Motivasi

Hakikat Kehidupan: Duniawi vs Ukhrawi

Sistem kapitalisme yang mengatur dan mengaitkan segala sesuatu dengan materi, keuntungan, dan uang membuat pola pikir masyarakat menjadi fokus kepada “bagaimana saya bisa memperoleh keuntungan (uang) dari aktivitas ini”.


Oleh Fatiha Zahra Zulfi

JURNALVIBES.COM – Life. Mengapa manusia hidup? Untuk apa manusia hidup? Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut semakin berganti zaman semakin kabur. Alur kehidupan manusia bermuara pada satu kata, materi.

Jika kita menanyakan kepada masyarakat umum tentang makna kehidupan atau lebih spesifiknya tentang makna kesuksesan, maka jawabannya tidak akan jauh-jauh dari materi. Pandangan hidup yang berorientasikan materi, seperti hidup untuk memperoleh pekerjaan sehingga menjadi mapan, lalu menjadi kaya, punya banyak uang, terkenal banyak orang, dan sebagainya. Jawaban tersebut wajar keluar selama kehidupan manusia masih diatur dengan sistem sekarang ini.

Sistem kapitalisme yang mengatur dan mengaitkan segala sesuatu dengan materi, keuntungan, dan uang membuat pola pikir masyarakat menjadi fokus kepada “bagaimana saya bisa memperoleh keuntungan (uang) dari aktivitas ini”. Contoh mudahnya, tren fashion di tengah kalangan remaja selalu berubah-ubah, diatur oleh trend setter berdasarkan kepentingan industri-industri yang bergerak di bidang kecantikan.

Sejatinya, apa makna hakiki dari hidup kita ini? apakah sekadar memenuhi hasrat jasmani dan hawa nafsu semata. Apakah sekadar kenikmatan dunia semata. Padahal kita tahu bahwa segala yang ada di dunia ini memiliki akhir, sedangkan semua itu tidak menghantarkan kepada kebahagiaan abadi. Maka perlu bagi kita menjawab 3 pertanyaan besar tentang makna kehidupan, yang apabila kita mampu menjawabnya akan mengantarkan kita pada kesuksesan dunia akhirat, kesuksesan sejati.

Uqdatul Kubro namanya. Bisa diartikan, “3 pertanyaan mendasar dalam hidup manusia”, yaitu pertanyaan dari mana kita berasal, mau ngapain kita di dunia, dan akan ke mana kita nanti. Ketiga pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan benar dan tepat cukup dengan satu kata, ALLAH.

Dari mana manusia berasal. Manusia berasal dari Allah. Allah lah yang menciptakan kita, sebuah organisme kompleks yang tidak mungkin diciptakan oleh makhluk hidup lain selain Sang Khaliq. Mengapa bisa disimpulkan begitu? Karena proses penciptaan manusia sudah terungkap dalam Al Quran surat Al Mukminun ayat 12-14, jauh sebelum para ilmuwan di dunia berhasil membuktikannya secara ilmiah.

Mau ngapain manusia di dunia. Sekali lagi, jawabannya Allah. Sebagaimana surat Adz Dzariyat ayat 56, tujuan hidup manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Sebagai wujud penghambaan kita, rasa takut kita, serta rasa syukur kita atas segala nikmat dan pertolongan-Nya.

Beribadah di sini bukan lah sekadar ibadah mahdhah saja, melainkan menjalankan seluruh syariat-Nya yang tercantum dalam Al Quran dan hadis. Sebagaimana alat elektronik yang memiliki manual book, hidup manusia juga memiliki buku tersebut yakni Al Quran dan hadis.

Manusia juga dibekali akal dan perasaan agar bisa membedakan mana yang halal mana yang haram. Mana yang wajib, sunah, mubah, makruh, dan mana yang haram.

Dari seluruh ‘fasilitas’ tersebut, maka manusia harus menjalankan syariat-Nya, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua itu harus dijalankan secara kafah, tidak tebang pilih.

Terakhir, akan ke mana manusia setelah ajalnya. Tentu jawabannya tetap sama, Allah. Allah lah yang menciptakan manusia. Maka bukan hal yang mustahil apabila Allah mematikan dan menghidupkan kembali makhluk ciptaannya ini.

Manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak atas seluruh perbuatannya sebab akal yang dimilikinya. Semua anggota badan akan bersaksi, dan mulut tidak dapat menginterupsi dengan seribu alasan. Pada masa itu, hanya syafaat dan amal kebaikan lah yang dapat menolong dan membawa manusia menuju surga-Nya.

Oleh karena itu, makna kehidupan ini luas, tidak stuck pada urusan dunia saja. Ada akhirat yang menjadi tempat hidup kekal kita. Dunia hanya ibarat tempat berteduhnya seorang safar di perjalanannya menuju lokasi yang ditujunya.

Maka salah besar apabila manusia mengabdikan dirinya untuk meraih kesusksesan dunia semata, padahal dunia bukan lah lokasi tujuan hakikinya. Semoga kita termasuk orang yang senantiasa diberikan hidayah dan keistiqomahan dalam menjalani hidup ini. Jangan sampai makna kehidupan kita ini baru berhasil kita tafsirkan saat maut sudah di ujung kerongkongan. Naudzubillah min dzaalik.

Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button