OpiniParenting Nabawiyah

Pemberian Terbaik Orang Tua

Membentuk pribadi anak yang salih memerlukan keluarga yang memahami ideologi Islam, lingkungan masyarakat yang menganut dan menjalankan syariah Islam, serta negara yang menerapkan sistem pendidikan Islam. Tanpa semua itu pembentukan anak salih seutuhnya sulit diwujudkan.


Oleh Yati Nurhayati
(Aktivis Dakwah di Kota Depok)

JURNALVIBES.COM – Pemberian terbaik orang tua terhadap anak bukan terletak pada seberapa banyak harta dan materi yang bisa diberikan. Seperti rumah yang megah, gadget yang canggih, kendaraan mewah, pakaian bermerek, atau makanan dan minuman yang serba lezat. Tetapi pemberian terbaik orang tua terhadap anak seperti yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran adab (akhlak) yang baik.”

Tentunya, kewajiban orang tua itu mengajarkan akhlak dan adab sekaligus memberikan teladan yang baik kepada anak-anak sedini mungkin.

Di antara adab yang harus diajarkan kepada mereka adalah adab kepada Allah Swt. orang tua, guru, teman, tetangga dan lainnya. Kewajiban ini lebih utama dan lebih baik dibandingkan jika kita bersedekah setiap hari sebesar satu sha seperti disampaikan oleh Rasulullah saw. dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Jabir bin Samurah.

Oleh karenanya, keluarga merupakan sebuah gambaran terkecil dari kepemimpinan umat yang sangat berperan menjadi madrasah pertama dalam pendidikan anak-anak. Pembinaan kepribadian Islam dan pengokohan keimanan bermula dari keluarga. Ibu adalah guru pertama bagi anak dan ayah adalah kepala sekolah yang akan menuntun dalam penerapan kurikulumnya.

Namun, saat ini keluarga harus berjuang sendiri mendidik anak-anak mereka, karena sistem kapitalis sekuler yang bercokol dengan memisahkan agama dari segala aspek kehidupan. Oleh karenanya diperlukan usaha keras untuk membangun ketangguhan dan kepribadian islamiyah yang baik pada anak-anak kita. Karena kepribadian ini akan tumbuh dan menancap kuat dalam benak anak-anak hingga menjadi sebuah kebiasaan.

Orang tua semakin besar tantangannya dalam mendidik anak-anak ketika dihadapkan dengan keadaan buruk yang terjadi di sekitar kita, seperti pergaulan bebas, buruknya adab anak kepada orang tua, sadisme dan masih banyak yang lain. Maka, sangat diperlukan peran masyarakat untuk saling bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang kondusif guna membina anak-anak agar terhindar dari pengaruh lingkungan yang semakin rusak.

Oleh karena itu, pembentukan kepribadian anak menjadi tanggung jawab para orang tua. Maka membangun dan menanamkannya harus benar. Pembentukan kepribadian yang benar dilakukan dengan pembinaan keimanan (akidah), pembinaan dan pembiasaan ibadah, pendidikan perilaku (akhlak), pembentukan jiwa, pembentukan intelektualitas serta pembinaan interaksi sosial kemasyarakatan.

Ada beberapa hal yag bisa kita lakukan dalam menanamkan kepribadian Islam untuk anak anak kita, di antaranya:

Pertama, pengokohan keimanan. Pengokohan keimanan bisa dilakukan dengan cara menanamkan keyakinan kepada anak bahwa Allah senantiasa melihat dan mengikuti manusia di mana pun berada, menancapkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw. Serta menjadikan Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya sebagai suri teladan dan menyibukkan anak dengan membaca Al-Qur’an dan sunah.

Sebagai gambaran, Rasulullah saw. menjadikan Ali bin Abi Thalib ra yang berusia belum genap 10 tahun, menjadi anak yang pertama memeluk Islam, mengenal Allah, mempelajari aturan-Nya serta membela agama Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, penegakan ibadah. Penegakan ibadah merupakan penyempurnaan dari pengokohan akidah, dan menjadi cerminan keyakinan kepada Allah Swt. Dr. Said Ramdhan al-Buthi menyebutkan, untuk menanamkan akidah yang kuat dan benar pada anak, maka ia harus dibiasakan dengan ibadah dengan berbagai macam bentuknya. Sehingga akidahnya akan tumbuh kuat dan teguh dalam menghadapi segala macam cobaan kehidupan.

