Parenting Nabawiyah

Binge Watching, Me Time atau Kelalaian?

Lihatlah catatan emas sejarah ketika Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan. Lahir generasi terbaik nan gemilang pada masanya. Kuat fisiknya, cerdas akalnya, semangatnya membara untuk bermanfaat bagi manusia lainnya.


Oleh Citra Dewi Anita

JURNALVIBES.COM – Sebagai seorang ibu, kadang kita merasa semakin banyak PR dan semakin bertambah kekhawatiran kita terhadap kondisi anak-anak jaman sekarang. Begitu banyak trend yang beredar dari berbagai aplikasi media sosial. Salah satunya binge watching.

Binge Watching

Binge watching adalah kecanduan menonton film atau series hingga lupa waktu dan mengabaikan aktivitas harian. Banyak remaja yang melakukan aktivitas ini, bahkan hingga orangtuanya.

Menurut laman hellosehat.com, kasus kecanduan nonton ini sangat umum terjadi. Orang yang mengalaminya akan betah menonton hingga berjam-jam. Fenomena ini akan menimbulkan efek candu, sama seperti halnya narkoba, duh ngeri ya.

Tak Bisa Jauh dari Gadget

Rasanya semua remaja akan merasa susah ketika jauh dari gadget. Gadget sudah berubah menjadi kebutuhan primer bagi generasi Z ini. Karena sudah menjadi kebutuhan, maka ketika tidak pegang gadget katanya seperti tidak ada kehidupan.

Padahal, dulu orang tua kita, generasi terdahulu masih bisa hidup bahkan lebih sehat dari generasi sekarang. Ya, mungkin masanya berbeda, mungkin jamannya berbeda. Tapi, tetap tidak bisa dibenarkan juga kala gadget lebih dekat dari pada Tuhan kita, orangtua kita, keluarga kita, teman-teman kita.

Belajar Prioritas

Menonton adalah aktivitas yang boleh dilakukan. Apalagi sebagai penawar kesibukan aktivitas harian, me time kata orang jaman sekarang. Asal kita memperhatikan apa yang kita tonton. Dan apakah aktivitas menonton ini membuat kita lalai akan kewajiban yang lain.

Hendaknya kita buat prioritas dalam aktivitas kita. Pilah mana yang wajib, yang harus kita lakukan dengan sungguh-sungguh, diletakkan sebagai prioritas. Yang sunah kita usahakan dikerjakan dan perbanyak. Sementara yang mubah akan kita pilih mana yang akan mendatangkan kebaikan atau sebaliknya. Yang makruh atau haram kita tinggalkan sejauh-jauhnya.

Betapa banyak anak sekarang yang tidak bisa membantu pekerjaan ibunya di rumah. Tidak tahu bagaimana caranya memasak nasi, mencuci baju, memasak, padahal sebagai anak memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tuanya. Salah satu contohnya meringankan pekerjaan ibunya dengan membantu pekerjaan sehari-hari. Apalagi jika posisinya sebagai anak perempuan yang akan menjadi ibu di masa depannya.

Miris. Di satu sisi tidak tahu bagaimana meringankan tugas orangtuanya di rumah, disisi lain sibuk ikut trend binge watching.

Suka-suka dong

Masyarakat sekuler memandang bahwa hidup itu semau kita. “Terserah saya dong”, “suka-suka dong”, “Gak usah ikut campur”, “kan saya ga bikin susah kamu”, kalimat semisalnya terus dilontarkan sebagai tangkisan saat diingatkan. Individualisme sudah merasuk hingga tulang manusia jaman sekarang. Tak peduli dan tak mau peduli, tak mau diingatkan bahkan oleh orangtua sendiri.

Betapa hebatnya mereka yang berniat merusak generasi sekarang. Mereka rela memikirkan siang dan malam bagaimana caranya generasi Muslim hancur jauh dari nilai agamanya, bahkan takut dengan agamanya sendiri.

Kembali Kepada Allah

Miris sekali melihat kondisi generasi sekarang. Lantas apa yang bisa kita lakukan selain kembali pada apa yang Allah turunkan? Aturan yang sesuai dengan syariat yang sudah Rasul ajarkan.

Lihatlah catatan emas sejarah ketika Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan. Lahir generasi terbaik nan gemilang pada masanya. Kuat fisiknya, cerdas akalnya, semangatnya membara untuk bermanfaat bagi manusia lainnya. Mereka bersegera menyambut hadis baginda Rasulullah saw ingin menjadi manusia yang baik.

Maka kita kenal Al Khawarizmi, Muhammad Al Fatih, Salahuddin Al Ayyubi, Maryam Al Astrulabi, Fatimah al Fihri, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan masih banyak lagi. Merekalah sosok manusia yang tahu tujuan hidupnya, tahu prioritas amalnya. Hingga sejarah catat kisah kegemilangannya. Karena kontribusi luar biasa yang mereka hasilkan dari kerja kerasnya.

Tak terbuai akan waktu yang luang, tak merengek ketika ditempa ujian. Karena keyakinan menghujam dalam bahwa selalu ada Allah bersama. Sehingga mereka berhati-hati dalam beramal. Semoga Allah senantiasa menjaga anak-anak kita menjadi penerus peradaban Islam yang gemilang. Aamiin. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button