Pelayanan Kesehatan Bukan Perdagangan

Sistem Islam memandang penyediaan kesehatan kepada warga negaranya dari perspektif manusia dan bukan aspek ekonomi. Dalam hal ini imam bertanggung jawab untuk mengelola urusan-urusan rakyat terutama kebutuhan dasarnya.
Oleh Aslama
(Aktivis Muslimah)
JURNALVIBES.COM – Pemerintah akan memperkenalkan program baru jaminan kesehatan. Kelas-kelas rawat inap di BPJS Kesehatan ini akan dihapuskan pada tahun 2022 mendatang. Rencana ini awalnya akan dilaksanakan pada awal 2021 lalu. (Kompas.com, 12/12/2022)
Nantinya tidak ada lagi kelas 1, 2, dan 3 untuk peserta. Ke depan akan dilebur menjadi satu, dan hanya akan ada satu kelas yakni kelas standar.
Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Muttaqien menuturkan, rencana pemberlakuakn satu kelas rawat inap tersebut untuk menerapkan kembali prinsip ekuitas sesuai dengan amanah undang-undang. Pihaknya saat ini bersama kementerian terkait masih merumuskan kelas rawat inap ‘tunggal’ tersebut. (merdeka.com, 8/12/2021)
Rencana penghapusan kelas untuk layanan rawat inap BPJS disuarakan demi mewujudkan ekuitas atau kesamaan antara peserta berbayar dan PBI. Namun faktanya ini menciptakan ketidakadilan bagi mereka yg membayar karena harus mengikuti kelas PBI.
Kebijakan ini menjadi tanda tanya, apakah ini untuk kebaikan bersama (rakyat), ataukah demi keuntungan pihak tertentu?
Adapun penerapan rawat inap kelas standar akan berdampak pada besaran iuran dan tarif INA-CBGS. Besaran iuran dan tarif INA-CBGS akan dihitung ulang menyesuaikan dengan dua jenis kelas standar. “Saya berharap besaran iuran yang akan ditetapkan bisa terjangkau oleh peserta mandiri, sehingga bisa menurunkan jumlah peserta yang non-aktif (yang menunggak iuran),” ucap Koordinator Bidang Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar. (merdeka.com, 8/12/2021)
Kebijakan yang lahir dari sistem kapitalisme menjadikan untung dan rugi menjadi sebuah landasan aturan yang diterapkan. Tentunya tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Dengan kata lain sistem ini mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah baru.
Kesehatan merupakan kebutuhan pokok yang sangat penting bagi masyarakat. Tapi di ranah ini kita masih dihadapkan pada biaya obat dan pelayanan yang mahal. Bahkan tak jarang kasus kematian yang terjadi di negeri ini karena lambatnya pelayan kesehatan yang disebabkan faktor keuangan pasien ataupun keluarga pasien. Di sinilah kita harusnya berfikir, adakah kemanusiaan dalam sistem Kapitalis ini?
Berbeda dengan sistem kapitalis, sistem Islam memandang penyediaan kesehatan kepada warga negaranya dari perspektif manusia dan bukan aspek ekonomi. Dalam hal ini imam bertanggung jawab untuk mengelola urusan-urusan rakyat terutama kebutuhan dasarnya. Salah satu kebutuhan dasar rakyat adalah ketersediaan layanan kesehatan.
Nabi Saw. bersabda: “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ketika Rasulullah Saw. sebagai kepala negara di Madinah diberikan seorang dokter sebagai hadiah, ia serahkan dokter tersebut kepada umat Islam. Kenyataannya bahwa Rasulullah Saw. menerima hadiah dan beliau tidak menggunakannya. Bahkan beliau menugaskan dokter itu kepada kaum muslim, dan hal ini adalah bukti bahwa kesehatan adalah salah satu kepentingan umat Islam.
Negara berkewajiban untuk membelanjakan anggaran negara pada penyediaan sistem kesehatan gratis untuk semua orang. Untuk perihal pembiayaan negara mengambil dananya dari baitul maal. Jika dana yang tersedia tidak mencukupi maka barulah pajak kekayaan akan dikenakan pada umat Islam untuk memenuhi defisit anggaran.
Catatan sejarah pada tahun 1283 ketika Islam diterapkan sebuah sistem yang lengkap, rumah sakit umum seperti Bimaristan al-Mansuri, didirikan di Kairo. Rumah sakit ini pada waktu itu mampu mengakomodasi 8.000 pasien. Ada dua petugas untuk setiap pasien dalam melakukan segala sesuatu agar mendapatkan kenyamanan dan kemudahan. Setiap pasien mendapatkan ruang tidur dan tempat makan sendiri. Para pasien baik rawat inap maupun rawat jalan diberi makanan dan obat-obatan gratis.
Ada apotek dan klinik berjalan untuk perawatan medis bagi orang-orang cacat dan mereka yang tinggal di desa-desa Khalifah Al-Muqtadir Billah, memerintahkan bahwa setiap unit apotek dan klinik berjalan harus mengunjungi setiap desa dan tetap di sana selama beberapa hari sebelum pindah ke desa berikutnya.
Dari catatan sejarah di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pelayanan penuh tanpa syarat terhadap rakyat hanya akan terwujud jika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh di berbagai aspek kehidupan. Sistem inilah yang akan menjaga alam semesta ini dari kehancuran dan kekacauan sekaligus mendatangkan keberkahan. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






