
Penerapan aturan Islam secara sistematis secara sempurna akan melahirkan individu yang bertakwa serta mencetak generasi yang memiliki visi hidup yang jelas (visioner) yang akan menjadi tonggak bagi peradaban bangsa.
Oleh Anna Ummu Fadan
(Pendidik Pundong, Bantul Yogyakarta)
JURNALVIBES.COM – Dewasa ini, bullying menjadi sebuah istilah populer yang bermakna kekerasan di kalangan pelajar. Seorang pelajar dikatakan sebagai korban bullying ketika ia diketahui terkena tindakan negatif oleh seorang pelajar atau sekelompok pelajar lain. Tindakan tersebut termasuk melukai atau membuat korban merasa tidak nyaman baik secara verbal, fisik maupun tindakan lain seperti memasang muka dan melakukan gerakan tubuh yang melecehkan atau mengasingkan korban dari kelompoknya.
Kini bullying terjadi tidak hanya sesama pelajar. Seperti baru ini telah minimpa pada seorang nenek di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, tega menganiaya seorang nenek. Aksi penganiayaan ini viral di media sosial. Parahnya lagi dari en pelajar tersebut salah satu diantaranya juga telah merekam video aksi temannya dan di sebar di sosial media. (CNNIndonesia, 20/11/2022)
Entah apa yang ada di benak para pelajar itu, namun yang pasti ini telah menambah potret buram pendidikan di negeri ini. Tak mengherankan, kini dunia pendidikan kembali digemparkan oleh kasus bullying. Disadari atau tidak, kasus semacam ini kerap kali terjadi di dunia pendidikan yang sampai saat ini belum ada tindakan nyata untuk mencegahnya sehingga kasus bullying berulang kali terjadi setiap tahunnya.
Bahkan lebih mirisnya, hari ini bullying yang terjadi sudah mengarah ke ranah kekerasan fisik. KPAI mencatat dalam kurun waktu sembilan tahun dari 2011 sampai 2021 ada 39.381 pengaduan. Untuk bullying baik di pendidikan maupun sosial media mencapai 2.773 laporan. Januari sampai Februari 2022, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak. Seperti siswa yang jarinya harus diamputasi, kemudian siswa yang ditemukan meninggal di gorong-gorong sekolah, serta siswa yang ditendang lalu meninggal. Kini seorang nenek yang ditendang. Dengan alasan hanya sepele. Tentunya ini menjadi keprihatinan bersama.
Sinergi dari Semua Pihak untuk Generasi Berkualitas
Jika kita melihat perilaku mereka, tentu dada kita akan merasa sesak. Mengapa ada generasi yang berbuat keji seperti itu? Sudah tak punya malu atau, sudah hilang kah keimanan dalam dada mereka? Namun perlu kita ketahui bersama, sebenarnya mereka semua adalah korban dari kesalahan penerapan sistem saat ini. Mengapa demikian?
Pertama, pendidikan yang sekuler (memisahkan agama dari pendidikan) menjadi akar persoalan yang mempengaruhi perilaku siswa yang semakin sulit diatur. Siswa yang tidak diberikan pendidikan, namun tidak bersinergi dengan pendidikan agama menjadi hasil dari sekularisasi di dunia pendidikan. Alhasil, output yang dihasilkan dari pendidikan ini adalah siswa yang jauh dari pemahaman agama, terkikis akidahnya, bahkan berani melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama.
Kedua, media/tontonan saat ini juga cenderung sekuler bahkan tanpa filter. Anak bebas mengakses tontonan yang sangat tidak mendidik seperti film tawuran, pacaran, seks bebas, dll. Tentu semacam ini akan menjadi faktor dari perbuatan asusila yang menyerang generasi bangsa saat ini. Pada akhirnya tontonan seperti itu mudah ditiru dan dipraktekkan dalam kehidupan nyata.
Ketiga, tidak adanya ketakwaan individu, masyarakat, dan negara. Penerapan sistem sekuler-liberal di segala bidangnya akan melahirkan generasi yang sekuler dan liberal. Mereka diberi kebebasan dalam menjalani kehidupan yang mereka inginkan. Tentu, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan tanpa batas dalam segala aspek. Termasuk aspek bertingkah laku. Ditambah lagi dengan adanya payung hukum HAM, maka akan menjadikan generasi berbuat semaunya bahkan berbuat kekerasan sekalipun dengan dalih hak asasi.
Maka, jangan heran jika potret generasi saat ini jauh dari harapan. Generasi yang seharusnya menjadi tonggak peradaban, kini berubah menjadi generasi brutal tanpa arah. Generasi diserang dari berbagai arah dengan suntikan paham sekularisme. Ini sudah menjadi problem akut tak hanya di Indonesia melainkan tingkat dunia.
Maka Islam memandang bahwa menjaga generasi bukan hanya tugas orang tua maupun guru. Tetapi juga butuh peran negara dan masyarakat. Negara memiliki andil yang sangat besar dalam menyaring segala tontonan di media apapun yang berpengaruh besar terhadap pembentukan generasi. Tak hanya sekedar memfilter media, namun negara juga punya tanggung jawab besar untuk melindungi generasi dari segala ancaman yang akan terjadi.
Begitupun masyarakat, mereka juga memiliki andil yang besar untuk menasehati, mengajak pada kebaikan, dan mencegah tindakan yang buruk. Sebab, jika hanya orangtua yang berperan dalam menjaga generasi muda, sedangkan lingkungan masyarakat dan negaranya tidak mendukung, maka tidak menutup kemungkinan anak akan terkontaminasi dengan pengaruh buruk dari lingkungan sekitar.
Oleh sebab itu, peran orangtua sangat penting dalam membentuk generasi yang baik. Dukungan sistem kehidupan yang diterapkan negara dan kontrol masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang kondusif juga sangat diperlukan. Tentu, sistem kehidupan yang berasal dari Al-Khaliq (Sang Pencipta) yang akan membawa kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam.
Sedangkan penerapan aturan Islam secara sistematis secara sempurna akan melahirkan individu yang bertakwa serta mencetak generasi yang memiliki visi hidup yang jelas (visioner) yang akan menjadi tonggak bagi peradaban bangsa. Generasi yang diliputi rasa iman dan takwa tidak akan berani melakukan tindakan amoral dan keji karena di dalam hati mereka sudah tertanam kebaikan, dan diliputi rasa takut kepada Allah Swt. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






