Setiap umat Muslim wajib memperjuangkan tegaknya pemerintahan Islam, agar tanah Palestina terbebas dari jajahan zionis Israel. Sebab, sebaik-baiknya umat Muslim adalah mereka yang ikut andil dalam memperjuangkan tanah Palestina.
Oleh Hamsina Ummu Ghaziyah
(Pegiat Literasi Kendari)
JURNALVIBES.COM – Negeri-negeri Muslim saat ini terpecah belah. Umat Islam saat ini tak ubahnya seperti buih di lautan, banyak namun tercerai berai. Akibatnya, umat Islam tak memiliki kekuatan dan kian terpuruk dalam ketidakberdayaan. Hal ini terjadi karena umat Islam dipisahkan oleh sekat nasionalisme, bukan bersatu dalam kepemimpinan Daulah Islam. Alhasil, negeri-negeri muslim kembali menjadi jajahan Barat, semenjak runtuhnya Khilafah Islamiyyah tahun 1924.
Kondisinya umat Islam saat ini sungguh memprihatinkan. Taraf berpikir yang rendah, mengakibatkan pemikiran rusak dan merusak mudah merasuki akal mereka. Penyiksaan fisik, pembantaian hingga nyawa seakan tak berharga, adalah kenyataan pahit nan menyedihkan di dunia Islam saat ini.
Keadaan demikian sebagaimana tengah terjadi di Timur Tengah, Asia, dan Eropa. Negeri-negeri Muslim di bombardir hingga tragedi kemanusiaan menjadi pemandangan setiap hari. Palestina menjadi salah satu negeri Muslim di Timur Tengah yang masih terjajajah oleh kekejaman Zionis Israel. Dengan kondisi demikian, banyak negara yang bersimpati atas kondisi Palestina, salah satunya negeri Muslim terbesar di dunia yaitu Indonesia.
Indonesia memang merupakan negara yang paling lantang menyuarakan terkait kondisi rakyat Palestina. Apalagi terkait isu aksi kemanusiaan di Palestina yang turut disuarakan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat mengikuti rangkaian sidang Majelis Umum PBB di New York, AS.
Pertemuan tingkat menteri tentang UNRWA di New York, Kamis (22/9), dilaporkan melalui laman resmi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Menlu Retno menyatakan bahwa Indonesia terus mendukung peran dan kerja United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) atau badan PBB yang bertugas membantu pengungsi Palestina.
Diketahui pula, sebagai negara merdeka, Indonesia turut bergabung dalam Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Peran Indonesia dalam PBB untuk mewujudkan perdamaian dunia menjadi bukti penerapan Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Indonesia menjadi anggota PBB pada tahun 1950, tepatnya tanggal 28 September.
Namun, sejauh ini keterlibatan para pemimpin Muslim atas kondisi Palestina hanya sebatas kecaman semata. Begitu pula yang dilakukan oleh pemimpin negeri ini, kecaman demi kecaman hanya bisa dilontarkan tetapi tak mampu mengerahkan kekuatan militer dalam negeri untuk membebaskan Palestina dari jajahan Yahudi.
Tak mengherankan jika sikap pemimpin Muslim di dunia saat ini terlalu kooperatif terhadap Barat. Apalagi mereka-mereka yang tergabung dalam organisasi PBB. Padahal, PBB merupakan organisasi bentukan Barat yang mana kekuatan dan kekuasaan tertinggi PBB berada di tangan Amerika Serikat (AS).
Dari sini kita bisa menilai, ketika pemimpin Muslim hanya mengharapkan kekuatan PBB untuk perdamaian Palestina-Israel, maka bisa dipastikan perdamaian dimaksud hanya akan menjadi angan-angan belaka. Sebab, AS adalah mitra (sekutu) Israel, sementara Palestina hanyalah objek kerja sama antara dua negara tersebut.
Maka tak heran pula jika kondisi Palestina-Israel hingga saat ini masih memanas. Mengingat, Israel adalah sekutu AS di Timur Tengah, dan AS merupakan sumber penting bantuan dan peralatan militer bagi Israel.
Sementara, solusi yang ditawarkan dengan melibatkan PBB pun mustahil akan benar-benar mewujudkan perdamaian. Sebab, setiap keputusan apapun dari PBB yang dianggap merugikan penjajah Yahudi akan dianulir oleh Amerika Serikat dengan hak veto yang dimilikinya.
Oleh karena itu, penting untuk mewujudkan persatuan umat, agar negeri-negeri Muslim menjadi kuat. Tidak seperti sekarang, terpecah belah menjadi bangsa-bangsa yang lemah tak berdaya dan tidak peduli terhadap sesama umat Islam dengan alasan nasionalisme. Dengan kekuatan yang dimiliki oleh setiap negeri-negeri Muslim, maka para pemimpin Muslim di dunia mudah untuk mengerahkan kekuatan militernya untuk membebaskan Palestina dari cengkraman Israel.
Kekuatan militer yang dimiliki negeri-negeri Islam baru akan bergerak jika atas perintah otoritas politik. Sementara, politik di negeri-negeri Muslim saat ini menganut asas demokrasi-kapitalisme. Karenanya, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya mengimbau militer untuk membebaskan Palestina. Akan tetapi, perlu ada transformasi politik, dari politik demokrasi menjadi politik Islam.
Palestina merupakan tanah yang diberkahi oleh Allah Swt. sebagaimana firman-Nya, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS: Al Israa [17]:1)
Oleh karena itu, setiap umat Muslim wajib memperjuangkan tegaknya pemerintahan Islam, agar tanah Palestina terbebas dari jajahan zionis Israel. Sebab, sebaik-baiknya umat Muslim adalah mereka yang ikut andil dalam memperjuangkan tanah Palestina. Sebagaimana Allah Swt. berfirman,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah “. (QS:Ali Imran [3]:110). Wallahu a’lam bishawwab.[]
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






