Kampanye Berkedok Bansos, Tiada Ketulusan Dalam Demokrasi

Sejatinya pemimpin ideal hanya bisa tercipta pada sistem pemerintahan yang ideal. Yakni sistem yang memakai aturan Allah sebagai satu-satunya aturan bernegara. Pemimpin ideal selalu sibuk menghisab dirinya terkait patuh dan abainya ia terhadap aturan Allah. Bukan kesana-kemari minta pujian manusia.
Oleh Lia Sholehah
(Aktivis BMIC Kalsel)
JURNALVIBES.COM – Tidak lama lagi negeri ini akan menyelenggarakan pemilihan pemimpin. Berbagai macam kampanye tengah disemarakkan oleh kalangan elit politik, dari brosur, spanduk, hingga menyewa jasa tim sukses pun dilakukan.
Tidak tanggung-tanggung, bahkan ada yang memanfaatkan program bantuan sosial rakyat sebagai alat kampanye mereka. Mereka hadir di program bansos bersama partai penguasa (bbc, 30/01/2024).
Tatkala rakyat sedang dihimpit kesulitan ekonomi, pemikiran sudah tidak bisa lagi jernih, para politikus hadir bak pahlawan kesiangan, seakan memberi jaminan bahwa mereka bisa menghentikan penderitaan yang selama ini dialami rakyat. Padahal ceritanya akan tetap sama seperti masa-masa sebelumnya, mereka ramah saat meminta suara, namun menutup telinga saat rakyat berunjuk rasa.
Mereka memanfaatkan kemalangan nasib rakyat untuk dijadikan sebagai alat kampanye. Apalah daya rakyat yang hari ini sudah berada pada fase kesulitan ekstrem akibat berbagai kebijakan yang kurang tepat, sehingga tatkala ada pahlawan kesiangan datang, rakyat langsung terpana.
Semua itu sudah menjadi budaya di dalam demokrasi. Selamanya budaya itu tidak akan pernah hilang, karena sejatinya demokrasi hanya melahirkan penguasa-penguasa yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya.
Kekuasaan dalam demokrasi bak ajang perebutan sebongkah berlian bagi para elit politik. Siapa yang menang, dia akan berjaya. Itulah sebabnya pencitraan saat pemilu massif dilakukan.
Demokrasi menjanjikan kejayaan bagi para penguasanya, namun tidak menjanjikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Terbukti selama puluhan tahun sudah, hak-hak rakyat tidak dipenuhi dengan benar. Pendidikan tidak merata, kesehatan dikomersialisasi, harga sandang pangan papan terus melonjak, sementara penguasanya tidak pernah kelaparan.
Demokrasi hanya menyediakan kursi untuk orang-orang yang punya banyak modal, tidak peduli bagaimana cara mendapatkan modal tersebut, haram ataukah tidak. Termasuk modal suara, yang penting suara terbanyak, terserah bagaimanapun perolehannya.
Hukum yang diberlakukan berdasarkan suara terbanyak, tidak lagi melihat apakah itu maslahat ataukah mudharat. Bahkan hari ini hukum bisa dipesan dan dibeli.
Semua itu berasal dari asas demokrasi itu sendiri, yakni asas kebebasan. Tidak ada standar benar atau salah, semua dilakukan berdasarkan suara mayoritas. Suara tersebut berasal dari manusia sebagai makhluk yang penuh dengan keterbatasan dan hawa nafsu. Jadi wajar saja, kita akan terus melihat berbagai macam penyimpangan di dalam demokrasi.
Hal ini berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam sejatinya pemimpin adalah pelayan rakyat, ia memahami bahwa konsekuensinya berat, dan tanggung jawabnya besar di hadapan rakyat, terlebih lagi di hadapan Allah. Sehingga muncul ketakutan dari dirinya saat mencalonkan diri sebagai pemimpin. Bukan malah tergila-gila untuk menjadi seorang pemimpin. Ia sibuk memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria pemimpin ideal, bukan sibuk pencitraan diri.
Sejatinya pemimpin ideal hanya bisa tercipta pada sistem pemerintahan yang ideal. Yakni sistem yang memakai aturan Allah sebagai satu-satunya aturan bernegara. Pemimpin ideal selalu sibuk menghisab dirinya terkait patuh dan abainya ia terhadap aturan Allah. Bukan kesana-kemari minta pujian manusia.
Itulah pemimpin yang berada pada sistem pemerintahan Islam. Memenuhi hak-hak rakyat karena sadar bahwa kewajiban yang Allah beri padanya adalah untuk melayani rakyat, berbuat adil, dan menjadi pelindung bagi agama dan rakyatnya.
Hanya dengan penerapan Islam, para calon pemimpin tidak akan melakukan budaya kotor untuk kampanye, tidak akan bermanis muka, karena terbentuk dari diri mereka keimanan dan ketakwaan. Semoga Allah segerakan sistem dan pemimpin ideal untuk negeri ini. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






