Food & HealthMotivasi

Kerapuhan Visi Hidup dalam Kapitalisme

Quarter Life Crisis merupakan salah satu bentuk kelemahan akidah umat akibat mengadopsi akidah kapitalis sekuler dan terperangkap dalam gaya hidup Barat.


Oleh Nenden Santi Tresnawati

JURNALVIBES.COM – Kehidupan modern di tengah masyarakat perkotaan pada era globalisasi saat ini menunjukan adanya persaingan yang cukup ketat di antara para pekerja profesional. Menurut perhitungan dari BPS (Badan Pusat Statistik) para pekerja umumnya adalah mereka yang berada pada usia produktif, yaitu rentang usia 15 tahun hingga 64 tahun. Ketika golongan dewasa muda mulai memasuki tahapan kehidupan profesional di dunia lapangan pekerjaan, mereka menghadapi persaingan di dalam pekerjaan dan karir. Hal tersebut membuat kaum dewasa muda menjadi mudah mengalami stres. Dengan demikian, stres pada dunia pekerjaan akhirnya menjadi sebuah fenomena sosial dalam kehidupan modern.

Menurut salah satu badan penatu bernama Zipjet, yang berlokasi di Paris, Berlin, dan London, hasil penelitian yang mereka lakukan mengenai tingkat stres di berbagai macam negara, menunjukan bahwa, Jakarta menempati posisi dengan tingkat stress di urutan ke-18.

Selain faktor pekerjaan, stres atau depresi dapat disebabkan oleh faktor lainnya, seperti yang dikemukakan oleh Robinss (2018) dalam artikel Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementrian Keuangan yang menyebutkan bahwa ada tiga kategori penyebab munculnya stres, antara lain faktor lingkungan, organisasi, dan faktor individu.

Faktor penyebab stres tersebut juga banyak terjadi pada individu usia 25 tahun. Di mana usia tersebut adalah usia yang dapat dianggap sebagai umur yang sakral bagi banyak orang Indonesia, karena usia 25 biasanya menjadi masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Di usia 25 tahun pun, seseorang telah dianggap dewasa sebagai seorang manusia. Maka tak heran juga, apabila di usia yang sudah memasuki seperempat abad akan banyak sekali perubahan dan juga mengambil keputusan-keputusan yang tidaklah sepele atau kecil (Rengganis, 2015).

Pada usia yang mulai memasuki usia dewasa tentu akan banyak keadaan yang berubah. Tuntutan untuk mengambil keputusan akan lebih banyak dihadapi, menentukan banyaknya pilihan di dalam hidup, ternyata mampu menciptakan kegalauan pada diri seseorang di usia sakralnya, yaitu usia 25 tahun.

Kegalauan hidup yang dialami oleh orang yang tengah memasuki atau berusia 25 tahun ini dikenal dengan sebutan “Quarter Life Crisis” (krisis seperempat hidup atau yang biasa disingkat QLC). Mengutip pendapat Dokter Oliver Robinson dari University of Greenwich London, yang dijelaskan oleh urbanhire.com ternyata usia seseorang tidak selalu terjadi ketika individu menginjak usia 25 tahun.

Krisis hidup seperempat abad ini pun tidak jarang membuat seseorang yang mengalaminya menjadi manusia yang penuh pertanyaan tentang dirinya sendiri. Tujuan hidupnya, motivasinya, bahkan kemana arah hidup dia sebenarnya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh LinkedIn di tahun 2017 mengenai QL menunjukan hasil penelitian 75% individu dengan rentang usia 25 hingga 33 tahun pernah atau telah mengalami krisis seperempat kehidupan, dan hal itu terjadi pada rata-rata usia 27 (LinkedIn Corporate Communications Team, 2017) .

