Opini

Rupiah Melemah, Ekonomi Kian Payah

Sistem perekonomian Islam yang menetapkan emas sebagai mata uang negara. Nilainya yang terus stabil akan menjadikannya selalu kuat dan tak terpengaruh dengan kondisi yang terjadi di luar negeri.


Oleh Ummu Miqda

JURNALVIBES.COM – Kabar terakhir menunjukkan rupiah kini berada pada nilai Rp16.200 per dolar US. Hal ini diduga dipicu dari peristiwa penyerangan Iran ke Israel beberapa waktu yang lalu dan juga sikap the Fead bank sentral As – yang mempertahankan suku bunga tinggi. (BBCNews, 24/4/2024)

Kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede menyebutkan ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik Timur Tengah, menyebabkan penarikan dana dari aset-aset beresiko tinggi oleh investror terutama dari negara berkembang termasuk Indonesia.

Hal ini akhirnya menyebabkan melemahnya rupiah, sehingga secara perlahan namun pasti akan meningkatkan harga barang-barang impor, yang Indonesia masih sangat bergantung pada bahan mentah dari luar negeri.

Dampak dari kenaikan barang-barang impor yang disebabkan nilai rupiah yang lemah, mengakibatkan kenaikan dari biaya produksi dan transportasi. Kenaikan harga-harga dalam negeri pun tak terelakkan lagi agar keuntungan yang diharapkan tak berkurang. Atau jika tak ingin menaikkan harga, maka produsen harus siap menekan keuntungan dari nilai yang telah ditentukan.

Melemahnya rupiah dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun yang paling menonjol adalah dominasi dari uang dollar sebagai mata uang dunia.

Meskipun negara kita sudah merdeka, nyatanya kita tak mampu menjadikan mata uang kita menjadi kuat dengan standar yang sesuai dengan ketetapan negara kita sendiri. Tak berdaulat di dalam negeri sendiri.

Dunia, di bawah imperialisme AS telah berada di bawah kekuatan politik ekonomi, sehingga tak bisa berkutik dari perjanjian antara negeri. Tak ada keleluasaan dalam menentukan kebijakan dalam negeri yang akhirnya berimbas kepada buruknya perekonomian.

Negeri yang berbasis ekonomi kapitalis telah menjadikan kekuatan modal sebagai syarat keberlangsungan dari usaha dan roda kehidupan. Hal ini membuat banyak bidang-bidang strategis dan yang memiliki nilai besar di kuasai oleh raksasa kapital. Membuat kesenjangan yang semakin dalam dengan rakyat bjasa yang bermodal seadanya.

Usaha kecil dan menengah di saat ekonomi kiat melemah ini sangat sulit untuk sekadar bertahan. Peluang usaha terhambat modal yang terbatas serta daya beli masyarakat yang berkurang.

Lemahnya perekonomian menyebabkan menurunnya daya beli. Selain harga-harga yang kian meningkat, ternyata kebutuhan dasar kehidupan dasar lain juga meningkat. Seperti kebutuhan di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan publik dan lainnya.

Berubahnya kebijakan-kebijakan yang tak berpihak kepada rakyat semakin menusuk jantung kehidupan. Sudah sulit jalan mencari titik terang untuk bertahan hidup, ditambah lagi dengan keberpihakan negara terhadap dinasti kapital yang hanya berefek kecil bagi kesejahteraan masyarakat banyak. Akhirnya semakin meningkatkan angka kemiskinan.

Sangat berbeda dengan sistem perekonomian Islam yang menetapkan emas sebagai mata uang negara. Nilainya yang terus stabil akan menjadikannya selalu kuat dan tak terpengaruh dengan kondisi yang terjadi di luar negeri.

Keadilan senantiasa akan terjaga dengan menggunakan mata uang ini. Karena nilai-nilai dari kebutuhan pokok pun akan tetap stabil sesuai dengan nilai tukar emas sepanjang masa.

Kapital pun tak akan bisa menguasai sektor-sektor strategis terutama yang menjadi pemilikan umum, seperti tambang, hutan, maupun air, dengan besar modal yang dimilikinya karena bidang-bidang tersebut akan dikelola oleh negara dan akan digunakan kembali untuk menjamin kesejahteraan masyarakat.

Dengan jaminan dari negara, maka secara tidak langsung akan memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok kehidupan. Perkara pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik menjadi tugas negara untuk memenuhinya. Sedangkan pemenuhan sandang, pangan, dan papan juga secara tidak langsung mendapat bantuan dari negara. Sehingga usaha yang dilakukan masyarakat tidak akan menjadi sesuatu yang menyengsarakan, karena mendapat dukungan dan perlindungan.

Demikianlan kebijakan dalam Islam yang menetapkan mata uangnya dalam nilai yang selalu stabil. Menjadi salah satu usaha negara dalam melindungi kepentingan dan kesajahteraan masyarakatnya, baik dari penguasaan dari pihak-pihak tertentu, maupun dari intervensi dari sistem perekonomian luar negeri yang akan berimbas kepada kesengsaraan warganya.

Hanya dengan kembali kepada sistem ekonomi Islam lah, maka perekonomian negara akan menjadi stabil dan kesejahteraan masyarakat akan terjamin. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button