Kerusakan Lingkungan Akan Terus Terjadi, Masihkah Kapitalisme Dipertahankan?

Dalam Islam pembangunan yang akan merusak lingkungan tidak akan dibenarkan meskipun dengan alasan demi pembangunan. Namun Islam mendorong pembangunan dengan dasar ramah lingkungan. Memang ini butuh dana untuk penelitian, sebagai penentu apakah pembangunan layak untuk dilakukan. Keuangan dalam sistem Islam mampu mengatasi masalah biaya yang diperlukan seorang ilmuwan untuk menemukan teknologi ramah lingkungan.
Oleh Aktif Suhartini, S.Pd.I.
(Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)
JURNALVIBES.COM – Sungguh sangat membanggakan, Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi berpidato pada acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Climate Change Conference of The Parties 26 (COP26). Yaitu Konferensi Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia. Ini ajang bergengsi karena dihadiri seluruh kepala negara dunia atau yang mewakili. Undangan ini menandakan negara tercinta Indonesia diakui keberadaannya di kancah dunia. Alhamdulillah, keren sekali.
Dalam pidatonya presiden melakukan klaim telah berprestasi menurunkan deforestasi, namun sangat disayangkan pada waktu bersamaan ada penelitian yang dilakukan oleh dua badan lingkungan Eropa, yang mengkritik pidato Bapak Jokowi. Dua badan lingkungan tersebut mengatakan, ada perbedaan data deforestasi Jokowi dengan data mereka. Data yang diajukan oleh LSM Greenpeace, menyatakan adanya peningkatan deforestasi. Pidato Presiden Jokowi di COP26 dinilai sesuai dengan data satelit bukan data sesungguhnya di lapangan. Bila dijadikan guyonan kalimat santai, anak muda bilang, “Data deforestasi menurun, tapi boong.”
Untuk mempertahankan isi pidatonya, pemerintah terus menyuguhkan kepada publik, data-data yang diharapkan memperkuat kebenaran pidato presiden dan memberikan statement, LSM yang berpandangan berbeda dianggap menyerang pemerintah. Seakan menutup diri untuk kritik membangun sekalipun.
Perdebatan ini hanyalah bisa dibuktikan kebenarannya dengan membandingkan kenyataan hidup yang ada dan yang mereka rasakan. Rakyat hanyalah butuh hasil nyata berupa kebijakan yang utuh menyeluruh untuk memastikan penyelamatan alam dan perbaikan kehidupan mereka. Bukan hanya angka angka teori yang indah didengar dan dilihat mata saja. Tetapi kehidupan yang layak, serta hutan yang asri sebagai paru-paru dunia, itulah yang dibutuhkan. Sungguh sangat menyejukkan hati di saat seluruh dunia menjaga ekosistemnya demi kelangsungan hidup dunia.
Maka, jangan hanya karena memikirkan kepentingan pribadi, mengeruk sumber daya alam hingga sampai merusak kehidupan khalayak ramai. Untuk itulah dibutuhkan komitmen semua pihak dan negara dalam rangka menurunkan emisi karbon, termasuk deforestasi.
Memang, mereka itu disebut sebagai penggagas KTT dengan tujuan menghentikan emisi karbon sangatlah mulia, karena sudah sangat membahayakan dan diprediksi sebagai BOM waktu. Pencemaran udara, namun justru merekalah sebagai negara industri pembuang jutaan ton emisi karbon. Astagfirullah.
Inilah manusia rakus yang menyebabkan permasalahan perubahan iklim terjadi. Mereka sebagai subjek pembuat kerusakan di bumi. Tanpa berpikir panjang melakukan penambangan besar-besaran dan mengonsumsi energi fosil berlebihan demi mengeruk keuntungan materi, yang didukung dengan perizinan dari pemerintah dan dinilai sumbangan pemerintah dalam kerusakan bumi.
Peristiwa ini tidaklah mengherankan, karena memang gaya hidup liberalisme yang mengagungkan kebebasan turut menyumbang perubahan iklim yang terjadi saat ini, karena kehidupan sistem yang memiliki pemahaman bebas mengeluarkan pendapat, bebas berekspresi akhirnya melahirkan sikap manusia yang serakah, tanpa memikirkan kehidupan orang lain dan sekitarnya. Mereka bebas menghabiskan dan memanfaatkan energi.
Semua ini karena sekularisme yang mengajarkan manusia untuk menjauhkan peran agama dari kehidupan. Merasa dirinya pintar dan mampu akhirnya menggunakan akalnya dengan tidak terkendali. Memuaskan semua kebutuhannya tanpa menyadari akan menghasilkan masalah baru. Oleh sebab itu, masalah cara pandang mereka inilah akar masalahnya sehingga pola pikir mereka harus dituntun kepada pola pikir islami, yang berpikir untuk kemaslahatan umat.
Apabila manusia menganggap mengemban ideologi kapitalisme hal yang paling tepat karena harus mengikuti perkembangan zaman maka akal manusia pastilah akan dijadikan sebagai landasan berpikir. Kebebasan perilaku lebih diutamakan dan kepemilikan materi menjadi tolak ukur keberhasilan dan kebahagiaan seseorang.
Selama akal dijadikan sebagai barometer pemuas nafsu dan cinta dunia, percayalah kerusakan lingkungan akan terus terjadi. Masihkah menjungjung tinggi kapitalisme tetap kita pertahankan yang akhirnya akan merusak kehidupan dunia?
Apabila kita sama-sama ingin menjaga lingkungan hidup, maka penggunaan bahan bakar fosil diganti dengan energi baru yang terbarukan, seperti diganti dengan energi angin, surya, pasang surut/gelombang laut, dan nuklir.
Dalam Islam pembangunan yang akan merusak lingkungan tidak akan dibenarkan meskipun dengan alasan demi pembangunan. Tetapi Islam mendorong pembangunan dengan dasar ramah lingkungan. Memang ini butuh dana untuk penelitian, sebagai penentu apakah pembangunan layak untuk dilakukan. Keuangan dalam sistem Islam mampu mengatasi masalah biaya yang diperlukan seorang ilmuwan untuk menemukan teknologi ramah lingkungan. Dana bisa diambil dari baitul maal. Dengan demikian para ilmuwan fokus meneliti dan berkonsentrasi untuk menyelamatkan umat manusia.
Maka, sudah waktunya kita jadikan Islam sebagai ideologi yang sempurna dan paripurna. Sebagai satu-satunya sistem yang menjaga ekosistem manusia dan melaksanakan pembangunan yang ramah lingkungan. Untuk itu kita perlu memakai Islam sebagai ideologi yang dapat menyelesaikan masalah ini. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






