Krisis Moral dan Spritual Picu Bunuh Diri, Apa Kabar Sekularisme?

Syariat akan mewajibkan negara untuk menegakkan hukum dan sanksi secara tegas. Tidak pandang bulu, sehingga baik pelaku pembunuhan sengaja, berencana maupun korban mendapatkan keadilan atas perbuatannya.
Oleh Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)
JURNALVIBES.COM – Kehidupan ini sungguh berharga, sudah seharusnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Namun akhir-akhir ini, maraknya kasus bunuh diri di kalangan anak-anak, remaja, keluarga hingga mahasiswa yang nota bene masuk dalam kelompok intelektual menimbulkan tanda tanya besar, ada apa dengan masyarakat kita?
Terlebih Indonesia adalah negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, di mana syariat menetapkan bunuh diri adalah salah satu perbuatan haram. Allah berfirman,” Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (TQS An Nisa :29). Mengapa peringatan Allah Swt. Tak membuat pelaku bunuh diri gentar?
Sekulerisme Mengakar: Bunuh Diri Hanya Persoalan Waktu
Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan bahwa sejak Januari hingga 18 Oktober 2023 ada 971 kasus bunuh diri di Indonesia. Beberapa kasus bunuh diri dilakukan oleh remaja atau mahasiswa, sehingga fenomena bunuh diri di Indonesia perlu perhatian serius.
Wakil Ketua Komisi PRK MUI, Prof Zahrotun Nihayah menyampaikan, beberapa hal yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah anak-anaknya melakukan tindakan bunuh diri. Di antaranya, orang tua harus menanamkan pendidikan agama sejak dini kepada anak-anaknya, menjadi teladan (uswatun hasanah), mengembangkan nilai-nilai positif pada anak, memfasilitasi dan membangun rasa aman dan nyaman dalam keluarga, mengusahakan dan melakukan komunikasi efektif di antara anggota keluarga.
Orang tua juga harus mendorong dan memfasilitasi anaknya agar menerapkan pola hidup seimbang dan sehat. Termasuk di dalamnya makan, tidur, olahraga, dan rekreasi tambah Prof Nihayah (republika, 15/12/2023).
Sedangkan Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Ibrahimiy Jawa Timur, HM Baharun mengatakan, maraknya kasus bunuh diri saat ini menjadi satu keprihatinan tersendiri. Hal itu membuktikan bahwa terdapat krisis moral dan spiritual yang sedang terjadi. Bunuh diri di kalangan remaja dinilai bisa terjadi kapan saja. Hal itu bisa terjadi lantaran adanya kekosongan nilai-nilai agama bagi sebagian remaja yang depresi akibat keputusasaan dalam hidup yang dianggap tidak bisa diselesaikan.
Sejuta solusi boleh saja dipaparkan, sejuta sebab juga boleh dijelaskan , namun jika belum sampai pada akar persoalan mengapa bunuh diri menjadi tren maka semua hanya menjadi tulisan di atas kertas. Tak ada dampak nyatanya.
Sejatinya manusia bertindak sesuai dengan pemahamannya. Pemahaman bergantung pada informasi apa saja yang masuk, bisa batil yang mendorong seseorang untuk mengerjakan kebatilan, bisa pula baik sehingga mendorong seseorang mengerjakan kebaikan.
Namun, baik buruk tak sekadar istilah yang berbeda. Tapi mengacu pada landasan dibangunnya pemahaman baik dan buruk itu sendiri. Jika landasannya buruk maka yang dipahami seseorang itu keburukan itu bai, atu sebaliknya. Di sinilah pentingnya memberikan pendidikan baik berupa informasi maupun pelatihan yang landasannya baku.
Jelas, landasan pemikiran yang baku dan bebas kepentingan hanyalah berasal dari Allah Swt. , Sang Pencipta manusia dan Pengatur bumi, alam semesta dan semua isinya.
Allah Swt. berfirman, “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus”. (TQS Yusuf :40).
