Opini

Prediksi Ekonomi Gelap 2023: Mampukah Kapitalisme Mengatasi?

Khilafah akan mengharamkan berputarnya sektor non-rill seperti pasar modal yang elitis, spekulatif, manipulatif, dan destruktif. Stabilitas ekonomi juga dipengaruhi oleh standar mata uang yang berbasis emas dan perak (dinar dan dirham). Di mana nilai ekstrinsik dan intrinsik sama dan relatif stabil.


Oleh Nabila Sinatrya

JURNALVIBES.COM – Dilansir dari cnnindonesia.com (12/10/2022), Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut ekonomi global pada 2023 akan terasa gelap. Hal ini lantaran kondisi geopolitik yang memanas di saat pandemi Covid-19 belum berakhir. Ketatnya kebijakan moneter bank sentral di sejumlah negara menjadi latar belakang munculnya peringatan resesi ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi ekonomi global jatuh pada jurang resesi di 2023. Hal ini dipicu kenaikan suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara yang diperkirakan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Prediksi gelapnya ekonomi global menjadi konsekuensi logis atas penerapan sistem kapitalisme yang mulai menguasai dunia pada abad ke 18. Prediksi resesi yang akan terjadi tahun 2023 tentu bukanlah yang pertama kalinya. Pada 1930-an pernah terjadi Depresi Hebat (Great Depression) yang menyeret ekonomi dunia ke dalam keterpurukan hingga 10 tahun lamanya. (finance.detik.com, 26/09/2020)

Krisis global ini juga terus berulang pada waktu tertentu, seperti krisis 2008, krisis 2018, dan sangat memungkinkan terjadi lagi di tahun-tahun mendatang termasuk prediksi 2023. Sistem kapitalisme membuat dunia hari ini semakin rentan. Angka kesenjangan, kemiskinan, dan keterbelakangan tidak dapat diselesaikan oleh sistem hari ini.

Kegagalan sistem kapitalisme dalam memimpin dunia juga diungkapkan di kajian akademis, seperti buku karya JK Gibson-Graham dengan judul “The end of Capitalism”, buku David Harvey yang berjudul “Seventeen Contradictions and the end of Capitalism”, dan masih banyak lagi.

Kondisi ini tidak lepas dari paradigma ekonomi kapitalisme yang kesuksesannya dilihat dari sektor non-riil (paham saham). Menurut Pakar Ekonomi Islam H. Dwi Condro Triono, Ph.D, bahwa ada sekitar 90% uang berputar di sektor non-riil dan sektor riil hanya 10%. Besarnya perputaran di sektor non-riil akan mengakibatkan bubble burst. Bubble atau gelembung merupakan siklus ekonomi yang ditandai dengan naiknya nilai pasar dengan cepat terutama pada harga asset.

Perekonomian tumbuh tinggi namun sangat rentan, ketika sektor ekonomi non-riil terguncang, maka surat berharga langsung musnah dan pasar modal akan jatuh. Padahal pasar modal memiliki hubungan antara satu negara dengan negara yang lain, sehingga jika satu pasar modal runtuh akan mempengaruhi wilayah yang lainnya. Ekonomi global akan gelap yang disebabkan oleh penerapan ekonomi kapitalisme yang telah cacat bawaan.

Tidak ada cara lain kecuali dengan mengganti sistem perekonomian yang dapat memberikan stabilisasi ekonomi global, yaitu dengan sistem Islam dalam naungan khilafah. Dalam sistem ekonomi Islam, pembangunan berfokus pada sektor riil. Sumber permodalan melalui utang piutang tanpa riba, mekanisme syirkah, bahkan negara bisa memberikan pinjaman dan pemberian modal bagi warga negara yang membutuhkan. Ukuran keberhasilan sistem ekonomi Islam dilihat dari tercapainya kesejahteraan setiap individu masyarakat.

Khilafah akan mengharamkan berputarnya sektor non-rill seperti pasar modal yang elitis, spekulatif, manipulatif, dan destruktif. Stabilitas ekonomi juga dipengaruhi oleh standar mata uang yang berbasis emas dan perak (dinar dan dirham). Di mana nilai ekstrinsik dan intrinsik sama dan relatif stabil. Hal ini tentu bukan sekadar konsep belaka tanpa adanya realita, terbukti selama kurang lebih 1300 tahun penerapan Islam secara sempurna.

Jikalau krisis ekonomi pun terjadi, bukan karena siklus yang berulang. Akan tetapi disebabkan karena bencana alam atau peperangan. Maka negara akan mengalokasikan dana dari baitul maal untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut, jika dana di baitul maal itu sedikit atau bahkan kosong maka negara akan mendorong masyarakat untuk bersedekah. Itulah solusi yang ditawarkan Islam dalam mencegah dan mengatasi krisis ekonomi. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button