Ibu Gorok Anak, Hilangnya Fitrah Keibuan di Sistem Kapitalisme

Hidup dalam naungan sistem gagal akan berdampak pada setiap lini kehidupan. Tidak terkecuali pada fitrahnya seorang ibu yang tercabut paksa. Maka, kita menyadari bahwa aturan Allah sajalah yang membawa kebaikan dan keberkahan kepada seluruh manusia di muka bumi ini.
Oleh Nelliya Azzahra
(Penulis)
JURNALVIBES.COM – Beberapa waktu ini kembali kita dihadapkan pada peristiwa yang mengiris hati dan menguras emosi. Dimana seorang ibu tega menggorok ketiga buah hatinya hingga menimbulkan korban satu orang, sedangkan dua lainnya mengalami luka serius. Pelaku adalah seorang ibu muda (35) tahun berinisial KU. Peristiwa mengerikan ini terjadi di Brebes, Jawa Tengah.
Ahli Psikologi Forensik, Reza Indra Giri Amriel mengimbau, kepada pihak kepolisian untuk memeriksa lebih lanjut kejiwaan pelaku. Walaupun dari berita yang ada, penyebab pelaku melakukan tindakan sadis tersebut kepada anaknya karena alasan ekonomi, kesulitan hidup.
Sebenarnya kejadian mengerikan ini bukanlah yang pertama kali. Namun, sepertinya tidak ada solusi pasti terhadap permasalahan ini. Seperti apa yang disampaikan Reza Indra Giri.
“Kasus serupa saat seorang ibu di Jabar meracuni ketiga anaknya. Tapi, mungkin ada kondisi psikologi abnormal tertentu,” kata Reza Indra Giri kepada wartawan. Dilansir oleh Republika.co.id (Ahad, 20/3/2022).
Allah memberikan hak istimewa kepada perempuan yaitu dengan kepercayaan untuk bisa mengandung dan melahirkan, serta mendapat banyak pahala karena hal tersebut.
Hak istimewa tersebut Allah percayakan kepada perempuan sebagai fitrahnya menyayangi, mengasihi dan mencintai anak-anak mereka.
Namun, apa yang terjadi ketika fitrah itu tercabut dari seorang ibu, maka yang terjadi adalah ibu menjadi ancaman untuk anak-anak mereka sendiri. Ibu yang seharusnya menjadi tempat anak-anak bermanja, berkasih sayang malah menjelma menjadi pembunuh.
Permasalahan ini bukan sekadar masalah kejiwaan individu semata, melainkan masalah ini muncul karena beratnya beban di pundak seorang ibu yang mana kehidupan di sistem saat ini terasa semakin sulit dan mencekik. Kejiwaan seorang ibu terganggu disebabkan himpitan ekonomi menandakan negara abai dan gagal mengayomi rakyat.
Seharusnya, negara dapat menjamin kesejahteraan rakyat. Dengan itu, ibu fokus pada tugasnya sebagai ummun warabbatul bait tanpa ikut memikirkan persoalan ekonomi.
Hari ini di sistem kapitalisme bahkan tak sedikit dari ibu-ibu yang terpaksa bekerja demi membantu sang suami menopang ekonomi keluarga. Karena lelah yang mendera, tak jarang hal itu menimbulkan stres dan depresi. Kemudian ditambah dengan lemahnya penjagaan akidah Islam.
Dalam menjalani lika-liku kehidupan, terkadang fakta yang diterima tidak selalu sejalan dengan apa yang diinginkan dan diharapkan. Terkadang kejadian menyakitkan, tidak adil, dan sebagainya sering menghampiri hidup. Lemahnya suasana keimanan memacu ketidakridhoan terhadap qadha Allah yang berujung pada kekecewaan.
Namun begitu jauhnya kehidupan manusia saat ini dari penciptanya membuat kerusakan dimana-mana, termasuk rusaknya akal, pemikiran juga perasaan. Sistem sekuler yang memisahkan kehidupan dari agama jelas menjadi penyebabnya.
Manusia digiring untuk melakukan perbuatan bebas tanpa menyadari hakikatnya sebagai hamba yang lemah dan pastinya membutuhkan aturan Sang Pencipta.
Berbeda dalam Islam yang memberikan jaminan kesejahteraan terhadap rakyat, penjagaan akidah, darah, dan pemimpin dalam Islam sangat bertanggung jawab. Sebab setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban kelak.
Ibn Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah Saw. berkata :
”Kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dirumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam mengelolaharta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Oleh karena itu kalian sebagai pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.“ (HR. Muslim)
Belajar dari kasus yang ada, sudah selayaknya untuk sadar bahwa hidup dalam naungan sistem gagal akan berdampak pada setiap lini kehidupan. Tidak terkecuali pada fitrahnya seorang ibu yang tercabut paksa. Maka, kita menyadari bahwa aturan Allah sajalah yang membawa kebaikan dan keberkahan kepada seluruh manusia di muka bumi ini. Wallahu a’lam bishshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






