Mengaktivasi Peran Gen Z Dalam Perjuangan Menegakkan Islam Kafah

Gen Z membutuhkan adanya partai yang bisa membina secara sahih, yang mendorong terbentuknya gen Z punya kepribadian Islam, yang membela Islam dan membangun peradaban Islam. Gen Z layak untuk menjadi agen perubahan dan menjadi duta Islam, yang akan menyampaikan syiar Islam ke tengah-tengah umat.
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Di era digital sekarang ini, gen Z dihadapkan pada sejumlah permasalahan yang kompleks dan beragam. Meskipun mereka terampil dalam teknologi dan memiliki sikap optimis, banyak dari mereka menghadapi tantangan yang serius, seperti kesehatan mental, isu lingkungan dan ketidaksetaraan.
Sebagaimana yang dilansir kompas (24-10-2024), telah terjadi aksi bunuh diri yang dilakukan seorang remaja laki-laki, dengan melompat dari gedung parkir Metropolitan Maal di Bekasi. Insiden ini menggambarkan bahwa remaja atau generasi muda hari ini mengalami problem kerapuhan mental. Akibat derasnya arus teknologi banyak gen Z yang mengalami kesehatan mental.
Seperti yang dirilis kumparan (21-10-2024), dengan kemudahan teknologi dan luasnya akses informasi terutama media sosial, banyak memberikan dampak bagi penggunanya terutama generasi muda. Di antaranya adalah meningkatnya stres, kecemasan hingga mengalami depresi. Krisis kesehatan mental pada generasi hari ini semakin mengkhawatirkan, dan ini menjadi ancaman yang serius bagi generasi. Sehingga banyak berbagai organisasi dan komunitas tumbuh dan menawarkan program dukungan, seperti workshop dan konseling.
Dengan adanya lonjakan kasus gangguan mental di kalangan generasi muda ini, dikhawatirkan akan mengancam masa depan bangsa.
Menurut radarjogja ( 23-10-2024), begitu juga dengan angka pengangguran yang menimpa kalangan generasi Z (Gen Z) di Indonesia telah mencapai titik kritikal, yaitu sebanyak 9,9 juta orang. Hal itu merupakan korban ekonomi atau beban bagi negara.
Dalam sistem kapitalis gen Z merupakan sasaran empuk bagi para kapital untuk menghisap potensi yang mereka miliki. Di mana sistem ini menjebak gen Z dalam menjalani kehidupan yang serba materialistis, menjerumuskan mereka kepada gaya hidup hedonis dan pragmatis. Apalagi ditambah dengan media sosial yang memperlihatkan gaya hidup glamor, sehingga mendukung dan menjadikan sarana bagi gen Z berperilaku konsumtif. Serta banyaknya persoalan lain yang dihadapi gen Z seperti mahalnya UKT, banyaknya pengangguran, gangguan mental dan masih banyak yang lainnya.
Sistem demokrasi kapitalis banyak melahirkan aturan yang rusak, dan menjadikan gen Z terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan hedonisme sehingga menjadikannya sebagai lifestyle. Akibatnya pinjol dijadikan sebagai solusi praktis akibat dari fenomena fear of missing out (FOMO). Sistem kapitalis ini juga mengarahkan kehidupan gen Z ke gaya hidup liberal, dan memalingkan dari identitas Islam sehingga membuat pemuda Muslim tidak lagi berpikir secara mendalam dalam menjalani aktivitas kehidupan.
Dalam sistem kapitalis ini, keberadaan akal hanya digunakan untuk memikirkan kesenangan kehidupan duniawi semata. Akibatnya menjadikan keimanan pemuda hari ini menjadi lemah, serta segala aktivitas yang dilakukan tidak mau terikat dengan aturan syariat. Karena keterikatan dengan syariat, dianggap sebagai beban yang akan menghalangi kesenangan yang mereka inginkan.
Banyak gen Z yang mengalami insecure dengan syariat yang Allah perintahkan, dan malu dengan identitas dirinya sebagai seorang Muslim.
Apalagi ditambah dengan pengaruh dari Barat yang terus berusaha terus untuk memadamkan kebangkitan pemuda Islam. Proyek Countering Violent Extremism (CVE) yang diaruskan Amerika secara global dan The UN Global Counter-Terrorism Strategy-nya PBB telah menjadikan pemuda Islam terkooptosi dengan narasi radikalisme dan terorisme yang dilekatkan pada Islam.
Kemudian adanya arus moderasi beragama yang dijadikan alat sebagai menangkal radikalisme oleh Barat, sehingga menjadikan cara berpikir pemuda Muslim menjadi rancu. Yang jelas-jelas dilarang dijadikan kabur, sehingga tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan alasan open minded dan menghargai pendapat, memandang feminisme, sekularisme dan liberalisme tidak lagi sebagai konsep yang bertentangan dengan Islam.
Seharusnya Gen Z mempunyai modal besar sebagai agen perubahan, termasuk membangun sistem kehidupan yang sahih. Tetapi demokrasi telah menjauhkan gen Z dari perubahan yang hakiki hanya dengan Islam kafah, dan hanya dengan sistem Islam generasi dan umat manusia akan selamat. Jelas bahwa demokrasi adalah sistem zalim, yang bersembunyi di balik narasi kedaulatan di tangan rakyat, padahal sejatinya anti rakyat dan jauh dari keadilan.
Berbeda sekali dengan sistem Islam, yang tegak diatas akidah dan aturan-aturan Islam yang menempatkan Allah Swt. sebagai pembuat hukum dan undang-undang. Dapat dipastikan bahwa hukum Allah lah yang mampu menjadikan sebagai solusi tuntas dalam mengatasi permasalahan kehidupan. Adil dan membuat ketenteraman bagi seluruh manusia bahkan seluruh makhluk di dunia ini tanpa pengecualian.
Oleh karena itu gen Z membutuhkan adanya partai yang bisa membina secara sahih, yang mendorong terbentuknya gen Z punya kepribadian Islam, yang membela Islam dan membangun peradaban Islam. Gen Z layak untuk menjadi agen perubahan dan menjadi duta Islam, yang akan menyampaikan syiar Islam ke tengah-tengah umat.
Seharusnya gen Z ikut bergabung dengan partai politik yang sahih, yang berkonstribusi untuk membangun kehidupan masyarakat bernegara dalam mewujudkan tatanan dunia baru untuk memperjuangkan syariat Islam kaffah. Serta menjadikan partai politik yang berideologi Islam sebagai wadah perjuangan untuk kebangkitan dan masa depan umat. Semua itu merupakan tanggung jawab negara dalam memenuhi kebutuhan pendidikan politik Islam kepada seluruh rakyatnya, termasuk gen Z. Karena dengan memahami politik Islam umat akan tergerak untuk memperjuangkan penerapan syariat Islam kafah dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






