CerpenSastra

Cermin

Orang tersebut menawarkan Keyla untuk masuk ke universitas secara cuma-cuma hanya dengan membuat satu lukisan lagi sesuai dengan keinginannya. Rupanya orang tersebut adalah seorang dosen jurusan desain di salah satu universitas terkemuka, ia telah jatuh cinta pada lukisan-lukisan Keyla.


Oleh Nadindra Aliya Putri

JURNALVIBES.COM – Tidak ada orang hebat yang lahir melalui kemudahan. Mereka dibentuk melalui tantangan, bahkan tak jarang berkubang air mata.

Related Articles

Seberkas cahaya mentari menerobos ke dalam ruangan berukuran 3 x 3. Seorang perempuan dengan paras cantik yang sadar dengan kehangatan tersebut terlihat sedang membuka jendela kamarnya. Ia tersenyum membalas sapaan sang surya yang bersembunyi di balik Monas.

Waktu menunjukkan pukul 07.00, yang artinya ia harus bersiap ke sekolah. Sebelum berangkat, ia selalu berdiri terdiam di depan benda yang memantulkan bayangan dirinya.

Emblem pada seragamnya yang bertuliskan Keyla membuat bibirnya sedikit tertarik melawan arah gravitasi. Ragu-ragu ia ubah ekspresi itu. Namun gaya gravitasi telah berhasil mengambil senyuman Keyla lagi. Sadar akan suara klakson di depan rumahnya, ia segera keluar dan siap memulai semester akhir tahun ganjil ini.

Handphone-nya terus bergetar mengganggu pagi hari Keyla yang tenang. Layar kaca itu terus menampilkan notifikasi berita resesi yang membuat Keyla memutar bola matanya malas.

Gedung tinggi berwarna biru muda itu menyadarkan Keyla dari lamunan. Ia segera turun dari mobil jemputannya. Keyla menjalani kehidupan di sekolahnya seperti siswa biasa lainnya. Belajar, mengerjakan tugas, berorganisasi, dan pulang ke rumah di sore hari.

Kebiasaannya di pagi hari pun tak berubah, selain berdiri di depan cermin, ia juga selalu menatap koleksi tropi dengan berbagai bentuk indah yang terpajang rapi di lemari kaca.

Ya, dia anak yang berprestasi. Dengan paras cantik miliknya, Keyla memang terlihat nyaris sempurna, namun ada yang unik darinya. Berbeda dengan teman-teman sekolahnya yang sangat bersemangat mengikuti olimpiade untuk berlomba-lomba menjadi siswa berprestasi, ia lebih senang menghabiskan waktunya sendiri dengan jari tangan yang terus bermain kuas pada lembaran sketchbook-nya.

Notifikasi pesan di handphone-nya telah mencuri perhatian Keyla. Matanya terbelalak dan dahinya terlihat berkerut ketika melihat notifikasi yang kali ini bukan lagi judul berita monoton. Ternyata pesan tersebut berasal dari salah satu universitas yang berisi undangan untuk mengikuti suatu kompetisi, dengan jaminan akan diterima di universitas tersebut jika meraih kemenangan.

Seketika pikirannya kembali pada peristiwa dua tahun silam. Pada l saat itu masker menutupi wajah manusia, dan dsaat itu pula kejadian pahit menimpa Keyla. Alasan dari pihak universitas tentang pengiriman undangan tersebut semakin membuatnya teringat akan trauma masa lalu.

Ia ingat betul saat itu adalah kali pertama Keyla melakukan lomba lukis secara online. Keyla adalah seorang pelukis hebat yang sudah sering menjadi juara. Apalagi, bakatnya itu sudah diasah sejak pendiri Apple, Steve Jobs, memperkenalkan iPhone untuk pertama kalinya.

Namun, pada perlombaan tersebut, teknis penilaian yang digunakan adalah dengan melihat jumlah pendukung atau jumlah orang yang menyukai karya tersebut, dan karya Keyla yang pada saat itu tidak banyak pendukungnya tentu gagal menjadi pemenang.

Sejak itulah ia merasa tak mendapat kepercayaan dan dukungan dari teman-temannya. Mulai saat itu pula semua hasil karya lukisannya hanya disimpan di dalam lemarinya. Kabarnya, pihak universitas tempat ia mengikuti lomba kala itu mengakui bahwa karya Keyla sangat pantas diberikan apresiasi. Hal itu juga yang menjadi sebab surat undangan masuk universitas jalur prestasi ditawarkan kepada Keyla.

Nyatanya rasa trauma telah bersemayam dalam dadanya. Tentu itu kesempatan yang sangat berharga, namun rasa takut yang ia rasakan jauh lebih besar dibanding keinginannya untuk menerima tawaran tersebut. Ia khawatir tidak akan mendapat banyak dukungan dari teman-temannya. Apalagi dengan teknis penilaian yang sama pada lomba yang ditawarkan. Pda akhirnya, ia menjawab kebimbangan hatinya dengan menolak tawaran tersebut. Gelisah, namun ia tak berdaya.

Tak lama setelah itu, Keyla mendapat kabar bahwa kawan lombanya di dua tahun lalu itu berhasil diterima di universitas yang pernah ia tolak. Padahal kawannya itu juga tidak menang, bahkan tidak mendapat pengakuan secara langsung dari pihak universitas. Muncul rasa penyesalan dalam dirinya. Namun hal itu justru menjadi pemantik bagi Keyla untuk menghilangkan rasa traumanya. Ia ingin menunjukkan karyanya kepada seluruh dunia.

Coretan indah di kanvas miliknya kini tak lagi terabaikan. Ya, ia menjual lukisan-lukisannya. Bahkan ia kini mulai aktif melukis di kanvas lagi.
Di antara hari-hari menyenangkan milik Keyla, ada satu hari di mana seorang lelaki muda dengan rambut pirang menghampirinya setelah melihat salah satu lukisan miliknya. Orang tersebut menawarkan Keyla untuk masuk ke universitas secara cuma-cuma hanya dengan membuat satu lukisan lagi sesuai dengan keinginannya.

Rupanya orang tersebut adalah seorang dosen jurusan desain di salah satu universitas terkemuka, ia telah jatuh cinta pada lukisan-lukisan Keyla. Tentu saja pada kesempatan kedua ini, ia tidak mau menyia-nyiakannya.
Beberapa hari kemudian selang perayaan kelulusan sekolah, Keyla berdiri menatap bayangan dirinya. Ia melihat jas almamater kuning yang digunakan oleh seorang perempuan manis dengan senyuman di wajahnya.

Senyuman itu kini berbeda. Senyuman yang pernah lenyap kini kembali terbit di wajah Keyla. Senyuman yang lepas dan menunjukkan rasa percaya diri yang terpancar darinya. Dari cermin itu Keyla bisa melihat bahwa dirinya adalah seorang perempuan luar biasa, dan sangat layak untuk bersinar.

Rasa trauma yang menyelimuti tak lagi menjadi halangan dalam menggapai mimpi. Justru perasaan tersebut yang menjadi api semangat dalam dirinya untuk melompat lebih jauh.

Dia menyadari tidak ada orang hebat yang lahir melalui kemudahan. Mereka dibentuk melalui tantangan, dan tak jarang berkubang air mata. Ikhtiar langit yang akan menyempurnakan proses ikhtiar di dunia akhirnya mengantarkan pada gerbang kesuksesan.

Bogor, 15 Maret 2023

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button