Opini
Trending

Tragedi Gagal Ginjal Akut, Gagalnya Negara Mewujudkan Perlindungan Anak

Sejatinya negara harus memprioritaskan urusan pengayoman terhadap kehidupan rakyatnya, sebab itulah cerminan dari posisinya sebagai ra’in dan junnah. Tidak boleh negara mengambil kebijakan yang mengabaikan nasib rakyatnya.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat literasi)

JURNALVIBES.COM – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap adanya 241 anak yang terkena gagal ginjal akut misterius di Indonesia. Total pasien yang meninggal tercatat 133 kasus, tren peningkatan kasus melonjak sejak Agustus 2022 dan ini ditemukan di 22 provinsi (cnbcindonesia.com, 21/10/2022).

Menindaklanjuti kabar terkait kasus di Gambia, tanggal 5 Oktober WHO mengeluarkan rilis, bahwa kejadian ini disebabkan senyawa kimia. Sebagian besar obat-obatan diuji untuk memastikan kandungan senyawa berbahaya etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol butil ether. Senyawa kimia tersebut mampu membuat ginjal tidak berfungsi. Pasalnya, ketiga senyawa tersebut memicu asam oksalat dalam tubuh dan selanjutnya menjadi kristal di dalam ginjal. Akibatnya, ginjalnya rusak karena adanya asam oksalat (bbc.com, 20/10/2022).

Banyaknya kasus kematian karena gagal ginjal akut adalah tragedi yang seharusnya menjadi landasan untuk menetapkan adanya kejadian luar biasa dengan segala konsekuensinya. Apalagi mengingat yang menjadi korban adalah anak-anak yang merupakan sumber daya manusia masa depan yang sangat berharga. Meskipun ada yang sembuh, belum diketahui bagaimana dampak ke depannya. Oleh karenanya harus ada tindakan tegas jika ditemukan pelanggaran.

Dengan adanya kasus ini negara harus melakukan investigasi secara menyeluruh agar terungkap penyebabnya. Penyelidikan seksama juga dibutuhkan untuk mengetahui adanya unsur kelalaian. Di tengah kondisi yang mengkhawatirkan ini Menkes Budi berujar peningkatan kasus gagal ginjal akut bisa naik sampai lima kali lipat. Dalam sebuah pernyataannya Menkes belum mengetahui secara pasti penyebab dan arah penyakit ini. Dia menambahkan, jajaran di Kemenkes terus melakukan penelitian dan uji laboratorium untuk mengetahui musabab kasus.

Sistem kapitalis menganggap tragedi yang sudah memakan banyak korban dari anak-anak ini sebagai masalah yang enteng. Sebab sistem kapitalisme menghilangkan peran negara sebagai pelindung. Berbeda dengan sistem Islam negara akan bertanggungjawab atas kematian yang terjadi. Karena negara adalah sebagai ra’in (pengurus) dan juga junnah (perisai) bagi rakyatnya. Negara bertanggungjawab terhadap semua urusan umatnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya). Siapa saja yang dijadikan Allah mengurusi suatu urusan kaum muslimin lalu ia tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak peduli akan kebutuhan, keperluan, dan kemiskinannya.”

Sejatinya negara harus memprioritaskan urusan pengayoman terhadap kehidupan rakyatnya, sebab itulah cerminan dari posisinya sebagai ra’in dan junnah. Tidak boleh negara mengambil kebijakan yang mengabaikan nasib rakyatnya. Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat senantiasa menjadi pertimbangan utama negara.

Dalam sebuah hadis yang berbunyi “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak” (HR. Nasai 3987, Tirmidzi 1455).

Nyawa dan keselamatan rakyat menjadi pertimbangan utama dibandingkan urusan lainnya. Di bawah ri’ayah pemerintahan Islam kesejahteraan dan masa depan rakyat akan terselamatkan. Dalam diri pemimpin tidak ada keraguan untuk mengambil kebijakan berdasarkan syariah Islam yang berasal dari wahyu Allah yang Mahabenar. Semua ini hanya bisa didapatkan apabila Islam kafah diterapkan secara keseluruhan dalam bingkai khilafah islamiyyah. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button