Israel Bagai Anak Emas, Indonesia Kena Imbas?

Di dalam sistem Islam, tidak ada hubungan diplomatik apapun dengan negara-negara yang melakukan permusuhan kepada Islam dan kaum muslimin.
Oleh Nurul Wahida, S.Pd., M.Si.
(Guru dan Aktivis Islam)
JURNALVIBES.COM – Media Antara (18/10/2022) melaporkan bahwa sebagai hasil dari pertemuan dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino di Istana Merdeka, Jakarta Pemerintah Indonesia dan otoritas sepak bola dunia, FIFA bersepakat untuk memastikan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2023 yang awalnya akan diselenggarakan di Tanah Air pada 20 Mei-11 Juni 2023 dapat terlaksana dengan baik. Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 berdasarkan rapat dewan FIFA di Shanghai, Cina pada 24 Oktober 2019. Namun event tersebut harus tertunda selama dua tahun karena situasi pandemic Covid-19.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, tidak mempermasalahkan kehadiran timnas Israel meski negara tersebut tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Dia menegaskan bahwa setiap negara yang lolos ke Piala Dunia U20 2023 akan disambut dan dilayani dengan baik, termasuk Israel. Dia juga mengatakan bahwa PSSI akan menjamin keamanan Timnas Israel U20 selama Piala Dunia U20 2023. Menurutnya, hal itu sudah menjadi tanggung jawab sebagai tuan rumah (Kumparan.com, 02/03/2023).
Namun pada Rabu (29/3) yang lalu, FIFA secara resmi membatalkan status tuan rumah Indonesia. Tuan rumah baru akan segera diumumkan secepatnya, dengan tanggal pertandingan tetap tak berubah. Sanksi potensial terhadap PSSI akan diputuskan ke depan. Sesuai pernyataan FIFA dalam situs resmi federasi.
Banyak pihak yang mengatakan bahwa salah satu alasan pembatalan tersebut adalah karena kehadiran timnas Israel di Turnamen level junior tingkat dunia tersebut. Penolakan terhadap kehadiran Israel pun belakangan semakin massif. Sebenarnya Israel sudah resmi menjadi peserta Piala Dunia U-20 2023 sejak Juni 2022 lalu. Sedangkan status tuan rumah Indonesia dinyatakan pada oktober 2019 silam.
Organisasi kemanusiaan Internasional, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui jumpa pers pada 29 Juni 2022 menolak kedatangan Israel. Sejak saat itu, satu persatu kelompok masyarakat pun mulai menyatakan penolakan. Mendekati waktu pelaksanaan, penolakan terhadap Israel semakin ramai muncul dari berbagai pihak.
Gubernur Bali, I Wayan Koster menolak kehadiran timnas Israel. Koster mengirimkan surat ke Menteri Pemuda dan Olahraga. Dalam surat yang ditujukan, Koster menolak Israel bermain di Bali. Setelah Koster, tanggapan serupa juga diserukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Kader PDIP ini diketahui ikut menolak Israel bermain di wilayah Solo secara terang-terangan. Keduanya menolak karena alasan ideologi Bung Karno.
Selain MER-C, KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) dan Persaudaraan Alumni 212 juga turut menolak kehadiran timnas Israel.
Gelombang penolakan ini juga diikuti ormas-ormas Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut semua ormas Islam menolak keikutsertaan timnas Israel pada ajang Piala Dunia U-20 di Indonesia. Penolakan tersebut salah satunya didasari atas konstitusi dan solidaritas kepada rakyat Palestina. Ketua MUI, Sudarnoto Abdul Hakim menyampaikan pernyataan itu merupakan hasil dari silaturahmi MUI dengan ormas-ormas Islam pada Jumat, 17 Maret 2023 di kantor MUI Pusat, Jakarta. Ormas Islam menyampaikan pandangan, sikap, dan saran-saran secara terbuka, rasional, tenang dan elegan terkait dengan hadirnya warga Israel yang tergabung dalam timnas U-20 di Indonesia. Semua ormas Islam yang hadir menyatakan sikap menolak kehadiran Timnas Israel.
Secara umum bahwa alasan utama atau dasar pijakan atas penolakan ini yang pertama adalah karena amanah konstitusi yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Zionis Israel adalah penjajah dan penjahat maka jelas harus ditolak. Kedua, Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel dan tidak akan pernah menjalin hubungan diplomatik selama Palestina masih dijajah. Ketiga, memperkuat solidaritas kepada rakyat Palestina yang selama ini telah menjadi korban agresi dan kejahatan Israel.
