Opini

Konflik Rakyat di Tengah Pandemi, Tanya Kenapa?

Islam datang sebagai solusi problematika yang muncul, termasuk disinformasi juga pandemi. Islam secara jelas meletakkan standar amal dan pemahaman.


Oleh Fatimah Azzahra, S.Pd.

JURNALVIBES.COM – “Sudah jatuh, tertimpa tangga. “

Itulah peribahasa yang cocok untuk kondisi negeri ini. Masih berkutat dengan kesulitan penyelesaian pandemi, muncul pula konflik di tengah masyarakat. Sungguh duet yang mematikan.

Duet Maut Musibah

Sabtu, 17 Juli 2021 tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 BPBD Jember menjadi korban amukan warga saat mengirim jenazah ke Desa Jatisari, Kecamatan Pakusari, Jember. Mereka dihadang lalu dilempar dengan batu serta dipukul oleh sejumlah warga. (Kompas.com, 24/7/2021)

Kamis, 22 Juli 2021, Salamat Sianipar (45), warga Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara diamuk oleh warga. Pasalnya, gara-gara positif Covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah. (Kompas.com, 24/7/2021)

Dua fenomena nahas itu hanya secuil fakta dari kondisi lapangan yang terjadi. Di tengah pergulatan pengentasan pandemi, tenaga kesehatan yang berguguran satu demi satu, warga pun makin banyak yang meninggal. Masyarakat digempur disinformasi. Hoaks betebaran di mana-mana. Sampai menghantarkan pada sikap menyakiti sesama.

Tidak hanya di bumi pertiwi, konflik duet maut ini melanda berbagai negeri termasuk negara adidaya Amerika.

Politik Informasi

Pukulan telak bagi kemajuan teknologi dengan big data dan artificial intelligence-nya, disinformasi masih menyebar di sana-sini. Fenomena ini pun menampakkan ketahanan bangsa dalam sistem kapitalisme. Sebagaimana dr. Fika Komara sampaikan bahwa ketahanan suatu bangsa dalam politik informasi dilihat dari pengolahan informasinya.

Tahap pengolahan informasi ini ada tiga, yakni menyaring, memetakan, dan memutuskan respon yang tepat bagi informasi. Hal ini tentu ditentukan oleh kemampuan berpikir manusia di berbagai tatanan masyarakat. Baik itu sebagai pemangku jabatan, peneliti, tenaga kesehatan, ataupun rakyat sipil.

Sementara sistem kapitalisme tidak memiliki standar untuk memetakan informasi yang boleh disebar atau tidak, bermanfaat atau tidak, benar atau tidak. Standar yang digunakan adalah logika benar salah ala manusia, padahal manusia tempatnya salah dan terbatas. Tentu memicu perbedaan dan pertikaian. Semuanya berjalan demi kepentingan pasar dan keuntungan materi.

Kelemahan Kapitalisme

Di samping itu, ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah ikut memperparah keadaan yang terjadi. Tidak hanya informasi yang berjalan sesuai keuntungan pasar dan pemodal, kebijakan yang dikeluarkan bahkan selama pandemi pun demikian. Tengoklah PPKM yang kejam pada rakyat, tetapi santun pada TKA yang datang. Sungguh membuat rakyat sakit hati.

Edukasi pun minim dilakukan karena pemerintah menjiwai perannya sebagai mandor dalam keberlangsungan kehidupan masyarakat. Sudah terbiasa dengan posisi sebagai pengawas atau wasit di tengah masyarakat. Tidak mau repot bersungguh-sungguh terjun langsung mengedukasi masyarakat, memahamkan kebenaran sehingga meminimkan disinformasi yang beredar.

Penanganan korban pandemi pun masih lemah dilakukan. Keterbatasan dana, tenaga, menjadi alasan negara. Hingga rakyat geram sendiri dan nekat mengambil tindakan. Sayangnya, tindakan yang diambil kadang tak bijak hingga berimbas pada lahirnya konflik yang meruncing di tengah masyarakat. Patutlah rakyat kembali mempertanyakan keberadaan dan tanggung jawab para pemangku jabatan negeri.

Islam Solusi Hakiki

Islam tidak hanya berarti keselamatan. Namun, jika Islam diterapkan dalam kehidupan, betul-betul akan membawa pada keselamatan dan kemuliaan peradaban. Sejarah sudah mencatat kegemilangan penerapannya. Apalagi Islam memang datang dari Sang Pencipta dan Pengatur Bumi dan seisinya, tidak terkecuali kita sebagai hamba.

Islam datang sebagai solusi problematika yang muncul, termasuk disinformasi juga pandemi. Islam secara jelas meletakkan standar amal dan pemahaman. Halal haram, diridai Allah atau tidak. Itulah standar bagi semua hal yang ada.

Islam pun membimbing manusia berpikir benar. Berbekal akal yang Allah anugerahkan, Islam menuntut manusia untuk menstandarkan pemikiran pada keimanan. Menentukan hukum benda atau perbuatan bahkan informasi yang beredar bersumber dari dalil syar’i, Al- Qur’an dan sunah.

Sementara dalam ranah sains dan teknologi, Islam mengajarkan untuk mendengar pendapat para ahli bukan para pemangku jabatan atau pemilik modal. Sehingga masyarakat bisa meneguk kebenaran informasi dan kebijakan yang betul-betul bijak untuk diri dan negeri. Tidakkah kita rindu masa ini hadir kembali?

“Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (HR Ibnu Majah)

Wallahu a’lam bishshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button