Revolusi Pendidikan, Menyibak Tabir Kegagalan Sistem Kapitalis

Sistem pendidikan yang berbasis Islam akan memberikan jaminan terbentuknya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara ilmu duniawi tetapi juga cerdas secara emosional dan sosial. Begitupun ilmu duniawi yang diperoleh, akan dimanfaatkan untuk kebaikan dan kesejahteraan umat.
Oleh Saffanah
(Aktivis Pergerakan Mahasiswa di Surabaya)
JURNALVIBES.COM – Pembunuhan, pelecehan, bullying, seolah-olah tak pernah absen bermunculan di beranda pemberitaan. Di tengah semarak Ramadan yang seharusnya menjadi momen meningkatkan ketakwaan, rupanya tidak berlaku bagi sebagian masyarakat yang tetap melakukan aksi bengisnya.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, adanya kasus pemerkosaan seorang siswi SMP asal Lampung dengan penyekapan selama tiga hari dan dilakukan secara bergilir oleh sepuluh pelaku menunjukkan bejatnya moral masyarakat saat ini. Kenyataan bahwa tiga di antaranya merupakan anak di bawah umur menambah miris pemberitaan yang ada.
Di sisi lain, maraknya aksi tawuran ‘perang sarung’ oleh para remaja di berbagai wilayah Indonesia menambah semarak Ramadan, dalam makna negatif. Bahkan di wilayah Bekasi, aksi tersebut memakan satu korban jiwa. Begitu juga di Lampung Selatan dan Jakarta Barat masing-masing memakan satu korban jiwa. Sungguh menyedihkan bukan? Bagaimana bisa generasi muda yang digadang-gadang berada pada masa keemasan untuk dapat membuat perubahan, rupanya merupakan generasi yang berbuat kerusakan dan kriminal? Bagaimana bisa terjadi hal demikian?
Perilaku seseorang mencerminkan pemikiran yang ia miliki dan pemikiran seseorang bergantung dengan informasi yang diterima. Sebagai seorang anak, tempat utama memperoleh informasi dan pembelajaran ialah dari sekolah. Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2023 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kenyataannya, sistem pendidikan yang saat ini diterapkan merupakan sistem pendidikan berasaskan sekuler kapitalisme. Dalam ranah pendidikan sistem ini memiliki standard sekolah yang memberikan label anak didik sebagai seseorang yang pintar atau bodoh, berhasil atau gagal, dilihat dari nilai.
Ketika menempuh jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, seorang anak akan dikatakan berhasil ketika memiliki nilai di atas KKM, dan akan memperoleh apresiasi ketika memperoleh nilai sempurna. Begitupun ketika di jenjang perguruan tinggi, akan merasa berhasil ketika IP yang diperoleh di atas 3,5 atau dikatakan membanggakan ketika memenangkan berbagai ajang perlombaan, membawa nama baik kampus di kancah nasional maupun internasional.
Sistem pendidikan saat ini hanya peduli pada apa yang dihasilkan anak didiknya, tidak peduli bagaimana proses perolehannya. Selagi hasilnya baik, maka anak tersebut akan dikategorikan baik. Sebaliknya, apabila hasil tidak baik, meskipun anak didik tersebut sudah berusaha dan berjuang keras tetap akan dikategorikan sebagai anak yang bodoh atau malah dikatakan gagal.
Begini lah potret kapitalisme dalam sistem pendidikan, hanya akan memproduksi anak didik dengan nilai gemilang tanpa memperhatikan bagaimana proses perolehan maupun bagaimana karakter yang terbentuk.
Perkawinan antara kapitalisme dan sekularisme dalam sistem pendidikan pada akhirnya memperparah situasi yang terjadi.
Sekularisme dapat diartikan sebagai pemisahan antara agama dan kehidupan, ditunjukkan dengan minimalnya jam mata pelajaran agama di sekolah maupun pendidikan tinggi. Sekularisasi ini juga tampak dari terpisahnya sekolah negeri dan sekolah agama. Namun, sangat disayangkan juga sekolah agama tidak menjamin penerapan ilmu Islam yang disampaikan karena kurikulum sekolah pun turut menyesuaikan dengan kurikulum nasional yang berasaskan kapitalisme yang mengagungkan nilai dan prestasi.
Hal inilah yang menjadikan anak didik tidak memiliki bekal agama yang cukup untuk mengaitkan perilakunya dengan ilmu agama. Kemudian menjadi pemicu seorang anak yang memiliki tekanan untuk mendapat hasil dan nilai yang baik, akhirnya menghalalkan segala cara tanpa mempertimbangkan apakah perbuatannya melanggar norma agama atau tidak. Mengakibatkan terjadinya degradasi moral pada peserta didik.
Sistem pendidikan yang seharusnya memiliki orientasi tidak hanya mencerdaskan secara keilmuan tetapi juga secara emosi, sosial, dan moral, nyatanya tidak memenuhi hal tersebut karena hanya berorientasi pada ‘hasil’ dan acuh pada aspek lainnya. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena rusaknya generasi saat ini akan menjadi gambaran semakin rusaknya generasi-generasi setelahnya. Namun sayangnya, hingga saat ini belum ada langkah konkret dari negara untuk dapat mengatasi secara tuntas hingga akar dari masalah yang ada.
Islam sebagai agama yang sempurna tentu memiliki seperangkat solusi untuk segala permasalahan umat, begitupun permasalahan degradasi moral generasi saat ini. Dalam Islam, sistem pendidikan sebagai sumber informasi generasi merupakan sistem pendidikan yang berasaskan Aqidah Islam. Penanaman akidah yang kuat serta metode pengajaran talqiyan fikriyan akan mampu membangun pemahaman anak didik tentang kehidupan sekaligus menjadi landasan sikap dan perilaku mereka, sehingga pengaitan antara ilmu agama dan kehidupan akan berjalan dengan baik.
Sistem pendidikan yang berbasis Islam akan memberikan jaminan terbentuknya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara ilmu duniawi tetapi juga cerdas secara emosional dan sosial. Begitupun ilmu duniawi yang diperoleh, akan dimanfaatkan untuk kebaikan dan kesejahteraan umat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tokoh-tokoh Islam pada era ketika Islam diterapkan dalam kehidupan beberapa abad silam, kenyataan bahwa Islam menjadi mercusuar peradaban merupakan bukti keberhasilan ketika Islam diterapkan.
Selain penerapan sistem pendidikan Islam, tentu diperlukan dukungan penerapan Islam dalam berbagai sistem kehidupan lainnya, yaitu sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, dan lain sebagainya. Karena bagaimanapun sistem-sistem tersebut saling berkesinambungan dan saling menopang satu dengan lainnya. Maka dari itu, ketika negara memahami bahwa memiliki generasi berkualitas merupakan hal yang krusial bagi negara, sudah sepatutnya dilakukan revolusi dalam sistem-sistem negara untuk berganti dengan akidah Islam secara keseluruhan.
Dengan demikian bisa dikatakan Islam adalah solusi konkrit untuk mengatasi kegagalan sistem pendidikan masa kini dalam mencetak generasi. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