Semua yang terjadi hari ini adalah efek domino dari berkuasanya sifat arogan manusia karena menolak aturan Allah dan menggantinya dengan aturan manusia, baik sebagian maupun seluruhnya. Sebab, aturan salat tak ada masalah, namun jika sudah menyangkut politik pengaturan urusan lain kemudian dimunculkan kalimat “ jangan bawa-bawa agama” , yang dimaksud adalah Islam, sebab agama lain tak ada yang sedetil Islam dalam mengatur manusia.
Inilah wajah sekulamarisme, yang hari ini mengatur manusia, tanpa Islam. Merajai hampir di seluruh lini kehidupan, terutama pendidikan. Kurikulum yang sangat penting sebagai pondasi arah pendidikan sudah bertajuk “merdeka belajar”. Pastilah semakin mengarah pada sekularisme. Bagi mereka yang penting eksis, lulus bisa mendapatkan pekerjaan. Ekonomi sulit, biaya hidup semakin tinggi sehingga memangkas semua yang fitrah dan mengunggulkan kehendak pribadi.
Muncullah ide-ide nyeleneh, seperti childfree, samen leven, penyuka sesama jenis, flexing dan lainnya hingga tren bunuh diri. Sekularisme kian langgeng karena demokrasi menjadi wadah yang sangat adaptif. Jargon dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat makin menonjolkan sifat individualistis dalam kapitalisme. Manusia berkehendak bebas, agama hanya candu atau penghambat. Inikah peradaban yang kita bangun? Beban keluarga sendiri di dalam kapitalisme sudah berat, mungkin beberapa keluarga bisa menerapkan tips terbaik, namun berapa lama, sebab bunuh diri hanya menunggu waktu Karena akutnya penerapan sistem batil ini. Mohon dipikirkan kembali.
Islam Dien Sempurna
Islam adalah ideologi, sebab memenuhi seluruh syarat sebuah ideologi yaitu akidah mendasar yang terpancar darinya peraturan. Sama seperti sekularisme yangmelahirkanln kapitalisme dan sosialisme. Islam selain memiliki landasan keimanan yaitu Akidah, mewajibkan pemeluknya untuk beriman kepada Allah yang satu, Rasul, kitab-kitab, hari akhir dan Qada Qadar baik buruknya berasal dari Allah juga menuntut pemeluknya untuk menjalankan syariat, yaitu seperangkat aturan sebagai solusi bagi setiap persoalan dan penjaga keimanan.
Maka, dalam Islam, bunuh diri akan di atasi dengan cara yang Komperehensif dari berbagai sisi, pertama pendidikan. Negara akan menyelenggarakan pendidikan formal maupun nonformal dengan basis akidah. Seluruh sarana dan prasarana pendidikan berikut SDMnya akan disokong negara secara penuh, negara juga akan menyelenggarakan aspek pendukung pendidikan yang lain seperti kesehatan, sandang, pangan, papan dan keamanan. Semua pembiayaannya diampu dari baitul Maall.
Baitul maal sendiri adalah lembaga keuangan negara, yang memuat pos pendapatan dan pengeluaran sesuai syariat. Bukan berbasis utang luar negeri dan pajak, melainkan dari pengelolaan kepemilikan umum dan negara. Kemudian, syariat akan mewajibkan negara untuk menegakkan hukum dan sanksi secara tegas. Tidak pandang bulu, sehingga baik pelaku pembunuhan sengaja, berencana maupun korban mendapatkan keadilan atas perbuatannya.
Tak ada drama, sebab segala kebutuhan pokok individu telah terpenuhi dengan negara yang berfungsi sebagai support sistem riil. Negara juga akan mendorong amar makruf nahi mungkar sebagai sebuah kewajiban yang hidup di tengah masyarakat, sehingga jika ada kesalahan tidak menunggu viral untuk diselesaikan.
Maka, inilah yang disebut dengan menyatunya ruh dan materi, dan tentu ini menjadi solusi bagi krisis moral dan spiritual akibat kekosongan nilai-nilai agama. Sebab agama memang dipahami tak sebatas nilai tapi menjadi way of life atau cara pandang seseorang dalam kehidupan. Tidakkah kita merindukan perubahan ini? Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