Menurut penelitian yang dilakukan oleh LinkedIn, 61% peserta merasakan bahwa menemukan suatu pekerjaan atau karir yang mereka senangi adalah penyebab utama terjadinya quarter life crisis. Hampir 48% mengungkapkan, kebiasaan membandingkan dirinya sendiri dengan teman-temannya yang lebih sukses berhasil membuat diri mereka sendiri merasa cemas.

Adanya beban seperti keinginan berkarir yang lebih baik, kondisi uang yang tidak benar-benar cukup, hubungan relasi yang kurang baik, atau hubungan dengan pasangan kerap kali menjadi sebuah dorongan bagi seseorang yang mengalami depresi. Menjadi lebih nekat untuk melakukan aksi bunuh diri, karena merasa sudah putus asa. Bahkan tak jarang juga yang merasa hilang motivasi dalam bekerja dan menjalani hidup.

Memahami Quarter Life Crisis dengan Kacamata Islam

Quarter life crisis terjadi karena tolak ukur dan pandangan hidup seseorang yang tidak disandarkan pada agama. Rezeki, jodoh, kebahagiaan, dan ajal sudah ditentukan oleh Allah kadarnya untuk setiap manusia. Jika semua manusia itu harus kaya-raya, ganteng/cantik, jadi CEO baru dikatakan hidupnya berhasil, terbayang bagaimana stres dan khawatirnya seseorang hidup dengan standar seperti ini. Sedangkan rezeki tiap orang beda-beda.

Cara pandang sekuler kapitalis membuat manusia jauh dari hakikat hidup ini untuk apa? Agar agama dipisahkan dari kehidupan. Manusia disibukan dengan hal-hal yang bersifat fana yang akibatnya fatal bagi manusia.

Secara fitrahnya manusia adalah hambanya Allah. Kalau kita taat sama Allah dan menjalankan syariat Islam tidak akan ada penyakit sosial quarter life crisis di sistem sekuler kapitalis saat ini. Kita sebenarnya sudah diberi rambu-rambu kalau hidup kita itu hanya untuk beribadah kepada Allah.

Dalam Al Quran surat adz-Dzariyat ayat 56, dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku”.

Ibadah tidak hanya salat, tetapi taat pada aturan yang Allah dalam setiap lini kehidupan. Baik dalam ranah individu, masyarakat, maupun negara. Inilah visi besar seorang mukmin. Jadi tolak ukur kehidupannya adalah rida Allah, bukan mengejar penilaian orang lain.

Dalam Al Quran surat ali-Imran ayat 110, secara jelas Allah menggariskan visi kaum muslimin dengan predikatnya sebagai khairu ummah, melakukan amar maruf nahi munkar dan memegang teguh keimanan pada Rabb-Nya. “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang di lahirkan untuk manusia. (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Selain manusia adalah hamba yang menjadi pengabdi kepada tuannya yaitu Allah. Manusia juga diperintahkan untuk melakukan amar maruf nahi mungkar dan memegang teguh keimanan pada Rabb-Nya, dengan cara berdakwah dan bergabung dengan kelompok dakwah.

Quarter Life Crisis merupakan salah satu bentuk kelemahan akidah umat akibat mengadopsi akidah kapitalis sekuler dan terperangkap dalam gaya hidup Barat. Lemahnya akidah membuat Muslim kehilangan visi hidupnya. Kurang memiliki dorongan untuk bersusah payah meraih rida Allah.

Pandangan mereka menjadi pendek dan terbatas, hanya mampu mengindra kenikmatan duniawi dan fokus hanya memenuhi hajat mereka terhadap dunia saja. Mereka tidak mampu merasakan kerugian ketika Allah telah mencabut kecenderungan mereka untuk terus mengejar amal saleh terbaik bagi perbekalan akhirat.

Waspadalah ketika kita merasa hidup kita seolah-olah selalu saja terkendala dan terhalang dari melakukan ibadah terbaik kepada Allah, karena itu salah satu bentuk murka Allah Ta’ala karena abainya kita.
Wallahu a’lam bishsawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button