
Apa yang harus aku lakukan?
Apa lagi?
Oleh: Alfi Majiidah (Pelajar Kota Sydney, Australia)
Perasaan rapuh bernostalgia
Akan gemerlap suasana lalu
Kesendirian menundukkan rasa
Rasa kehilangan melampaui masa
Ibu…
Pernah mata ini berfokus pada pintu asing
Teringat engkau terbaring lemah di sana
Tak tahan aku memandang badan ringkihmu
Ya, lilitan selang yang mencoba membantu
Ibu…
Sekejap aku tenggelam dalam malam
Ruang sunyi berisikan kabut mencengkeram
Apa yang harus aku lakukan?
Apa lagi?
Aku tidak bisa menghindar
Badai ini sangat besar
Bahkan, telah menghancurkan kota kebahagiaan
Engkau meninggalkan aku
Saat raga ini belum sanggup merelakan
Belum mengerti apa itu arti keikhlasan
Kini, aku menjadi insan layu yang merindu
Aku bak dedaunan kering
Rela terinjak dan pasrah terasing
Tapi, aku terlupa
Maha Pencipta selalu dampingi hamba-Nya
Ibu…
Kelak bunga akan bermekaran
Siur lambai sapaan oleh rerumputan
Alunan tetesan hujan menyambut kedatangan
Kita akan membangun kota baru, ibu
Ya di sana, yang tak ada pembatas
Antara aku, ibu, dan Tuhan
Ibu…
Aku aku tetaplah insan perindu rasa
Aku menanti itu pada sang masa
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@journalvibesdotcom atau redaksi@jurnalvibes.com






