menyiapkan berbagai peralatan tempur bagi rakyat guna melawan wabah Covid-19.
Kurangnya ruang rawat, terbatasnya ketersediaan oksigen, serta fasilitas lainnya di rumah sakit membuat rakyat harus isoman di rumah. Padahal, pasien Covid-19 jelas membutuhkan peralatan medis yang memadai, serta pengawasan intensif dari tenaga medis guna menunjang keselamatan dan kesembuhan mereka.
Kemudian, minimnya edukasi kepada pasien isoman membuat masih banyak pasien Covid-19 yang tengah menjalani isoman belum teredukasi dengan benar tentang apa dan bagaimana langkah yang tepat dalam menangani Covid-19 di rumah. Ditambah tidak adanya pendampingan dari tenaga kesehatan. Akibatnya, pasien yang awalnya gejala ringan hingga berat tidak mendapat pertolongan yang cukup secara medis.
Ditambah lagi dengan kebijakan penguasa yang plin-plan dan membingungkan. Tidak mengambil langkah yang tepat dalam menuntasan wabah. Justru lebih mementingkan pemulihan ekonomi dari pada penyelamatan nyawa rakyatnya. Akhirnya, membuat rakyat kembali menjadi korban. Padahal, penanganan pandemi sangatlah mudah. Yaitu dengan metode penguncian wilayah/lockdown sebagaimana yang diterapkan oleh para pemimpin terdahulu saat terjadi wabah. Lockdown telah terbukti menjadi solusi satu-satunya dalam menangani wabah.
Namun hal itu hanya akan mampu dilakukan oleh pemimpin dalam sistem Islam. Sebab, penguasa benar-benar berdiri sebagai rai’in dan junnah terhadap rakyatnya. Nyawa rakyat merupakan prioritas utama yang wajib diselamatkan, daripada apapun.
Negara Islam pada masanya, memberikan layanan kesehatan terbaik, bahkan layanan kesehatan dalam rumah sakit tersebut menjadi favorit bagi para pelancong asing. Sebab, banyak rumah sakit dibangun dengan berbagai fasilitas yang canggih, pemurnian obat-obatan, ketersedian oksigen yang melimpah, serta ada banyak dokter dan perawat yang mumpuni. Ditambah lagi, biaya kesehatan yang diberikan kepada rakyat begitu murah, bahkan gratis.
Hal itu terlihat pada zaman pertengahan, hampir seluruh kota dalam negara Islam memiliki rumah sakit yang luar biasa. Misalnya, di Cairo rumah sakitnya mampu menampung hingga 8000 pasien.
Kemudian dalam masalah penanganan wabah. Pemimpin mencari solusi terbaik demi keselamatan nyawa rakyatnya. Negara hadir memberikan layanan maksimal dan optimal. Sebagaimana yang tergambar pada kepemimpinan Khalifah Umar bin Al-Khattab. Dimana pada saat terjadi wabah beliau melakukan penguncian terhadap wilayah wabah.
Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah yang artinya, “Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya” (H.R. Muslim dari Usamah bin Zaid).
Pemimpin pun berupaya memberikan fasilitas kesehatan terbaik kepada rakyatnya di wilayah wabah. Dia juga menjamin kebutuhan pangan rakyatnya. Sehingga, wabah dapat dikendalikan dengan baik. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






