Opini

Kerjasama dengan Asing untuk Mengatasi Stunting, Apa Bisa?

Dalam sistem Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai asasnya. Negara bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya untuk rakyat. Negara akan mengelola sumber daya alam termasuk mengatur kepemilikan umum yang hasil pengelolaanya akan dikembalikan sepenuhnya kepada rakyat.


Oleh Nabila Sinatrya

JURNALVIBES.COM – Prevalensi angka stunting di Indonesia masih tinggi sampai saat ini. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, pada 2021 angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4 %, atau 5,33 juta balita, yang menurun 6,4% dari angka 30,8%. Presiden menargetkan angka stunting turun menjadi 14% di tahun 2024.

Menurut World Health Organization (WHO), stunting merupakan gangguan tumbuh kembang anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Oleh karena itu pemerintah akan mempercepat penurunan stunting melalui intervensi.

Dilansir dari antaranews.com (23/09/2022), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggandeng sejumlah mitra swasta dan asing untuk memperkuat penanganan penurunan stunting. BKKBN akan bekerja sama dengan Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Yayasan Bakti Barito, dan PT Bank Central Asia Tbk serta Amerika Serikat, melalui United States Agency for International Development (USAID).

Stunting mengancam kualitas generasi bangsa, pasalnya anak dengan stunting ketika dewasa rentan terkena penyakit degeneraitf, seperti diabetes dan hipertensi. Stunting juga mempengaruhi kecerdasan anak, di mana jumlah sel otak anak stunting lebih sedikit. Stunting ini merupakan dampak dari kemiskinan dan kelaparan yang masih membuntuti.

Beberapa program yang telah diluncurkan untuk menurunkan prevalensi angka stunting belum menyentuh akar masalah stunting, yaitu kemiskinan. Karena stunting banyak menimpa keluarga miskin dengan berbagai masalah yang menyertainya seperti lingkungan hidup yang tak layak huni, rendahnya sanitasi, layanan kesehatan, dan pendidikan yang meningkatkan risiko stunting.

Mirisnya, anak stunting masih bermunculan di tengah berlimpahnya kekayaan sumber pangan dan energi. Hal ini semakin menegaskan bahwa ada salah tata kelola perekonomian yang ditopang oleh sistem kapitalisme. Kemiskinan yang terjadi hari ini bukan karena malas bekerja atau kurang beruntung, melainkan akibat pengaturan yang kapitalistik.

Kekayaan alam sangatlah subur baik pertanian, pertambangan, maupun hasil lautnya. Sayangnya, kekayaan itu tidak dapat dinikmati untuk memenuhi kebutuhan rakyat, namun malah lari kepada para kapital yang diekploitasi untuk kepentingan pribadi. Yang kuat makin kaya dan yang lemah makin terpinggirkan. Sehingga untuk bisa hidup sejahtera di sistem kapitalisme, seperti tercukupi gizi, mendapat layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai butuh modal yang tidak sedikit.

Sehingga mustahil jika ingin menyelesaikan stunting tapi negara masih menerapkan kapitalisme. Apalagi menggandeng swasta dan asing hanya menegaskan berlepas tangannya pemerintah dalam mensejahterakan rakyat. Kerja sama dengan asing ini malah membuka peluang untuk mengeksploitasi potensi generasi untuk kepentingan asing.

Hal ini tidak ditemukan dalam sistem Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai asasnya. Negara bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya untuk rakyat. Negara akan mengelola sumber daya alam termasuk mengatur kepemilikan umum yang hasil pengelolaanya akan dikembalikan sepenuhnya kepada rakyat, salah satunya untuk layanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sehingga seluruh elemen bisa mengakses dengan cuma-cuma.

Juga memperluas lapangan kerja yang cukup bagi laki-laki agar dapat memberi nutrisi yang layak untuk keluarganya. Jika masih ada kemiskinan, negara akan mendorong kaum Muslim yang kaya untuk saling menolong dalam mengentaskan kemiskinan. Dengan sistem kesehatan dan lainnya, maka negara akan mampu memberantas stunting dengan tuntas. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button