Beberapa partai politik di tanah air juga diketahui menunjukkan penolakan atas keikutsertaan Israel dalam piala dunia U-20. Parpol ini diantaranya yaitu Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), hingga Partai Amanat Nasional (PAN). Sejumlah massa juga menggelar unjuk rasa di dekat Patung Kuda, Jakarta. Penolakan didasari oleh tak adanya hubungan diplomasi resmi antara pemerintah Indonesia dengan Israel.
Penolakan terhadap Israel juga menjadi viral di media sosial. Pergolakan isu di Media sosial tersebut dipantau oleh Litbang Kompas melalui aplikasi Talkwalker pada 24-31 Maret 2023 dengan kata kunci “piala dunia” dan saringan bahasa Indonesia. Hasilnya terdapat 280.000 percakapan dan 2,4 juta interaksi di antara warganet dari berbagai media sosial.
Sementara itu Erick Thohir juga memberi pernyataan pers. Ia mengaku sudah berjuang maksimal. Ia menambahkan, keputusan yang merupakan kewenangan FIFA sebagai lembaga tertinggi sepak bola dunia dengan 211 anggota. Jadi, tidak bisa ditolak lagi.
Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto mengungkapkan pertimbangan lain FIFA membatalkan pegelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia. Menurutnya, FIFA tak mungkin membatalkan perhelatan Piala Dunia U-20 di tanah air hanya karena ramainya penolakan kehadiran tim nasional (Timnas) Israe. Namun FIFA juga mempertimbangkan tragedi di stadion Kanjuruhan, Jawa Timur pada Oktober 2022 silam yang menyebabkan ratusan nyawa melayang.
Selain alasan penolakan Israel dan tragedi Kanjuruhan, pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah juga diindikasi karena beberapa venue dinilai belum siap. Setidaknya ada enam stadion yang disiapkan Indonesia sebagai venue Piala Dunia U-20 2023. Namun beberapa stadion belum benar-benar siap 100%. Stadion Jalak Harupat masih perlu memperbaiki area siaran dan tribun penonton. Gelora Jakabaring Palembang masih harus memperbaiki area parkir. Markas Persebaya Surabaya, Stadion Gelora Bung Tomo masih kurang dalam fasilitas penonton difabel, lahan parkir, tempat duduk di tribun selatan serta harus memperbaiki akses bagi para awak media. (Okezone, 30/03/2023)
Jika kita analisis dari beberapa fakta yang ada, apa yang dilakukan oleh FIFA merupakan upaya untuk melindungi Israel dan menjaga keamanan serta keberhasilan piala dunia U-20 2023. Sebagai negara yang melakukan agresi militer dan genosida terhadap negara lain (Palestina), seharusnya Israel tidak mendapatkan hak untuk ikut serta dalam piala dunia sebagaimana yang dialami Rusia atas serangan kepada Ukraina. Ini menunjukkan dengan jelas dan gamblang sikap hipokrit dunia internasional, Barat dengan gembongnya Amerika dan PBB, serta lembaga-lembaga internasional termasuk FIFA. Sikap mereka terhadap agresor hanyalah mengikuti kepentingan mereka. Tidak ada standar kebaikan dan keadilan yang baku bagi mereka. Satu-satunya standar adalah kepentingan mereka.
Di sisi lain jika ada partai politik yang notabene merupakan parpol pendukung rezim menolak kehadiran Israel, bisa jadi hanya merupakan gimmick/ modus pencitraan untuk menarik simpati masyarakat khususnya kaum muslimin atau untuk menutupi ketidaksiapan Indonesia dengan dalih menolak Israel.
Siapapun mengetahui bahwa Israel adalah penjajah dan perampas tanah Palestina dari tangan kaum Muslim. Beberapa waktu yang lalu, entitas Yahudi Israel kembali melakukan agresi menyerang penduduk Palestina. Tentara Israel menyerang kamp pengungsian warga Palestina di Jenin. Mereka pun menyerang Kota Nablus dan juga mengebom Gaza. Akibat serangan itu sejumlah warga Palestina tewas dan banyak lainnya mengalami luka serta menyebabkan hancurnya rumah-rumah, kamp pengungsian, bangunan dan fasilitas publik.
Serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina terus meningkat dan di tahun 2022 termasuk yang terburuk yaitu mencapai 225 jiwa. Memasuki tahun 2023, serangan Israel semakin brutal.
