Opini

Harga BBM Naik, Haruskah Kita Pasrah?

Jika dilihat, pemerintah menaikkan BBM itu suatu bentuk kezaliman. Allah mewajibkan kita untuk berikhtiar untuk menasihati pemerintahan zalim dengan mengajak kembali kepada aturan Islam. Bahkan Allah melarang kita untuk berdiam diri dengan kezaliman yang jelas-jelas berada di depan mata.


Oleh Siti Hajar
(Aktivis Dakwah Depok)

JURNALVIBES.COM – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam Konferensi Pers Tindak Lanjut Kebijakan Subsidi BBM, di gedung Kementerian Keuangan, Jumat(26/8/2022), menyatakan negara telah mengalokasikan dana subsidi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp502,4 triliun dan berpotensi ditambah Rp195 triliun tersebut masih belum tepat sasaran, dan sebagian besarnya dinikmati oleh orang kaya. Padahal, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2022 tercatat 26,16 juta orang dibandingkan jumlah orang kaya pada 2021 sebanyak 1.403 orang (kompas.com, 7/3/2022).

Terlihat jelas jika jumlah penduduk miskin lebih banyak dibandingkan dari orang kaya. Kemudian jika jumlah orang kaya tetap saja mendominasi, menikmati dan mengonsumsi BBM lebih banyak dan ini dikatakan salah sasaran menurut Menteri keuangan, lantas kenapa semua jenis BBM harus dinaikkan? Bukankah orang miskin juga memerlukan BBM untuk keperluan transformasi, untuk bekerja memenuhi kebutuhan? Bahkan bahan pokok yang sebelumnya sudah mengalami kenaikan. Apalagi dengan semakin dinaikkan harga BBM yang merupakan jantung pasar.

Naiknya harga BBM seolah-olah tidak berdampak kepada masyarakat khususnya rakyat miskin, padahal efeknya semakin parah bagi rakyat. Bahkan, menurut Sri Mulyani subsidi ditiadakan agar kesenjangan yang makin lebar tidak terjadi karena yang mampu tidak bisa menikmati subsidi. Faktanya, subsidi BBM salah sasaran karena tetap saja orang kaya malah bisa menikmatinya.

Pernyataan di atas hanya secuil bentuk fakta permasalahan yang ada. Namun persoalan salah sasaran dianggap sebagai permasalahan paling besar bagi pemerintah untuk meyakinkan rakyat untuk terus menaikkan harga BBM. Alasan dinaikkan akibat persoalan subsidi salah sasaran dan dikatakan APBN jebol bila terus memberikan dana ratusan triliiun. Jika pun ini benar, maka solusinya bukan BBM yang dinaikkan. Ini terlihat bahwa pemerintah tidak sanggup mengurus pengelolaan subsidi BBM dengan baik.

Beginilah hasilnya jika pemerintah masih dalam kungkungan kapitalis sampai kapan pun tidak akan pernah beres mengelola kebutuhan rakyat. Karena sistem yang diusung adalah atas dasar manfaat. Pemimpin yang dilahirkan tidak jauh dari sifat induknya karena karakternya ingin meraih keuntungan berjual beli dengan rakyat.

Jika sistem kapitalis terus saja ada maka rakyat akan terus-menerus menderita tiada hentinya. Apakah kita terus pasrah dengan kezaliman yang kita rasakan? Atau ada statement golongan mengatakan bahwa naik atau tidaknya BBM atau kebutuhan pokok tidaklah mengurangi takaran rezeki seseorang karena sudah diatur oleh Allah.

Memang Allah sudah mengatur rezeki seseorang, tapi jika pemerintah terus menaikkan harga BBM merupakan kezaliman yang nyata yang harus kita hentikan. Padahal Allah sudah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (TQS ar-Ra’d: 11).

Jika dilihat, pemerintah menaikkan BBM itu suatu bentuk kezaliman. Allah mewajibkan kita untuk berikhtiar untuk menasihati pemerintahan zalim dengan mengajak kembali kepada aturan Islam. Bahkan Allah melarang kita untuk berdiam diri dengan kezaliman yang jelas-jelas berada di depan mata. Oleh karenanya, harga BBM naik, haruskan kita pasrah? Tentu saja tidak. Sejatinya harus menasihati penguasa bagaimanapun caranya.

Menasihati penguasa zalim dengan berani mengatakan kebenaran adalah termasuk jihad yang paling utama bahkan semulia-mulianya jihad. Pernyataan ini telah disampaikan Rasulullah saw. dalam hadisnya yang diceritakan Abu Sa’id Al Khudri, Artinya: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim” (HR Abu Daud).

Jadi tugas kita tidak boleh berdiam diri dengan keadaan saat ini. Justru menjadi kewajiban kita menghentikan kezaliman yang dilakukan pemerintah dengan mengajak kembali kepada aturan Allah tiada lain hanyalah Islam. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button