Penegakan akidah dilakukan dengan memotivasi anak untuk mendirikan shalat wajib, kemudian ditambah dengan melakukan shalat sunnah, serta mengajak anak turut shalat berjamaah di masjid.

Ketiga, penguatan akhlak. Akhlak adalah perilaku yang dibentuk. Oleh sebab itu anak harus diberikan pendidikan akhlak agar aktivitas sosial mereka terhindar dari penyimpangan serta kesalahan. Anak akan tumbuh sesuai dengan pembiasaan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Maka jika pendidikan akhlak tidak mendapatkan perhatian yang serius, perilaku buruk akan menjadi masalah seperti yang terjadi pada remaja dewasa ini. Salah satu yang menjadi perhatian serius dalam penguatan akhlak adalah adab.

Keempat, pembentukan jiwa. Pembentukan jiwa dilakukan melalui perhatian dan kasih sayang dalam secara langsung secara fisik seperti pelukan dan belaian, bermain dan bercanda dengan mereka, menyatakan rasa sayang dengan lisan. Bisa dilakukan dengan cara memberi mereka hadiah, penghargaan dan pujian.

Hal Ini memberikan pengaruh besar pada anak-anak, bagaimana kasih sayang antara orang tua dan anak akan tumbuh erat serta akan membentuk jiwa yang lembut pada mereka. Termasuk menyambut mereka dengan penuh kehangatan.

Kelima, pembentukan intelektual. Orang tua agar dapat menstimulasi anak untuk bersemangat dalam mencari dan mencintai ilmu. Menuntut ilmu adalah ibadah utama yang merupakan salah satu kewajiban bagi seorang Muslim.

Usia dini adalah masa emas untuk membangun keilmuan dan membentuk pemikiran mereka. Orang tua harus membimbing anak memahami hukum-hukum Islam, mencarikan guru yang salih, mendidik anak terampil bahasa Arab dan bahasa asing yang diperlukan. Menuntun anak sesuai kecenderungan ilmiahnya, menyediakan bahan bacaan di rumah dengan membuat perpustakaan rumah, mengisahkan riwayat orang-orang salih serta mendorong anak mencontoh penguasaan keilmuan mereka.

Keenam, pembinaan kemasyarakatan. Menumbuhkan anak agar bisa berinteraksi sosial dengan masyarakat dan membangun sikap kepedulian serta tanggung jawab terhadap masalah umat. Interaksi anak-anak dengan masyarakat memerlukan pemahaman yang matang, utamanya ketika mereka memasuki usia balig. Mereka akan terikat dengan aturan interaksi sosial, hubungan antara laki-laki dan perempuan serta hukum-hukum kemasyarakatan seperti perekonomian, hubungan ketetanggaan, kekerabatan, pertemanan dan lain sebagainya. Anak harus memahami jenis pakaian apa yang harus dikenakan untuk keluar rumah, Tahu batas-batas hubungan antara lawan jenis.

Membentuk pribadi anak yang salih memerlukan keluarga yang memahami idiologi Islam, lingkungan masyarakat yang menganut dan menjalankan syariah Islam, serta negara yang menerapkan sistem pendidikan Islam. Tanpa semua itu pembentukan anak salih seutuhnya sulit diwujudkan.

Bersegera melakukan yang terbaik, memberikan pendidikan dan pengasuhan terbaik. Istikamah dalam ketaatan dan senantiasa memohon pertolongan Allah agar anak-anak menjadi ahlul Qur’an, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan dilapangkan hatinya menerima kebaikan.

Maka, memberikan pembinaan keimanan dan pembinaan ibadah, pendidikan akhlak, membentuk jiwa, membentuk intelektual anak harus senantiasa dilakukan oleh orang tua seberat apa pun tantangan yang dihadapinya. Kalau pun ada keterbatasan diri kita sebagai orang tua, maka harus berusaha mendekatkan anak kepada orang-orang shalih dan mendorong agar anak-anak mengambil peran positif dalam keluarga dan masyarakat.

Namun, yang paling bertanggung jawab agar semuanya teralisasi adalah negara. Karena negara bisa menerapkan aturan yang harus dilaksanakan oleh warganya. Oleh karenanya, peran negara harusnya masuk ke semua lini kehidupan dengan memberikan solusi yang mumpuni, yang akan menyelesaikan persoalan umat, termasuk dalam urusan pendidikan pribadi anak yang akan menjadi generasi penerus peradapan yang tangguh. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button