Walau banyak yang menolak, namun ada pihak yang mendukung hadirnya Israel dengan alasan bahwa olahraga tidak selayaknya dikaitkan dengan politik. Padahal itu hanyalah alasan yang dibuat-buat. Pada faktanya, event olahraga memang berkaitan dengan politik. Bukankah pertemuan antar negara untuk menetapkan kesepakatan event olah raga juga merupakan aktivitas politik?
Sebelumnya, Rusia dilarang ikut event sepak bola Piala Dunia juga karena alasan yang sama. Lalu sikap ini tidak berlaku sama terhadap Israel. Jelas sekali ada kepentingan politik di dalamnya. Israel sebagai “anak emas” Amerika dan negeri-negeri Eropa sebagai pengusung ideologi Kapitalisme pasti mendapat perlakuan istimewa oleh organisasi dunia termasuk FIFA di bidang olahraga. Sedangkan Rusia sebagai negara dengan ideologi sosialisme yang merupakan musuh Amerika dan sekutu-sekutunya jelas mendapat perlakuan sebaliknya.
Jelas sekali tindakan yang dilakukan FIFA menunjukkan adanya upaya menjaga kepentingan Israel. Semestinya, sejak awal sebagai negeri dengan berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dapat menunjukkan sikap solidaritas terhadap Palestina dan warganya. Negeri ini mestinya mendesak FIFA untuk memperlakukan Israel seperti perlakuan mereka terhadap Rusia, dan menolak Israel untuk ikut event Piala Dunia U-20 Mei mendatang bukan hanya membatalkan status tuan rumah Indonesia.
Dengan demikian menerima begitu saja Israel dalam ajang Piala Dunia junior ini, bahkan berkomitmen melayani Israel dengan baik dan menjamin keamanannya (seandainya tidak jadi dibatalkan sebagai tuan rumah) sungguh menunjukkan kepalsuan solidaritas Pemerintah Indonesia terhadap sesama kaum Muslim di Palestina dan juga lemahnya ketaatan rezim ini kepada amanah konstitusi UUD 1945. Sikap mengistimewakan Israel walau hanya dalam bidang olahraga tetap merupakan bentuk pengkhianatan dan tindakan yang menyakiti hati warga Palestina dan umat Islam.
Sebagai organisasi dunia, PBB dan masyarakat internasional juga tak kuasa melawan agresi Israel. Sudah puluhan Resolusi PBB dikeluarkan terhadap Israel. Namun, semua itu dilanggar oleh Israel tanpa ada sanksi sedikit pun yang diberikan PBB dan masyarakat internasional atas Israel. Puluhan resolusi yang dikeluarkan oleh PBB, dengan dasar Piagam PBB, juga diimplementasikan oleh PBB, terbukti mandul. Sedikit pun tidak bisa menghilangkan kezaliman Israel dan memberikan keadilan bagi bangsa Palestina.
Terus berkuasanya Israel di bumi Palestina bukanlah karena Israel terlalu kuat dan tidak dapat dikalahkan, namun karena perlindungan dan dukungan Barat, khususnya Amerika, terhadap Israel, termasuk pihak yang terus mendapatkan bantuan militer terbesar dari Amerika setiap tahunnya. Israel sengaja dibiarkan, dipertahankan serta dilindungi oleh Barat agar menjadi “kanker” ganas yang menggerogoti tubuh kaum Muslimin, dengan tujuan untuk melemahkan kaum Muslimin, dan menghalangi kebangkitan Islam.
Selama Ideologi kufur kapitalisme masih berkuasa di dunia ini, maka para penjahat dan penjajah yang memusuhi Islam dan kaum muslimin akan terus diberi singgasana. Sudah saatnya Ideologi Islam kembali ditegakkan di atas muka bumi ini untuk menumpas segala bentuk kezaliman dan penindasan yang dilakukan musuh-musuh Islam.
Di dalam sistem Islam, tidak ada hubungan diplomatik apapun dengan negara-negara yang melakukan permusuhan kepada Islam dan kaum muslimin. Yang ada hanyalah hubungan jihad/perang. Maka wajar di masa kejayaan Islam, musuh-musuh menjadi gentar untuk mengusik kaum Muslimin apalagi sampai membantai dan membunuh. Sangat berbeda dengan kondisi saat ini dimana kaum muslimin menjadi “mangsa” bagi negara-negara yang memusuhi Islam. Hanya sistem Islam yang mampu bersikap keras dan tegas kepada para penjajah serta menegakkan keadilan di tengah-tengah manusia. Islam bersikap keras kepada para penjajah dan penjahat namun memanusiakan manusia. Bukankah hal tersebut yang kita impikan? Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by google.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






