Batas Antara Malu dan Mau

Kembali kepada aturan Allah adalah satu-satunya jalan untuk mencegah segala perilaku tercela.
Oleh Inge Oktavia Nordiani, S.Pd.
JURNALVIBES.COM – Sesungguhnya Allah Swt. adalah zat yang maha pengasih dan penyayang. Allah Swt. yang maha mengetahui seluk-beluk segala ciptaan-Nya termasuk manusia. Segala permasalahan yang terjadi pada manusia Allah Swt. telah berikan jalan keluarnya.
Artinya apabila manusia ingin mudah langkahnya dalam menjalani kehidupan maka hanya tinggal mengikuti petunjuk hidup dari Allah. Namun, terkadang manusia lupa, lalai hingga enggan untuk memeluk erat petunjuk hidupnya sehingga membuat kondisi menjadi bertambah sulit.
Belajar dari kasus yang baru-baru ini terjadi, tentang hubungan sejoli. Hubungan sejoli yang berakhir kandas atas tidak adanya restu dari orang tua. Namun semua belum selesai tersebab ada jejak panjang sebuah kisah cinta terlarang di dalamnya. Dilansir dari news.detikcom (10/6/2022) terkait penemuan tujuh janin dalam kotak makan di Makassar, Sulawesi Selatan sungguh menyesakkan dada. Seorang wanita inisial NM ditangkap polisi pasca diketahui menyimpan sejumlah janin bayi di kotak makan. NM mengungkapkan bahwa ia sengaja menyimpan ketujuh janinnya karena hendak dikuburkan. NM berniat menguburkannya di Toraja, kampung halamannya.
“(Janin disimpan dulu karena) akan dikubur di kampungnya di Toraja,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Reonald Truly Sohomuntal Simanjuntak kepada wartawan, Kamis (9/6/2022) malam.
Sungguh miris bahkan pilu lagi-lagi korban terbesar adalah seorang wanita. Keluguan dan ketulusan cinta seorang wanita menyebabkan ia rela menyimpan janin yang digugurkan bertahun-tahun demi harapan agar dinikahi. Ini memberikan tanda bagi kaum wanita untuk kembali berpegang teguh pada petunjuk hidup.
Fenomena yang telah terjadi menunjukkan bahwa fitrah manusia tidak bisa ditepis dan masih bisa mengarahkan nurani manusia dalam bertindak. Sungguh segala bentuk kemauan baik hawa nafsu maupun syahwat bisa dikendalikan. Fakta perbuatan yang sejoli telah lakukan masih memandang rasa malu karena anak terlahir di luar pernikahan. Namun sebuah pemberat rasa malu mereka menjadi jauh lebih ringan daripada rasa mau keduanya sehingga tidak dapat menghalangi kemauan hawa nafsu mereka berdua.
Setiap manusia sejatinya memiliki naluri untuk mencintai dan melestarikan keturunan (gharizah nau`). Tinggal bagaimana setiap manusia tersebut memperlakukan gharizahnya. Memilih untuk tertuntun oleh wahyu ataukah dituntun oleh hawa nafsu.
Fenomena pergaulan yang bablas ini pun tidak bisa hanya disoroti sebagai masalah individu. Ada sebuah ritme yang mirip pada satu kasus ke kasus yang lain. Semua diawali dari tidak adanya batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Semua itu selain dari individu dan masyarakat dibutuhkan pula tangan-tangan pemimpin negeri untuk membentengi derasnya arus pengrusakan generasi.
Pasalnya negara lah yang memiliki kendali untuk membatasi, mengatur bahkan memutus hal-hal yang bisa mendorong generasi untuk bertindak gaul bebas. Namun sistem kapitalisme yang diadopsi negeri ini telah mengajarkan bahwa pergaulan bebas tidak lain hanya masalah pribadi semata. Sehingga tidak heran bila kurva pergaulan bebas akan semakin meningkat.
Oleh karena itu pantas kiranya bagi negeri ini untuk kembali pada formula langit yaitu pengaturan sistem sosial yang datangnya dari Allah Swt. yang maha Mengetahui. Dengan hal tersebutlah maka kondisi keimanan masyarakatnya akan menjadi keimanan yang merata sehingga setiap individu benar-benar mengetahui batas antara malu dan mau.
Mereka akan terjaga dari perbuatan nista karena takut dengan Sang Pencipta karena paham bahwa perilaku tersebut mendatangkan murka Allah. Kembali kepada aturan Allah adalah satu-satunya jalan untuk mencegah segala perilaku tercela. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






