Syirik Merebak Negara Minim Bertindak

Penting bagi setiap Muslim untuk menjauhkan dirinya dari hal-hal berbau syirik. Ia wajib untuk senantiasa menjaga akidahnya tetap bersih, menyandarkan diri dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Swt. Tawakal terhadap takdir Allah, bersabar dalam ujian, dan berikhtiar sesuai dengan petunjuk Islam dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Oleh Dwi Indah Lestari
JURNALVIBES.COM – Dunia perdukunan sedang heboh. Kemunculan figur pesulap merah yang membongkar praktik dukun palsu berkedok agama sontak mencuri perhatian publik. Para dukun banyak yang segera mengambil tindakan. Sebagaimana yang diberitakan oleh msn.com (7/8/2022), seorang dukun bersertifikat meminta bantuan dunia gaib untuk melawan pesulap merah yang bernama asli Marcel Radhival itu.
Praktik Kesyirikan Marak
Perdukunan yang tumbuh di masyarakat bukanlah hal baru. Praktik yang sarat kesyirikan itu telah ada sejak dulu. Indonesia bisa dikatakan sebagai negeri seribu dukun. Hal ini merepresentasikan jumlah dukun di negeri ini yang sangat banyak jumlahnya, meski tak ada data statistik yang pasti tentang hal itu. Uniknya para dukun ternyata juga memiliki komunitas. (kompas.com, 29/1/2022).
Persatuan Dukun Nusantara menjadi wadah para dukun di Indonesia yang didirikan pada bulan Februari 2021.
Meski begitu, ternyata tak sedikit dari masyarakat yang memanfaatkan jasa mereka untuk memenuhi berbagai hajatnya. Mulai dari mencari kesembuhan dari sakit menahun yang tak kunjung sembuh. Cari jodoh pun banyak yang ditempuh melalui dukun. Begitu pun ketika ingin cepat kaya. Bahkan fenomena mencari tuah dari orang sakti agar menang di pemilu atau pilkada pun kerap ditemui.
Kepercayaan masyarakat akan hal-hal gaib yang dapat memberikan peruntungan atau sebagai jalan keluar dari persoalan, mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat praktik syirik ini tetap eksis dan tumbuh subur. Ditambah dengan kondisi masyarakat yang seringkali lebih memilih solusi pragmatis, sehingga ritual perdukunan tetap banyak peminatnya. Apalagi ada juga para dukun yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran saat menjalankan aksinya.
Namun begitu, merebaknya kesyirikan semacam ini juga didukung oleh sistem hidup sekuler yang sekarang diterapkan. Sekulerisme, telah membuat individu-individu di masyarakat tak lagi menjadikan agama sebagai pijakan dalam berpikir dan berbuat. Sehingga wajarlah ketika kesulitan hidup menerpa, mudah kalut dan melakukan apa saja untuk menyelesaikannya, meski bertentangan dengan akidah.
Termasuk meminta pertolongan dukun.
Di samping itu disingkirkannya peran agama dalam kehidupan, membuat masyarakat pun buta terhadap syariat Islam yang sebenarnya memiliki solusi untuk menuntaskan berbagai persoalan hidup. Padahal negeri ini mayoritas penduduknya adalah muslim. Namun aturan Islam hanya diletakkan di ruang privat semata. Sekedar mengatur ibadah dan hal-hal pribadi saja.
Sementara peran negara pun sangat minim dalam menjaga akidah umat. Tak ada tindakan bagi praktik perdukunan yang marak dilakukan, meski jelas penuh dengan tipuan. Negara hanya bertindak ketika hal itu menimbulkan keresahan dan jatuh korban. Jika tidak maka negara diam saja, padahal praktik para dukun itu telah meracuni akidah umat. Wajarlah bila kesyirikan semakin merajalela. Bila begini bagaimana mungkin bisa berharap kesyirikan akan musnah?
Islam Melindungi Akidah Umat
Dalam Islam, kesyirikan merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni.
Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (TQS. An Nisa: 48)
Akidah Islam jelas telah menyatakan dengan pasti bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya Illah yang wajib disembah. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Oleh karena itu bagi setiap Muslim yang dalam syahadatnya jelas telah mengikrarkan diri meyakini Allah sebagai pencipta alam beserta seluruh isinya, diharamkan untuk melakukan aktivitas yang mempersekutukan-Nya.
Termasuk di dalamnya adalah meminta bantuan para dukun melalui jampi-jampi, mantra atau apapun yang menjadi perantara, untuk menyelesaikan persoalan hidupnya. Ini adalah dosa besar yang tidak akan terampuni, bila pelakunya tidak bertobat dengan sebenar-benarnya. Allah mengharamkan surga baginya dan menentukan tempatnya kelak di akhirat adalah neraka.
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (TQS. Al-Maidah: 72)
“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (manusia dan jin), (dan Allah berfirman) : “Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,” lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia : “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami (manusia) telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain (jin) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman : “Neraka itulah tempat tinggal kamu semua, sedang kamu semua kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)” (TQS. Shad: 55).
Untuk itu sangat penting bagi setiap Muslim untuk menjauhkan dirinya dari hal-hal berbau syirik. Ia wajib untuk senantiasa menjaga akidahnya tetap bersih, menyandarkan diri dan memohon pertolongan hanya kepada Allah Swt. Tawakal terhadap takdir Allah, bersabar dalam ujian, dan berikhtiar sesuai dengan petunjuk Islam dalam menyelesaikan setiap persoalan.
Hanya saja dalam lingkup yang lebih luas, penjagaan akidah ini memerlukan peran negara. Sebab pada realitasnya manusia memiliki potensi untuk melakukan pelanggaran syariat. Jadi penjagaan terhadap akidah tidak cukup diserahkan hanya kepada individu. Tetapi harus ada sistem aturan yang diterapkan oleh negara, dimana hukum Islam dijalankan secara total. Semua itu membutuhkan institusi negara sesuai syariat, yaitu khilafah.
Khilafah akan melakukan pembinaan dengan tsaqafah Islam kepada umat, terutama melalui aspek pendidikan. Khilafah akan menanamkan akidah hingga menancap kuat pada umat dan memberikan pemahaman yang kafah terhadap hukum-hukum Islam. Dengan begitu umat memahami halal dan haram dalam setiap perbuatannya. Selain itu penerapan hukum syara secara praktis dalam setiap aspek kehidupan, akan membuat umat senantiasa terikat dan terkondisikan dengan interaksi islami.
Di samping itu, khilafah juga akan melarang praktik-praktik kemusyrikan dalam berbagai bentuk. Ritual perdukunan baik melibatkan bacaan-bacaan ayat Al-Quran atau pun tidak, tidak boleh ada. Sementara praktik pengobatan alternatif boleh saja dilakukan sepanjang sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi saw., seperti praktik ruqyah syar’i. Khilafah juga akan menindak tegas bila ada individu-individu yang tetap melakukan aktivitas berbau syirik dengan sanksi sesuai hukum syara.
Inilah yang semestinya dilakukan oleh negara. Melindungi akidah umat dari racun-racun kesyirikan yang ditebarkan oleh praktik-praktik perdukunan. Peran ini hanya akan dapat diwujudkan oleh khilafah. Sudah saatnya umat kembali berpegang pada tali agama Allah dan mewujudkan sistem hidup Islam yang akan memberikan penjagaan atas akidah umat dengan penjagaan yang sejati. Wallahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






