Rakyat Dijadikan Tameng Untuk Menambah Utang

Tidak mungkin berharap kepada sistem sekuler kapitalis untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan dalam kehidupan.
Oleh Ummu Aziz
(Pemerhati Urusan Umat)
JURNALVIBES.COM – Wabah Covid-19 saat ini hampir memasuki tahun kedua, namun ternyata belum dapat ditangani secara tuntas. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah wabah ini, terkesan tambah sulam bahkan itu dengan menambah utang lagi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, alasan di balik keputusan pemerintah terus menambah utang di tengah pandemi Covid-19. Sri Mulyani mengatakan, pandemi Covid-19 sebagai tantangan yang luar biasa dan harus dihadapi. Tidak hanya mengancam manusia, pandemi ini juga mampu merusak perekonomian suatu negara.
“Semua negara di dunia menggunakan instrumen kebijakan untuk bisa menangani pandemi Covid-19 dan dampak sosial ekonomi serta keuangan,” ujar Sri Mulyani dikutip dari acara bedah buku “Mengarungi Badai Pandemi” di Youtube Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, Minggu 25/7/2021. (sindonews, 2021)
Miris sekali kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan wabah, yaitu dengan berutang lagi. Padahal kita tahu utang pemerintah hingga akhir Juni 2021 telah mencapai Rp6.554,56 triliun dan sebagaimana telah kita rasakan bahwa dengan berutang, kebijakan pemerintah mudah disetir oleh para pemberi hutang sesuai ketentuan yang diberikan. Akan sangat mudah bagi mereka untuk menguasai negeri ini. Inilah bentuk dari penjajahan gaya baru, pemerintah merasa telah ditolong. Namun, sejatinya utang tersebut mengikat dan menjerat bangsa ini.
Hal ini terus-menerus yang terjadi, dari zaman Presiden Soeharto hingga kini. Solusi tambal sulam pun diambil, tidak terkecuali saat krisis ekonomi di tengah pandemi.
Dalam Islam, utang tidak menjadi pilihan untuk menyelesaikan berbagai masalah ekonomi negara karena baiknya pengelolaan pemasukan negara yang berasal dari kepemilikan negara, seperti: ‘usyur, fa’i, ghanimah, kharaj, jizyah, dan lain sebagainya. Selain itu pemasukan negara dapat pula diperoleh dari kepemilikan umum, seperti pengelolaan hasil pertambangan, minyak bumi, gas alam, kehutanan, dan lainnya.
Dapat dipastikan ledakan utang tidak mungkin terjadi dalam kepemimpinan Islam. Negara bertanggung jawab penuh atas optimalisasi harta kepemilikan umum. Tidak mengambil kebijakan liberalisasi dalam lima aspek ekonomi, yaitu liberalisasi barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil. Pemasukan negara juga diperoleh dari zakat mal (ternak, pertanian, perdagangan, emas, dan perak).
Harta baitul mal juga selalu mengalir karena tidak terjerat utang ribawi. Dengan demikian, kemandirian dan kedaulatan negara dapat terjaga dan potensi penutupan kebutuhan anggaran dari utang luar negeri dapat dihindari.
Hendaknya kaum muslim menyadari bahaya utang bukan hanya akan menjadikan rakyat sengsara, bahkan negara bisa hancur karena dikendalikan oleh para pemberi utang. Jika negeri ini merindukan hidup tenang, aman, dan penuh keberkahan. Insyaallah bebas dari segala jerat utang dan terbebas dari laknat Allah Swt.
Sebagaimana dalam firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (TQS Al-A’raf [7]:96)
Berkah bermakna bertambahnya kebaikan. Keberkahan merupakan anugerah Allah Swt. yang diberikan untuk kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa. Syarat Allah Swt. memberikan keberkahan-Nya, jelas tertulis dalam firman-Nya di surah Al-A’raf ayat 96 di atas, yaitu iman dan takwa.
Sesungguhnya takwa dan tawakal adalah sebab keberkahan yang luas. Semuanya berkumpul di sekitar orang yang bertakwa dan bertawakal pada-Nya, yang hatinya dipenuhi takut dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Sehingga orang yang bertakwa akan menjalankan aturan Allah Swt. secara sempurna di dalam seluruh aspek kehidupannya.
Wabah yang hampir dua tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir ini, semakin membuktikan ketakberdayaan ideologi kapitalisme dalam menyelesaikan krisis dan persoalan kehidupan yang ada.
Kerusakan yang masif meliputi alam dan segala isinya tidak lain akibat dari tidak beriman dan bertakwanya umat ini secara benar kepada perintah Allah Swt. Bahkan melalaikan hukum-hukum-Nya dalam aspek politik, ekonomi, dan lain-lain, maka keberkahan hidup individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa tidak terwujud.
Jadi tidaklah mungkin berharap kepada sistem sekuler kapitalis untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan dalam kehidupan. Berhenti melaksanakan kemaksiatan dan kembali pada jalan yang lurus, jalan yang diridai Allah Swt., karena Allah tidak ingin bumi yang diciptakan ini ditempati untuk bermaksiat pada-Nya.
Kembali kepada Allah Swt. dan tidak bermaksiat pada-Nya adalah dengan mengembalikan kehidupan Islam pada wujud nyata di tengah masyarakat, yaitu dengan menerapkan seluruh aturan-Nya yang diberlakukan oleh pemerintahan Islam, yaitu Khilafah Islamiyah.
Sudah sepatutnya umat Islam merindukan dan memperjuangkan kembalinya khilafah islamiyyah ‘ala minhajin nubuwwah. Dengan begitu, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dan khilafah sebagai pe-riayah dan pelindung bagi urusan umat akan terwujud, begitu pun keberkahan akan melimpah untuk seluruh umat. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






